Banjir Order, Pengrajin Etanol Bekonang Malah Kewalahan
Seorang pengrajin etanol tengah memindahkan cairan saat proses fermentasi di Dusun Sentul, Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Sabtu (21/3/2020). (Solopos/Bony Wicaksono)

Solopos.com, SUKOHARJO – Pengrajin  etanol di Dusun Sentul, Desa Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo, panen berkah di tengah darurat corona. Senttra industri alkohol ini kebanjiran order sejak wabah virus corona tersebar di Tanah Air.

Jumlah permintaan etanol dari Bekonang itu pun meningkat hingga tiga kali lipat. Permintaan bertambah seiring dengan kebutuhan etanol untuk medis meningkat.

"Saya kewalahan menerima order etanol dari rumah sakit, puskesmas, dan intansi pemerintah sejak virus corona merebak di Indonesia. Bahkan, ada komunitas masyarakat yang rela membeli etanol dengan harga tinggi," ujar Ketua Paguyuban Pengrajin Etanol Bekonang, Sabariyono, saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (21/3/2020).

Jangan Beli Sendiri! Chloroquine Obat Keras Pasien Virus Corona

Pria yang akrab disapa Sabar ini menyampaikan hanya bisa memproduksi maksimal 100 liter dalam sekali produksi etanol di Bekonang. Padahal, tingkat permintaan etanol bisa mencapai lebih dari 300 liter.

Pembelian Dibatasi

Akibatnya, Sabar pun membatasi pembelian etanol Bekonang lantaran banyaknya permintaan. Biasanya satu liter etanol dibanderol seharga Rp50.000.

"Saya batasi pembelian etanol lantaran saking banyaknya permintaan. Ada pelanggan yang memesan 200 liter hanya saya layani 50 liter. Ada juga pelanggan yang memesan 100 liter namun hanya saya beri 20 liter," tutur dia.

Solo KLB Corona, Jemaat Gereja di Solo Ibadah Minggu Via Online

Hal serupa dialami pengrajin etanol Bekonang lainnya, Mujiyono. Saat ini dia melihat alkohol dengan kadar lebih dari 70 persen diburu masyarakat sebagai bahan baku hand sanitizer.

Seperti diketahui ada banyak orang yang membuat hand sanitizer sendiri akibat stoknya yang langka di pasaran. Meski bisa mengeruk keuntungan, Mujiyono mengaku tak mampu melayani semua permintaan pelanggan.

"Tidak ada tenaganya [sumber daya manusia]. Kami sudah menambah jumlah produksi etanol sekitar 20 persen namun tetap saja kewalahan," kata dia.

Update! 450 Kasus Positif Corona Indonesia, Jateng Tambah 2

Sementara itu, Sabar berasumsi saat ini ada oknum tak bertanggung jawab yang memanfaatkan momentum untuk menjual metannol. Padahal, metanol mengganggu kesehatan tubuh meski harganya lebih murah ketimbang etanol.

Bahan Baku Alkohol Medis

Sebagai informasi, sentra industri etanol di Bekonang sudah ada sejak zaman Belanda. Warga setempat mengandalkan pengolahan tetes tebu menjadi etanol sebagai mata pencaharian utama.

Sabar menjelaskan ada tiga tahap fermentasi tetes tebu menjadi alkohol dengan kadar 90 persen. Proses pembuatannya membutuhkan waktu selama 7-8 hari.

Pos Jaga Karantina Mandiri di Mojosongo Solo Kosong, Ke Mana Penjaganya?

Selama ini, etanol kerap dipakai untuuk obat pembersih di rumah sakit, puskesmas, dan apotek. Etanol juga menjadi salah satu bahan baku hand sanitizer untuk mencegah penularan virus corona atau Covid-19.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho