Banjir di Klaten Dipicu Curah Hujan Tinggi Hingga Sedimentasi
Air menggenangi permukiman di wilayah Dukuh Talangwetan, Desa Talang, Kecamatan Bayat, Sabtu (9/5/2020) malam. Banjir terjadi lantaran luapan Kali Dengkeng. (Istimewa)

Solopos.com, KLATEN – Banjir terjadi di sejumlah wilayah di Klaten pada Sabtu (9/5/2020) malam setelah hujan mengguyur lebih dari enam jam. Selain tingginya intensitas hujan, banjir yang sudah menjadi langganan di beberapa wilayah itu salah satunya lantaran sampah yang menghambat aliran air sungai.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Pusdalops BPBD Klaten, banjir setidaknya terjadi di tujuh desa tiga kecamatan. Di Kecamatan Trucuk, banjir terjadi di wilayah Desa Kalikebo lantaran luapan air sungai. Ketinggian air yang menggenangi jalan di wilayah Dukuh Brijo Kidul antara 10-50 sentimeter (cm).

Selain Kalikebo, banjir juga terjadi di wilayah Desa Karangpakel, Desa Planggu, serta Desa Sumber. Ruas jalan Trucuk-Pedan sempat ditutup karena tergenang air dengan ketinggian 30 cm.

Di Kecamatan Pedan, luapan Kali Beji menggenangi jalan dan masuk ke rumah warga wilayah RT 002/RW 001, Desa Temuwangi dengan ketinggian air 20-50 cm. Di Kecamatan Karangdowo, Banjir terjadi di wilayah Desa Tulas dengan air menggenani jalan dan rumah warga dengan ketinggian 10-30 cm.

Di Desa Kupang, genangan air terjadi di wilayah RW 001 dan RW 002. Air menggenangi jalan dan rumah warga dengan ketinggian 20-40 cm. Air mulai surut pada Minggu (10/5/2020) dini hari.

WHO Bakal Punya Aplikasi Pemantau Gejala Covid-19

Curah Hujan Tinggi

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten, Sri Yuwana Haris Yulianta, mengatakan sampah yang menyangkut di bawah jembatan menjadi salah satu penyebab banjir. "Penyebab lain karena sedimentasi sungai. selain itu, volume air hujan dan durasi hujan yang cukup lama menjadi penyebab banjir," kata Haris saat dihubungi Solopos.com, Minggu.

Camat Trucuk, Bambang Haryoko, mengatakan selain di Desa Kalikebo, Karangpakel, Sumber, dan Planggu, banjir terjadi di wilayah Desa Sajen. Genangan air juga terjadi di wilayah Desa Talang, Kecamatan Bayat yang berbatasan dengan Desa Planggu.

Air akibat luapan sungai itu mulai masuk ke permukiman pada Sabtu pukul 21.30 WIB dan mulai surut pada Minggu sekitar pukul 02.00 WIB. Selain memutus akses Trucuk-Pedan, banjir juga sempat memutus akses Trucuk-Bayat di wilayah Desa Kalikebo.

Bambang mengatakan desa-desa tersebut merupakan desa yang menjadi langganan banjir di wilayah Trucuk akibat luapan Kali Dengkeng serta anak sungainya. Bambang juga menjelaskan luapan terjadi lantaran sampah seperti rumpun bambu yang tersumbat di Jembatan Modran hingga aliran air di Kali Dengkeng tak lancar.

"Selain itu ada penyempitan lebar Kali Dengkeng dan anak sungainya yakni Kali Kuning di wilayah Trucuk karena tanaman bambu di sepanjang sungai. Khusus Desa Sajen dan Pundungsari, banjir terjadi lantaran air tidak mampu tertampung di sekolan dan sungai yang ada," urai dia.

Kronologi Kebakaran di Indomaret Sondakan Solo: Ada Ledakan di Belakang AC

Sedimentasi di Kali Kuning

Kepala Desa Kalikebo, Purwanto, mengatakan banjir terjadi di empat dukuh akibat luapan air Kali Kuning. Ketinggian air sempat mencapai 1 meter di ruas jalan. Purwanto juga menjelaskan banjir sempat membuat akses jalan Bayat-Trucuk, Klaten, terputus.

"Sebelum sahur air sudah surut termasuk akses jalan raja Trucuk-Bayat sudah bisa dilewati," kata Purwanto.

Purwanto mengatakan tak ada warga yang mengungsi akibat banjir tersebut. Bagi warga, banjir akibat luapan Kali Kuning, Klaten sudah biasa terjadi. ”Air meluap karena ada beberapa titik Kali Kuning mengalami sedimentasi,” jelas dia.

Purwanto menuturkan awalnya pemerintah desa berencana menggelar pertemuan bersama warga dan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo guna membahas pengerukan sedimentasi Kali Kuning. Namun, pertemuan itu urung digelar hingga pengerukan belum terlaksana lantaran pandemi Covid-19.

"Sudah kami usulkan dan kami berencanana pertemuan. Namun, karena tidak dibolehkan untuk melakukan kerumunan, sementara pertemuan belum jadi. Selama ini warga sudah berupaya dengan membersihkan sungai termasuk ranting-ranting bambu yang ada di sepanjang sungai," kata dia.

Peneliti LIPI Sebut Virus Corona Ada di Sperma Pasien Covid-19


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho