Manajer BUM Desa Ngadek Jejeg Meger, Kecamatan Ceper, Slamet Zubaidi (kiri) mengenalkan minuman bekatul organik di gedung Darma Wanita Klaten, Senin (8/4/2019).(Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN – Sejauh ini, Desa Meger, Kecamatan Ceper, Klaten, hanya mengandalkan potensi di bidang pertanian. Dari 2.900-an jiwa, mayoritas penduduk di desa tersebut mengandalkan sektor pertanian untuk menopang perekonomian mereka.

Tak ingin terpaku dengan kondisi tersebut, Desa Meger Klaten terus ingin berkreasi. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) yang baru berdiri sekitar April 2018, manajemen BUM Desa Ngadek Jejeg di Desa Meger Klaten kemudian mengembangkan minuman bekatul organik. Minuman yang diyakini bergizi tinggi ini berbahan utama bekatul organik dari tanaman padi organik di kawasan Meger.

Keinginan memodifikasi bekatul organik itu bermula dari melimpahnya stok bekatul organik di kawasan Meger dan sekitarnya. Tak puas hanya dijual kiloan, manajer BUM Desa Meger terus melakukan eksperimen memodifikasi bekatul tersebut. Hingga akhirnya, jadilah minuman bekatul organik.

Sesuai namanya, bekatul organik merupakan bekatul yang tidak terkandung bahan kimia. Agar menghasilkan minuman bercita rasa tinggi, bekatul organik itu dicampur dengan aneka rempah-rempah, seperti jahe, pandanwangi, dan lain sebagainya. Produk ini telah melalui berbagai proses, seperti diayak, ditumbuk, dicampur dengan rempah-rempah, dan lainnya. Di samping mengandung vitamin B12, minuman bekatul organik ini juga mengandung antioksidan. Minuman bekatul organik diyakini berkhasiat dapat menghilangkan pegal-pegal atau rasa capai di badan.

“Bekatul organik kalau djual kiloan hanya Rp2.500-Rp3.000 per kilogram. Kalau dijual setelah dimodifikasi menjadi minuman bekatul organik, keuntungannya menjadi lumayan. Ini yang akan kami kembangkan ke depan. Harapannya, minuman bekatul organik ini akan menjadi ciri khas di desa kami di waktu mendatang,” kata Manajer BUM Desa Ngadek Jejeg Meger, Kecamatan Ceper, Slamet Zubaidi, kepada Solopos.com, Jumat (19/4/2019).

Slamet mengatakan minuman bekatul organik itu disajikan dalam bentuk cair dan serbuk. Harga minuman cair berisi 330 mililiter dipatok Rp7.000, isi 220 mililiter dibanderol Rp5.000, dan 155 mililiter Rp2.500. Sedangkan harga bekatul organik dalam bentuk serbuk seberat 250 gram dihargai Rp18.500. Selama ini, pemasaran minuman bekatul organik baru dilakukan di kawasan Meger dan sekitarnya.

“Saat ini, kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa. Kami mengusulkan, agar ke depan dibangun sentra kuliner dengan minuman bekatul organik sebagai ciri khasnya. Jika terealisasi, ini akan menjadi unit baru di BUM Desa Meger, selain unit simpan pinjam. Kebutuhan anggaran membangun sentra kuliner itu memang cukup besar, senilai Rp500 juta. Harapan kami ke depan, pengembangan minuman bekatul organik ini akan meningkatkan pendapatan asli desa dan meningkatkan kesejahteraan warga,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten