Bajukertasku Semarang Ajak Warga Kumpulkan Kertas untuk Belikan Seragam Sekolah
Ilustrasi transaksi seragam sekolah di salah satu lapak pakaian. (Antara)

Semarangpos.com, SEMARANG  Bajukertasku Semarang menggagas pengumpulan kertas bekas untuk membelikan kalangan tak mampu baju seragam sekolah. Komunitas itu hingga kini telah menyumbangkan banyak seragam sekolah dari hasil pengumpulan kertas bekas.

"Komunitas ini awalnya digagas oleh Reny Septiani, mahasiswi Universitas Tadulako, Palu," kata Rinta Aryani, pendiri Bajukertasku Semarang di Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (22/10/2018).

Seiring dengan waktu, kata Rinta Aryani, komunitas sosial dan lingkungan yang berkegiatan mengumpulkan dan menjual kertas-kertas bekas untuk dibelikan seragam itu berkembang di berbagai daerah. Mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu pun tertarik mendirikan komunitas itu di Semarang tepat pada 10 Januari 2018.

Bersama Anita Rachmawati, rekannya dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes, Rinta merintis komunitas Bajukertasku, dimulai dengan pengumpulan kertas-kertas bekas. "Saya sudah berkonsultasi dengan Reny selaku penggagas komunitas ini. Mekanismenya, saya mengumpulkan kertas-kertas bekas, kemudian saya jual kepada pengepul," kata Rinta.

Setelah itu, kata Rinta, hasil penjualan kertas bekas itu dibelikan seragam untuk disumbangkan kepada kalangan siswa kurang mampu yang ada di wilayah Kota Semarang. "Melalui Bajukertasku, saya ingin menjadikan kertas bekas lebih bermanfaat. Tidak kemudian hanya dibuang dan dibakar. Bagaimana bisa memotivasi siswa kurang mampu," kata Rinta.

Rinta menyebutkan komunitas tersebut hingga sekarang ini telah mengumpulkan kertas bekas sekitar 273 kilogram dari para donatur dan seragam dari hasil penjualannya juga sudah disumbangkan. Rinta berharap kehadiran Bajukertasku di Semarang bisa membantu siswa yang kurang mampu atau setidaknya menjadi perantara bagi donatur yang ingin memberikan bantuan.

"Semoga komunitas Bajukertasku bisa memotivasi anak-anak yang kurang mampu untuk terus belajar meraih cita-cita dengan terbantunya seragam bagi mereka," kata Rinta.

Sekarang ini, komunitas Bajukertasku sudah tersebar di berbagai daerah, seperti Palu, Jakarta, Semarang, Serang, Jogja, Buton, Pontianak, dan Pekanbaru. "Untuk wilayah Semarang, pengurus komunitas ini ada sembilan orang. Saya bersyukur bisa membantu masyarakat, khususnya siswa yang kurang mampu secara ekonomi," kata Rinta.

Berkaitan dengan bencana gempa bumi dan tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala, Rinta mengatakan bahwa para anggota komunitas tergabung tim sukarelawan membantu di posko informasi dan dapur umum.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom