Tutup Iklan
Bara Yudhistira/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (19/8/2019). Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu dan Teknologi Pangan di Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah barayudhistira@staff.uns.ac.id.

Solopos.com, SOLO -- Beberapa hari terakhir ada berita tentang teror lethong (kotoran sapi) di wilayah Kabupaten Boyolali. Kejadian tersebut telah terjadi beberapa kali sehingga cukup meresahkan masyarakat seperti yang diberitakan solopos.com pada 15 Agustus 2019 dengan judul Korban Teror Letong Sapi di Boyolali Kota Sudah 5 Orang, Polisi Lakukan Investigasi.

Kejadian yang terjadi beberapa kali tersebut mestinya membuat kita waspada mengingat terdapat bahaya pada kotoran sapi. Selain teror tersebut mengganggu dari segi estetika, yaitu dapat menyebabkan pakaian atau badan kotor dan berbau, lebih dari itu kotoran sapi mengandung beberapa mikroorganisme yang dapat membahayakan kesehatan.  

Bahaya yang disebabkan h kotoran sapi dapat terjadi karena kandungan bakteri di dalamnya. Bakteri yang yang terdapat dalam saluran pencernaan ternak ruminansia, salah satunya sapi, adalah Lactobacillus sp., Escherichia, Eubacterium, Propionibacterium, Streptococcus, Bacteriodes, Butyvibrio, Selenomonas, Clostridium, dan Metanobacterium.

Bakteri-bakteri itu termasuk dalam kelompok bakteri patogen (Hidayati dkk., 2013). Bakteri patogen adalah bakteri yang mampu menyebabkan penyakit sehingga ketika ada orang menjadi korban teror lethong perlu penanganan yang benar.

Penanganan yang benar untuk mencegah kontaminasi silang (cross contamination) bakteri yang terdapat pada kotoran sapi berpindah pada media lain, khususnya makanan, sehingga keamanan pangan (food safety) dapat dijaga.

Perlu ada perlakuan khusus bagi para korban teror lethong sebelum menjamah makanan karena makanan pada umumnya merupakan media yang dapat membawa kontaminan, dalam hal ini bakteri patogen, masuk ke dalam tubuh.

Keamanan pangan diatur dalam UU No. 18/2012 tentang Pangan. Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan pencemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi.

Galur

Dalam kasus teror lethong ini titik beratnya pada pencemaran biologis, yaitu pencemaran oleh bakteri/mikroorganisme patogen. Mikroorganisme tersebut dapat menyebabkan terjadi keracunan makanan. Menurut Volk (1989), infeksi dan keracunan makan (foodborne diseases) dibagi menjadi dua kelompok, yaitu infeksi makanan dan keracunan makanan.

Infeksi makanan disebabkan konsumsi makanan yang mengandung organisme hidup yang dapat melakukan sporulasi dalam usus sehingga menimbulkan penyakit. Keracunan makanan terjadi bukan karena disebabkan tertelannya organisme hidup, tetapi disebabkan masuknya toksin (racun) atau substansi beracun yang disekresikan (dikeluarkan) pada makanan.

Contoh bakteri yang terdapat pada kotoran sapi yaitu Escherichia coli. Menurut Astawan (2010), Escherichia coli adalah mikroflora yang secara alami ada di saluran cerna manusia dan hewan.  Beberapa galur bakteri ini dapat mengakibatkan penyakit pada manusia.

Galur tersebut yaitu enterotoksigenik, enterohaemorrhagik, enteropatogenik, enteroinvasive, dan enteroagregatif. Salah satu gangguan kesehatan, yaitu diare, disebabkan oleh enterotoksigenik Escherichia coli terutama pada makanan dan air yang tidak higienis. Enterohaemorrhagic Eecherichia coli 0157:H7 diketahui sebagai bakteri patogen penyebab foodborne diseases.

Selain itu, kontaminasi oleh bakteri enterohaemorrhagic Eecherichia coli 0157:H7 pada umumnya ditemukan pada sayuran yang disebabkan oleh penggunaan kotoran sapi sebagai pupuk. Navyanti dan Andriyani (2016) menjelaskan bakteri Esecherichia coli (enteropatogenik Escherichia coli atau EEC) yang menyebabkan diare pada manusia dapat dikelompokkan dalam dua golongan.

Kelompok pertama yaitu Escherichia coli yang mampu memproduksi racun pada usus kecil serta dapat menyebabkan penyakit seperti kolera. Sedangkan kelompok yang kedua yaitu EEC yang dapat menyebabkan penyakit colitis seperti disentri, dengan gejala demam, dingin, sakit kepala, kejang perut, dan diare.

Keamanan Pangan

Sedangkan bakteri patogen lain tentu mempunyai gejala dan bahaya yang berbeda pula. Terlepas dari jenis patogen yang bermacam-macam pada kotoran sapi, kita memang harus tetap waspada. Upaya yang dapat dilakukan para korban teror lethong yaitu membersihkan diri setelah terkena kotoran sapi tersebut.

Dalam proses pembersihan hendaknya menggunakan sabun atau antiseptik untuk menghilangkan serta membunuh kuman (mikroorganisme patogen), apalagi jika kita akan makanan dan minum. Harus dipastikan tangan dan tubuh kita bersih.

Hal tersebut dapat menghindarkan penyakit yang bersumber dari kotoran sapi sekaligus menjamin keamanan pangan. Hal ini sesuai dengan tujuan keamanan pangan untuk mencegah kemungkinan pencemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia.

Dengan melakukan hal tersebut berarti kita telah melindungi diri kita. Teror lethong dan dampaknya terkesan sepele, seperti hanya permainan dan senda gurau, namun dapat berpengaruh besar pada kesehatan diri kita.

 

 

 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten