Anggota Komisi IX DPR Syamsul Bachri mencoba alat kesehatan yang terdapat di Klinik Saintifikasi Jamu B2P2TOOT Tawangmangu, Sabtu (8/12/2018) siang./Irawan Sapto Adhi

Solopos.com, KARANGANYAR – Balai Besar Penelitian dan Pengambangan Tanaman Obat dan Obat Tradisonal (B2P2TOOT) Tawangmangu, Karanganyar mengembangkan dua ramuan jamu baru yang berkhasiat untuk pelancar air susu ibu (ASI) dan mengatasi kurang darah (anemia).

Kepala Seksi (Kasi) Kerja sama dan Jaringan Informasi B2P2TOOT Tawangmangu, Tri Widayat, menjelaskan dua ramuan jamu tersebut masih dalam proses penelitian randomized control trial (RCT). B2P2TOOT menargetkan proses penelitian rampung pada akhir Desember ini. Setelah itu, sampel ramuan jamu akan dikirim ke komisi saintifikasi jamu nasional.

Tri Widayat menerangkan dua ramuan jamu untuk pelancar asi dan mengatasi anemia yang dikembangkan B2P2TOOT baru layak edar atau bisa diakses ke luar jika komisi saintifikasi jamu nasional mengeluarkan predikat tersaintifikasi. Dengan kata lain, ramuan jamu kemungkinan baru bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pengobatan pada tahun depan setelah dinyatakan terbukti aman dan berkhasiat.

"Untuk ramuan jamu pelancar ASI dan obat anemia, poses penelitiannya ditarget selesai tahun ini. Jadi, kedua ramuan jamu tersebut belum termasuk ke dalam 11 ramuan jamu yang tersaintifikasi," kata Tri Widayat saat diwawancarai Solopos.com, Senin (10/12/2018).

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com dari B2P2TOOT Tawangmangu, ramuan jamu pelancar ASI dibuat B2P2TOOT Tawangmangu dari campuran bahan olahan tanaman obat, antara lain daun katuk, daun pepaya, dan daun bangun-bangun. Sedangkan ramuan jamu untuk mengatasi masalah anemia dibikin dari campuran tanaman obat temu lawak, bayam merah, dan tapak liman.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) (Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siswanto, menyampaikan B2P2TOOT Tawangmangu selama ini melakukan pengembangan riset di bidang bahan baku obat yang berorientasi pada kebutuhan baik industri maupun kepentingan program pemerintah. Hal itu sesuai dengan strategi pengembangan bahan baku obat sesuai Permenkes 87 tahun 2013 tentang Peta Jalan Pengembangan Bahan Baku Obat.

"Hilirasi hasil riset B2P2TOOT dilakukan bersama dengan industri dengan orientasi pada pemanfaatan tanaman obat dan jamu oleh masyarakat. Pada tahap ini, hasil riset dipersilakan untuk komersialisasi menuju produk jamu dalam skala massal," jelas Siswanto.

Avatar
Editor:
Riyanta

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten