Ilustrasi penggilingan gabah. (Bisnis)

Solopos.com, JAKARTA — Ilustrasi penggilingan gabah. (Bisnis.com)

Sentra pengolahan beras terpadu (SPBT) atau integrated rice center merupakan tahapan dalam Program Mewirausahakan Petani untuk mendukung petani setelah masa pratanam dan tanam, khususnya pada masa panen dan pasca panen. SPBT ini diproyeksikan membantu meningkatkan produksi beras dan kesejahtaraan hampir 170.000 petani di Kebumen.

SPBT yang akan dibangun memiliki kapasitas produksi beras 3 ton/jam dan akan dikelola oleh kelembagaan berbentuk perseroan terbatas. Bukan hanya mengolah gabah petani, SPBT ini nantinya juga diharapkan mampu menyerap beras medium dari usaha pengolahan beras tradisional setempat.

Alhasil, SPBT akan dapat berproduksi sepanjang musim serta tidak mematikan usaha pengolahan padi setempat. Dalam pembangunannya, SPBT ini juga akan dilengkapi dengan timbangan digital, gudang penyimpanan, perkantoran, dan tempat pembinaan.

Direktur Hubungan Kelembagaan Bank Mandiri Alexandra Askandar menyampaikan bahwa Program Mewirausahakan Petani ini sebelumnya telah dilaksanakan dan dirintis di Jawa Barat yang meliputi Indramayu, Karawang, Purwakarta, Cianjur, Garut, Sumedang, Majalengka, Tasikmalaya, dan Ciamis. Program itu dikoordinasikan oleh BUMN di masing-masing wilayah melalui pembentukan kelembagaan perseroan terbatas.

“Sejalan dengan visi BUMN Hadir Untuk Negeri, kami mengimplementasikan program ini dengan mengusung pendekatan dari petani, oleh petani dan untuk petani. Harapannya, tentu petani akan memiliki kemampuan yang lebih, tidak hanya mengelola lahan pertanian, tapi juga dari sisi manajemen perusahaan,” katanya melalui siaran pers yang diterima Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Rabu (2/10/2019).

Dia menambahkan para petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) disinergikan secara kelembagaan dengan badan usaha milik desa (BUMDes) untuk menghasilkan suatu usaha yang berskala ekonomi dan professional agar mampu meningkatkan nilai tambah bagi petani dan masyarakat sekitar secara berkesinambungan dalam jangka panjang.

Untuk memastikan kualitas hasil tanam pada program SPBT, PT yang dibentuk akan bekerja sama dengan Dinas Pertanian setempat untuk mendapatkan pembinaan tentang perencanaan tanam dan cara budidaya tani terbaik.

Sementara itu, pada permodalan PT tersebut akan didukung oleh Bank Mandiri dan Himbara untuk mendapatkan akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan distribusi Kartu Tani sesuai data dari Kementerian Pertanian/Dinas Pertanian agar petani dapat menikmati pupuk bersubsidi dari PIHC.

“Pendekatan ini telah dijalankan. Di SPBT Pamarican yang didukung oleh program CSR Bank Mandiri misalnya, lembaga PT Mitra Desa Pamarican kini telah membukukan nilai omset penjualan beras berkualitas unggul sebesar Rp18 miliar dari Januari sampai dengan Juli 2019 yang dinikmati bersama oleh petani setempat,” ujar Alexandra.

Sinergi BUMN dan Pejabat Daerah setempat melalui program SPBT, tambahnya, akan terus digalakkan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan para petani di wilayah lain di Indonesia.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Bisnis



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom