BANJIR KUDUS : Sebagian Warga Kudus Mengungsi Hindari Air Bah
Siswa dan guru bergotong royong menyelamatkan meja dan kursi dari dalam kelas yang tergenang banjir di MI NU Bashirul Anam Desa Jati Wetan, Kudus, Jateng, Rabu (8/2/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Yusuf Nugroho)

Banjir Kudus bikin sebagian warga mengungsi ke rumah kerabat yang bearda di wilayah aman.

Solopos.com, KUDUS Sejumlah warga Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng) mengungsi menyusul banjir yang melanda pemukiman mereka akibat tingginya curah hujan di daerah setempat, Kamis (9/2/2017).

Desa yang tergenang banjir di antaranya Desa Tanjung Karang, Desa Jati Wetan, dan Desa Jetis Kapuan, Kecamatan Jati, Kudus, dengan ketinggian genangan bervariasi. Akibat banjir tersebut, sejumlah warga lalu lalang untuk mengungsi, meskipun sebagian dari mereka masih bertahan di rumah sambil menyelamatkan perabot rumah agar tidak terendam banjir.

Elisabet, warga Desa Tanjung Karang di Kudus mengakui, dirinya terpaksa mengungsi sejak Kamis pukul 02.00 WIB, setelah rumahnya tergenang banjir akibat curah hujan tinggi. Ketinggian genangan banjir di dalam rumah Elisabet mencapai 30-an cm, sedangkan di jalan kampung bisa mencapai 40-an cm. Untuk sementara waktu, dia bersama keluarganya mengungsi ke rumah saudaranya di Desa Jepang Pakis, Kecamatan Mejobo, Kudus.

Ina Kurniati yang bertetangga dengan Elisabet juga mengungsi meskipun banjir tidak sampai masuk rumahnya mengingat fondasi rumahnya sudah ditinggikan. "Hanya saja jalan perkampungan tergenang banjir. Demi menjaga kesehatan anaknya yang masih kecil, terpaksa mengungsi ke rumah saudara di Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus," kisah Elisabet.

Jumlah rumah tetangganya yang terendam, sambungnya, cukup banyak, namun sejak Kamis dini hari mulai mengungsi ke sanak keluarga masing-masing. Ketua Rukun Warga 007 Desa Tanjung Karang, Wibowo, memperkirakan jumlah warganya mencapai 210 keluarga. Dari jumlah tersebut, kata dia, memang ada yang tidak mengungsi, terutama yang rumah mereka sudah direnovasi dengan fondasi lebih tinggi.

"Kami masih mendata jumlah warga yang mengungsi, termasuk yang membutuhkan tempat pengungsian karena akan disediakan tempat pengungsian di balai desa," tuturnya.

Selain menggenangi pemukiman penduduk, banjir juga menggenangi beberapa sekolah, seperti SD 3 Jati Wetan serta MI NU Basyirul Anam. Akibatnya, siswa diliburkan meskipun ada beberapa siswa yang masih masuk ke sekolah.

Camat Jati Andreas Wahyu Adi menambahkan, jumlah desa di Kecamatan Jati yang dilanda banjir ada tiga desa, yakni Desa Tanjung Karang, Desa Jati Wetan dan Jetis Kapuan. Untuk jumlah rumah warga yang tergenang banjir, katanya, masih diidentifikasi, sekaligus mendata mereka yang membutuhkan tempat pengungsian.

Ia mengatakan, tempat pengungsian yang hendak disiapkan, untuk sementara di balai desa masing-masing karena tidak terkena dampak banjir. Adapun penyebab banjir, kata dia, karena curah hujan tinggi serta kiriman air dari wilayah tetangga desa yang masuk ke Desa Tanjung Karang dan sekitarnya yang memang berada di daerah yang rendah.

"Warga hanya bisa berharap, debit Sungai Wulan turun, sehingga air bisa dibuang ke sungai tersebut menggunakan pompa air yang berada di Desa Jati Wetan," ujarnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho