Bantah Anggota DPR, Sophia Latjuba Sebut UN Bentuk Kemalasan Pemerintah
Sophia Latjuba di Bali (Instagram @sophialatjuba_88)

Solopos.com, SOLO -- Artis Sophia Latjuba buka suara soal keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim yang menghapus UN mulai 2021 mendatang. Wanita berumur 49 tahun ini memang getol dengan isu pendidikan di Indonesia.

Dia menilai UN memang sudah tidak relevan lagi dilaksanakan untuk mengevaluasi kemampuan siswa di Indonesia. Apalagi dia pernah menemukan seorang siswa sekolah menengah atas (SMA) peserta olimpiade internasional yang tak lulus karena nilai mata pelajaran Matematika di bawah 4.

Berusia 80 Tahun, Mbah Marno Boyolali Jualan Tape Ketan Jalan Kaki Keliling Solo

"Ada anak SMA peserta olimpiade internasional enggak lulus karena nilai matematika enggka ada 4. Padahal pendidikan adalah sebuah proses pembentukan pribadi manusia. UN hanya dibuat oleh seseorang. Menurut saya, UN itu dibuat karena kemalasan pemerintah saja," ujar Sophia di acara Mata Najwa yang ditayangkan Trans7, Rabu (18/12/2019).

Sebaliknya, anggota Komisi X DPR, Sudewo tentu tak setuju dengan penghapusan UN. Dia beralasan jika UN dihapus maka tidak ada lagi tantangan bagi siswa dan guru di Indonesia.

Perempuan Meninggal Setelah Melahirkan di Indekos Karanganyar Pengidap HIV/AIDS?

"Coba bayangkan tidak ada UN, enggak ada tantangan. Tetapi itu [dihapusnya UN] membentuk karakter yang tidak bagus, lembek, tidak punya nilai jual. Maka dengan UN anak-anak tersebut bisa memiliki nilai jual semangat tinggi, nilai etos, kedisiplinan. Coba dibayangkan, Indonesia ini diciptakan untuk anak yang harus punya daya saing yang tinggi. UN itu membangun proses mental siswa," ujar Sudewo.

Menanggapi hal tersebut, Sophia Latjuba justru menyodorkan data dengan adanya UN, sistem pendidikan Indonesia berada di posisi 72 dari 76 negara. Namun, Sudewo menegaskan bukan karena UN, tapi karena isi UN yang harus segera dievaluasi dari hafalan menjadi penalaran.

Melahirkan Tak Dibantu Bidan, Perempuan Ini Meninggal Di Indekos Karanganyar

"Bukan karena UN, tapi isi dari UN yang harus dievaluasi lagi. Saya sepakat dengan Mendikbud, bukan hafalan tapi penalaran harus ada ukuran standar," jawab Sudewo.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom