Warga Venezuela melakukan barter (Reuters-Marco Bello)

Solopos.com, RIO CHICO – Panas terik dan sengatan sinar matahari tak menyurutkan semangat puluhan nelayan untuk menjual hasil tangkapan di pinggir Pantai Karibia, Rio Chico, Venezuela. Menariknya, para nelayan ini tidak mengharapkan uang sebagai bayaran. Mereka justru lebih tertarik menukar ikan dengan paket sembako berisi tepung, beras, dan minyak goreng.

Kehidupan masyarakat Venezuela memang cukup memprihatinkan. Negara yang dijuluki sebagai penghasil wanita tercantik di -serikat-keluar-dari-dewan-ham-pbb">dunia ini tengah mengalami inflasi. Sejumlah warga negara Venezuela tidak menggunakan uang sebagai alat tukar. Mereka justru kembali hidup seperti masyarakat primitif dengan mengandalkan sistem barter.

"Tidak ada uang tunai di sini. Semua proses jual beli kami lakukan dengan sistem barter," kata seorang istri nelayan Venezuela, Mileidy Lovera, 30, seperti dilansir Reuters, Selasa (3/7/2018).

Mileidy Lovera berharap ikan tangkapan suaminya bisa ditukar dengan bahan makanan pokok dan obat epilepsi untuk anaknya. -mulyani-ekonomi-indonesia-lebih-baik-daripada-as">Krisis ekonomi yang memprihatinkan serta tingginya angka inflasi membuat uang di Venezuela kehilangan nilainya.

Kini, kebanyakan warga Venezuela melakukan barter untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Sistem barter ini juga berlaku untuk membayar jasa seperti potong rambut. Wilayah yang paling terdampak inflasi adalah di Kota Rio Chico.

Seorang tukang ojek di ibu kota -hiperinflasi-kota-di-venezuela-rilis-mata-uang-sendiri">Venezuela, Caracas, Julio Blanco, 34, kini mengizinkan pelanggannya membayar lewat transfer bank. Namun, dia sebenarnya lebih senang dibayar dengan makanan. "Saya mengizinkan pelanggan membayar dengan cara mentransfer uang ke bank. Namun, sebenarnya saya lebih senang dibayar dengan makanan. Saya biasanya mengantarkan pelanggan ke toko daging untuk membayar jasa," katanya.

Munculnya sistem bater di tengah inflasi dan kelangkaan uang tunai menjadi gambaran buruk bagi Venezuela. Negara yang dulunya makmur kini tengah diguncang krisis yang menyengsarakan rakyatnya. "Barter adalah sistem pembayaran yang sangat primitif. Sangat memprihatinkan melihat sebuah negara mengalami krisis uang tunai," kata seorang konsultan keuangan dari Datanalisis, Luis Vincent Leon.

Lantas, apa penyebab hiperinflasi di Venezuela? Menurut sejumlah ahli ekonomi, rendahnya harga minyak, menurunnya produksi minyak, serta kesalahan pengelolaan ekonomi membebani pemerintah Benezuela. Defisit anggaran negara itu mencapai 20 persen dari produk domestik bruto (PDB). Nilai tukar mata uang bolivar terhadap dollar juga merosot tajam.

Pada 2017 lalu, uang kertas dengan denominasi tertinggi dinaikkan menjadi 100.000 bolivar. Di pasar gelap, nilai tukar bolivar melemah 99,6 persen terhadap dollar Amerika Serikat sejak awal 2016. Keadaan ini diperparah dengan anjolknya produksi barang domestik. Tapi, kondisi hiperinflasi yang menyengsarakan rakyat tak membuat Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, panik. Dia justru memilih diam dan terus bertahan di tampuk pemerintahan.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten