BANJIR SRAGEN : 25 Hektare Padi Desa Bentak Terendam, Panen Hanya 50%

BANJIR SRAGEN : 25 Hektare Padi Desa Bentak Terendam, Panen Hanya 50%

SOLOPOS.COM - Lahan jagung di Desa Kecik, Kecamatan Tanon, Sragen, terendam banjir luapan dari Sungai Bengawan Solo, Senin (3/10/2016). (M Khodiq Duhri/JIBI/Solopos)

Banjir Sragen akibat luapan Sungai Bengawan Solo.

Solopos.com, SRAGEN — Lahan tanaman padi seluas 25 hektare di Desa Bentak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, terendam air luapan Bengawan Solo Senin (3/10/2016). Akibatnya, tanaman padi itu hanya bisa dipanen sekitar 50%.

Di sisi lain, para petani di Desa Pringanom, Kecamatan Masaran, Sragen, merugi sampai Rp2 juta per hektare karena tanaman padi mereka juga terendam luapan air Bengawan Solo.

Pamong Tani Desa (PTD) Bentak, Sidoharjo, Sunardi, saat ditemui Solopos.com di lokasi banjir, Senin siang, mengungkapkan air Bengawan Solo meluap mulai pukul 01.30 WIB. (Baca: Banjir Sragen)

Ketinggian air di jalan mencapai 50 cm-60 cm. Sedangkan di tepi anak Sungai Bengawan Solo, air lebih dalam dan 25 hektare tanaman padi di sekitar anak sungai itu terendam air. Padahal tanaman padi itu tinggal menunggu beberapa hari untuk panen.

“Kalaupun bisa panen paling hanya 50%. Kalau padi yang baru bunting terendam sudah dipastikan tidak bisa berbuah. Petani jelas rugi besar. Tanaman padi 25 hektare itu bisa dikatakan gagal panen. Kalau ratusan hektare tanaman padi lainnya masih bisa diselamatkan karena tidak terendam total,” kata Sunardi.

Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian Bentak, Eko Dri Atmojo, mengamini penjelasan Sunardi. Dia berharap air luapan Bengawan Solo segera surut sehingga petani tak lagi waswas.

Dia mengatakan genangan air di Bentak mulai surut tetapi jangka waktunya lama karena aliran air ke Bengawan Solo hanya lewat anak Sungai Bengawan Solo yang membelah Dukuh Bentak dengan Dukuh Candi Sumber.

Di Desa Pringanom, Masaran, para petani juga waswas dengan tanaman padi mereka yang terendam air. Seorang petani asal Dukuh Jetak RT 015, Desa Pringanom, Masaran, Padmo, 65, mengaku tanaman padinya seluas 5.000 meter persegi (m2) sudah laku senilai Rp16 juta.

Dia sudah menerima uang muka dari tengkulak. Kualitas padinya akan anjlok setelah terendam air Bengawan Solo karena kadar airnya meningkat.

(Baca Juga: Ini Persawahan, Bukan Lautan)

 

“Ya, ini jelas rugi. Harga yang tadinya Rp16 juta bisa jadi turun menjadi Rp15 juta. Tanaman padi milik Pak Manto, tetangga saya, juga sudah laku Rp19 juta. Tetapi banyak padi yang roboh dan tergenang. Harganya pasti juga anjlok. Rata-rata harga jatuh sampai Rp2 juta per hektare. Ya beginilah nasib petani. Saya sudah dua musim tidak panen gara-gara luapan Bengawan Solo,” kata dia.

Empat bulan lalu, luapan Bengawan Solo juga merendam areal persawahan Desa Pringanom. Padmo mengatakan peristiwa empat bulan lalu itu terulang kembali. Dia mencatat ada 150 hektare yang terendam air meskipun tidak sampai pucuk tanaman padi. “Kami masih ada harapan bisa panen. Tetapi bagi tanaman padi yang baru berbunga itu apa ya bisa panen?” ujar dia.

Berita Terkait

Berita Terkini

Jokowi Bilang Bantuan Beras PPKM Tak Usik Stok Pangan

Presiden Jokowi memastikan bantuan beras yang dikucurkan pemerintah PPKM tidak akan mengganggu stok pangan nasional.

Begini Cuci Tangan Shopee Indonesia soal Demo Tolak PPKM

Shopee Indonesia menegaskan tidak terlibat dalam rencana demo tolak PPKM yang digagas pemerintah pimpinan Presiden Joko Widodo alias Jokowi.

Begini Reaksi Jokowi saat Obat Covid-19 di Apotek Habis

Sebuah video menunjukkan Presiden Joko Widodo alias Jokowi melakukan sidak ke apotek dan mengetahui obat Covid-19 di apotek habis.

Mitra Ojol Rancang Demo Tolak PPKM, Operator Cuci Tangan

Mitra operator aplikasi ojek online dikabarkan merancang demo menolak PPKM namun operator aplikasi transportasi online cuci tangan.

Zodiak Ini Sulit Menerima Perpisahan

Tidak semua hubungan berakhir dengan bahagia, namun, astrologi barat menengarai ada insan dengan zodiak yang sulit menerima perpisahan.

Karyawan Hotel & Restoran di Garut Dapat Bansos

Karyawan hotel dan restoran anggota PHRI di Garut mengibarkan bendera putih setelah terdampak PPKM dan mulai menerima bantuan sosial nasional.

Korban Tewas Banjir di China Jadi 51 Orang

Warga terdampak bencana alam di Republik Rakyat Tiongkok semakin transparan, padahal topan disertai hujan dan banjir masih mengancam China.

Api Olimpiade Tokyo 2020 Sudah Menyala, Ini Jadwal Atlet Indonesia Sabtu 24 Juli

Petenis asal Jepang dan juara empat kali Grand Slam, Naomi Osaka, dipercaya menjadi penyulut api Olimpiade Tokyo 2020.

Luhut Pandjaitan Kenalkan Laptop Merah Putih Bikinan Lokal

Menko Marinves Luhut Binsar Panjaitan mengenalkan laptop Merah Putih bikinan dalam negeri yang memperkuat industri teknologi informasi.

Tetap Waspada! 43 Desa Di Karanganyar Endemis Demam Berdarah

Sebanyak 43 desa di seluruh wilayah Kabupaten Karanganyar terkategori sebagai wilayah endemis demam berdarah dengue atau DBD

Tampil Duluan, Ini Hasil Tim Panahan Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020

Pencapaian Diananda dan Ega membuat Indonesia meloloskan tim beregu campuran ke perempat final.

Percepat Vaksinasi Covid-19, Polres Sukoharjo Gandeng Mahasiswa Jadi Sukarelawan

Polres Sukoharjo menggandeng puluhan mahasiswa tingkat akhir dari sejumlah perguruan tinggi menjadi sukarelawan vaksinasi Covid-19.