BANJIR JATENG : Petani Merapi Kirimi Sayuran Korban Banjir Kudus
Foto udara dari helikopter milik Palang Merah Indonesia (PMI) yang memperlihatkan kondisi rumah-rumah warga yang tergenang air di Kecamatan Sukolilo, Pati, Jateng, Minggu (26/1/2014). PMI menyiapkan dua helikopter untuk membantu proses distribusi kebutuhan logistik maupun evakuasi korban banjir di daerah yang terisolasi. (JIBI/Solopos/Antara/Humas PMI/Nashir Jamaludin)

Solopos.com, MAGELANG — Para petani sayuran di kawasan Gunung Merapi, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mengirim hasil panen pertanian bagi korban banjir dan tanah longsor di Kabupaten Kudus. Sayur mayur yang dikirim Senin (27/1/2014) itu merupakan wujud kepedulian mereka kepada sesama manusia.

"Sekitar 3.000 warga Merapi yang umumnya petani sayuran mengumpulkan panenan mereka untuk membantu para korban bencana alam di Kudus," kata koordinator warga setempat untuk aksi peduli korban bencana alam di Kabupaten Kudus, Yohanes Yulianto, 27, sebelum pengiriman bantuan itu di Magelang, Senin.

Sekitar 6 ton bantuan kemanusiaan untuk Kudus dan sekitarnya itu antara lain berupa kubis, sawi, jipang, cabai, terung, buncis, mentimun, tomat, dan beras. Sayur mayur itu dikirim dari kawasan Gunung Merapi ke lokasi bencana dengan menggunakan truk.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan pengelola gereja setempat untuk distribusi bantuan tersebut kepada warga korban bencana alam di Kudus dan sekitarnya. Mereka yang mengumpulkan hasil panenan terutama sayuran itu, antara lain warga Desa Ngargomulyo, Dukun, Sumber, Sengi, Mangunsoko, Krinjing, Sewukan, dan Wates, di kawasan barat daya puncak Gunung Merapi. Bantuan dikumpulkan di Gereja Paroki Santa Maria Lourdes Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, sejak Minggu (26/1/2014).

"Sejak Minggu (26/1) kemarin masyarakat umum mengumpulkan panenan mereka untuk aksi peduli kemanusiaan ini, termasuk dalam bentuk beras sebanyak 5 kuintal," kata Yulianto yang juga pedagang sayuran dari dusun terakhir sebelum puncak Merapi di Dusun Gemer, Desa Ngargomulyo itu.

Yohanes Yulianto mengatakan aksi tersebut untuk mewujudkan kepedulian petani setempat atas kesusahan sesama manusia yang sedang menghadapi bencana alam. "Karena kami juga mengalami hal serupa. Saat warga kawasan Gunung Merapi menghadapi fase erupsi 2010 disusul dengan banjir lahar yang hingga saat ini masih menjadi ancaman. Bantuan untuk kami waktu itu, juga datang dari mana-mana. Kini, kami juga mewujudkan kepedulian terhadap masyarakat yang menghadapi bencana," katanya.

Yohanes Yulianto memperkirakan harga pelbagai kebutuhan pokok, termasuk aneka sayuran di daerah bencana di Kudus dan sekitarnya pada saat ini cukup tinggi. Pada kenyataannya, harga sayur mayur di seputaran Kudus dan Demak sepanjang masa kawasan itu terkepung banjir berdasarkan pantauan Solopos.com, memang melonjak tinggi. Ia mengharapkan bantuan sayuran dari petani Merapi itu, dapat meringankan beban mereka yang sedang menghadapi bencana alam.

Pemimpin Gereja Paroki Santa Maria Lourdes Desa Sumber Romo Yosep Nugroho Trisumartono mengatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan pimpinan sejumlah gereja di Kudus dan sekitarnya terkait dengan penyaluran bantuan kepada korban banjir dan tanah longsor di daerah setempat.

"Kami mendapat informasi bahwa di Kudus dan sekitarnya seperti Juwana dan Pati, di paroki-paroki itu telah membuka posko kemanusiaan. Distribusi selanjutnya diatur oleh sukarelawan di sana," katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho