Tim Badan Geologi Bandung mengumpulkan data untuk kajian teknis terkait kasus tanah ambles di Dusun Jetis Kidul, Desa Bero, Manyaran, Wonogiri, Jumat (24/1/2020). (Istimewa/BPBD Wonogiri)

Solopos.com, WONOGIRI — Tim dari Badan Geologi Bandung mengkaji tanah ambles di Dusun Jetis Kidul, Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Wonogiri. Kajian itu untuk mengetahui penyebab supaya dapat disusun langkah mitigasi agar kasus itu tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat setempat.

Tim Badan Geologi tiba di Desa Bero, Manyaran, Jumat (24/1/2020). Mereka mulai menghimpun data lapangan dan memetakan wilayah dari udara hingga menyelidiki bawah permukaan (subsurface) hingga kedalaman 10 meter-12 meter.

Data yang dihimpun nantinya dianalisis oleh tim di Pusat Data Badan Geologi Bandung. Kajian teknis itu akan menentukan penyebab terjadinya tanah ambles dan risiko yang mungkin terjadi.

Hasil kajian itu akan diserahkan kepada Pemkab Wonogiri untuk menentukan tindak lanjut upaya mitigasi agar kejadian itu tak menimbulkan dampak terhadap masyarakat sekitar.

“Sementara ini masih tahapan kajian teknis lapangan dari Badan Geologi Bandung. Setelah diolah, nanti hasilnya disampaikan soal penyebab dan upaya mitigasi apa yang harus dilakukan pemerintah daerah,” kata Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri, Bambang Haryanto, saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (25/1/2020).

Warga Diminta Setop Penggalian Terowongan Peninggalan Belanda di Cokro Kembang Klaten

Diberitakan sebelumnya, tanah ambles itu kali pertama terjadi di lahan pertanian milik Sriwidodo dan Mursinah di Dusun Jetis Kidul, Desa Bero, Manyaran, Kamis (19/12/2019). Tanah ambles itu membentuk lubang dengan panjang 18 meter dan lebar 8 meter dengan kedalaman paling curam mencapai 16 meter.

Proses penurunan tanah itu tidak terjadi seketika tetapi selama beberapa tahun. Tanah ambles itu diikuti munculnya retakan tanah memanjang sekitar 200 meter melewati 11 rumah di dusun setempat.

Di sekitar lokasi juga ditemukan lubang-lubang penurunan tanah berdiameter 5-15 cm. Bahkan, penurunan tanah mengakibatkan tiga tiang bangunan ikut ambles.

Pada 2018, penurunan tanah juga pernah terjadi di sebelah barat sejauh 150 meter dari lokasi kejadian. Penurunan tanah menghasilkan lubang berdiameter 2,5 meter sedalam 1,5 meter.

Lubang itu sudah ditimbun meski masih menyisakan cekungan. Di sekitar lokasi juga terlihat puluhan lubang penurunan tanah berdiameter 10 meter-60 meter.

2020, 688 ASN Wonogiri Pensiun

Bambang menambahkan penurunan tanah mengakibatkan kerusakan lahan pertanian dan berdampak pada penurunan produksi dan kehilangan periode masa tanam. Sejumlah sumur warga juga dilaporkan mengalami penurunan debit air.

Bahkan, sumber air di sendang setempat juga mengering. “Kami mengimbau masyarakat tidak beraktivitas di sekitar lokasi kejadian mengingat adanya kemungkinan terjadi penurunan tanah lagi,” ujar dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten