Karyawati menghitung uang pecahan Rp100.000 di salah satu kantor cabang Bank Mandiri. (Bisnis-Nurul Hidayat)

Solopos.com, SEMARANG — Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dari masyarakat kian menantang di era suku bunga yang rendah belakangan hari ini. Padahal, bagi perbankan ada dana potensial dari pemerintah daerah yang selama ini lebih kerap disimpan di Bank Pembangunan Daerah (BPD).

Regional CEO Bank Mandiri Jateng & DIY Maswar Purnama menyampaikan salah satu hal yang menjadi tantangan industri perbankan masa kini ialah penghimpunan dana masyarakat. Secara sederhana, bisnis bank ialah mengumpulkan dana di masyarakat, kemudian menyalurkannya dalam bentuk kredit. Keuntungan dan biaya operasional bank diambil dari selisih kedua instrumen tersebut.

Di era suku bunga yang cenderung menurun, kinerja pengumpulan dana dari masyarakat kian menantang. Nasabah menginginkan bunga deposito tetap 7% untuk keuntungan jangka panjang. Di sisi lain, bank harus menyesuaikan besaran bunga dengan keputusan 7DDR, yang diperkirakan akan turun dalam enam bulan ke depan.

“Masyarakat ingin dana yang sifatnya panjang, sedangkan bank ingin jangka pendek karena harus menyesuaikan dengan suku bunga yang turun. Makanya kita harus pandai siasati ini,” tuturnya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) di Kota Semarang, Jawa Tengah, belum lama ini.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Keuangan juga gencar menerbitkan obligasi dengan bunga yang menarik hingga 8,75%. Artinya, bank selain bersaing dengan perusahaan sejenis juga mengalami “perang bunga” dengan pemerintah

Menurut Maswar, pihaknya tidak akan terlalu ambil pusing soal perang bunga. Hal yang terpenting ialah meningkatkan servis, sehingga konsumen semakin loyal terhadap Bank Mandiri. Jumlah nasabah BMRI di Jateng dan DIY mencapai 2,7 juta orang.

Dia pun melihat ada dana potensial dari pemerintah daerah yang dapat disalurkan ke perbankan BUMN, dari sebelumnya hanya ke BPD. Dengan bermitra dengan bank BUMN seperti Bank Mandiri, pemda mendapat kepastian penyaluran kredit.

Pasalnya, loan to deposits ratio (LDR) Bank Mandiri mencapai 97%, sedangkan BPD berkisar 70%. Kredit dari Bank Mandiri tentunya akan disalurkan untuk proyek-proyek di Jateng dan D.I. Yogyakarta, sehingga membantu perkekonomian daerah.

“Kami turut membantu perekonomian daerah. Ada baiknya dana taruh di kami, nantinya akan kami salurkan, sehingga perputaran uang makin banyak. Tentunya penyaluran dana komitmen ke wilayah Jateng dan DIY, sesuali wilayah kerja kami,” paparnya.

">KLIK dan ">LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten