Ilustrasi unit syariah pada Bank Jateng. (Bisnis)

Solopos.com, JAKARTA — PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) mengoptimalkan penghimpunan dana dari berbagai sumber untuk menjaga kondisi likuiditas unit usaha syariah agar tetap stabil.

Direktur Bisnis Ritel dan Unit Usaha Syariah Bank Jateng Hanawijaya mengatakan bahwa perseroan menargetkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) unit usaha syariah dapat mencapai Rp3,87 triliun pada 2019, tumbuh sekitar 39,71% dibandingkan dengan target realisasi pada tahun ini. “Strategi unit usaha syariah Bank Jateng untuk meningkatkan pertumbuhan DPK adalah dengan mengoptimalkan jasa-jasa layanan, ditunjang dengan teknologi informasi yang selaras dengan Bank Jateng selaku induk,” katanya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Senin (10/12/2018).

Selain itu, menurut Hana, UUS Bank Jateng juga menjalin kerja sama dengan pihak-pihak lain untuk menghimpun dana setoran awal ibadah haji sebagai salah satu sumber dana murah.  Adapun, sampai dengan akhir Oktober, pertumbuhan dana unit usaha syariah mengalami perlambatan secara signifikan. Hal itu tercermin dari posisi DPK yang tercatat senilai Rp2,14 triliun, menurun sekitar 25,64% secara tahunan.

Dia mengatakan bahwa penurunan tersebut disebabkan oleh keluarnya dana deposito nasabah inti senilai Rp1,1 triliun. Di luar dana tersebut, lanjutnya, pertumbuhan dana murah perseroan sebenarnya tumbuh cukup positif. Hana menuturkan dalam bentuk giro dan tabungan masing-masing tercatat senilai Rp404,69 miliar dan Rp648,26 miliar. Kedua jenis dana tersebut tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 34,12% dan 38,72% secara tahunan.

Awal Desember 2018, Bank Jateng juga telah merilis Negotiatible Certificate of Deposit (NCD) senilai Rp1 triliun. Dana tersebut diperkirakan dapat dicairkan perseroan pada pekan ini. Selain itu, perseroan juga akan mengambil dana lain berupa term loan facility. “Kami masih khawatir di DPK, makanya kami main di dana pihak kedua, kami main di term loan facilitymoney market juga kita mainkan juga untuk dongkrak DPK,” ujarnya.

Selain itu perseroan juga menerima dana tambahan dari PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) melaui skema refinancing aset perumahan. Dari skema tersebut, perseroan mendapatkan dana tambahan senilai Rp350 miliar untuk bank induk, dan Rp25 milar untuk unit usaha syariah.

Perseroan juga mengandalkan pinjaman langsung antar dari daerah lain yang sedang kelebihan likuiditas, salah satunya adalah dari PT Bank DKI. Perseroan mendapatkan dana senilai Rp1 triliun, dan sedang mengupayakan tambahan Rp500 miliar lainnya untuk unit usaha syariah.

Sementara itu, dari sisi penyaluran pembiayaan, perseroan menargetkan pembiyaan syariah dapat meningkat sampai dengan 33,67% pada akhir Desember 2019, atau mencapai sekitar Rp3,97 triliun. Target intermediasi tersebut diproyeksikan akan membuat Financing to Deposit Ratio (FDR) berada di level 102,58%.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten