Kategori: Nasional

Awas, Infodemi Bisa Hambat Penanganan Pandemi Covid-19


Solopos.com/Cahyadi Kurniawan

Solopos.com, SOLO--Informasi yang salah dan disinformasi seputar Covid-19 atau infodemi menghambat penanganan pandemi. Pandemi yang seharusnya bisa diselesaikan hanya dengan pengendalian mobilitas, menjadi berkepanjangan akibat hoaks berseliweran di masyarakat.

Hoaks paling nyata adalah menganggap enteng Covid-19 pada awal pandemi masuk ke Indonesia. Pemerintah menilai penyakit ini tidak berbahaya ditambah lagi kelakar lainnya seperti virus corona tidak masuk ke Indonesia lantaran izinnya sulit hingga kebal corona karena makan nasi kucing. Respons pemerintah terhadap pandemi ini diamplifikasi dan dicontoh oleh masyarakat.

“Ada juga hoaks jangan ikut tes Covid kalau lagi flu, [hasilnya] pasti positif. Padahal enggak begini. Ini tantangan berat,” kata dokter spesialis anak sekaligus konsultan penyakit pernapasan anak, Bob Wahyudin, dalam talkshow virtual yang digelar Satgas Penanganan Covid-19, 4 Februari 2021.

Baca Juga: Ketua Komisi I DPRD Solo Positif Covid-19, Dirawat Di ICU RS Panti Waluyo

Hal senada juga disampaikan peneliti bioteknologi di Universiti Putra Malaysia, Bimo Ario Tejo. Bimo mengatakan infodemi menjadi masalah serius lantaran penanganan wabah yang seharusnya sederhana menjadi rumit. Kunci pengendalian wabah dan pandemi ada pada pengendalian mobilitas.

“Tapi dengan banyaknya disinformasi, penanganan pandemi yang seharusnya mudah jadi sulit. SARS dan MERS berhasil dihentikan karena ada pendekatan kesehatan masyarakat karena belum banyak hoaks. Sekarang harus diberikan perhatian khusus untuk menangkal disinformasi ini,” kata Bimo.

Menurut dia, ada sekitar 1.000 hoaks bertebaran di media sosial. Sebagian hoaks ini disampaikan sebagai lelucon tapi tak masuk akal dari kaca mata saintifik. Untuk membendung hoaks ini perlu pelibatan masyarakat termasuk pemerintah.

Baca Juga: Jadi Korban Prank Enggak Bisa Bahasa Inggris, Bocah Ini Dapat Beasiswa

Seperti Kehilangan Perspektif

Hoaks-hoaks ini pun membikin masyarakat seperti kehilangan perspektif. Adanya vaksin Covid-19, misalnya memunculkan tanya bagi sebagian kelompok kenapa harus divaksin. Padahal, vaksinasi di Indonesia sudah ada sejak 1804. Vaksinasi membuat manusia kini berumur panjang.

Berkat vaksinasi juga beberapa penyakit lenyap dari muka bumi. Sebagai contoh misalnya penyakit cacar yang hilang di Indonesia sejak 1960. Untuk memerangi hoaks seputar vaksinasi ini, Bimo bahkan menyajikan data sebelum ada vaksin dan setelah vaksin.

“Ada hoaks soal vaksin mengurangi populasi atau vaksin melacak pergerakan kita melalui chip. Tapi pergerakan kita dilacak handphone tidak ada yang protes. Selain itu, tidak pernah ada orang meninggal karena divaksin,” ujar dia membantah sejumlah infodemi seputar vaksin Covid-19.

Baca Juga: Akhiri Masa Jabatan, Rudy-Purnomo Dilepas Ratusan ASN Pemkot Solo

Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus pegiat media sosial, RA Adaninggar, mengatakan ada gap atau celah yang cukup jauh antara pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat terkait pemahaman pandemi Covid-19. Celah ini melahirkan mispersepsi di masyarakat.

“Kita suruh apa, mereka nangkepnya apa. [Akibat hoaks] Mereka dapatnya justru kita seperti menjerumuskan mereka, memberikan hal negatif dan lainnya. Gap ini lah yang harus kita isi,” kata Adaninggar.

Celah ini diisi dengan cara getol mengedukasi masyarakat mengenai Covid-19. Namun, edukasi ini harus disampaikan dengan bahasa yang mudah dipadahami orang awam. Sebab, apabila masih menggunakan istilah medis yang asing bagi masyarakat, upaya ini akan sia-sia.

Baca Juga: Glowing Bersama Ella Bertabur Hadiah Uang Tunai Hingga Sepeda Motor

“Kami berusaha menjelaskan dengan bahasa yang awam walau memang agak sulit menjelaskan istilah medis ke bahasa awam. Tapi kalau tidak dilakukan sama saja masih ada gap tadi,” ujar dia.

Adaninggar mengingatkan kepada masyarakat bahwa pandemi masih berlangsung dan nyata. Saat ini rumah sakit mengalami overload yang mengakibatkan banyak pasien penyakit kronis tidak mendapatkan pelayanan kesehatan. “Baik muda atau tua harus ingat, kita masih pandemi,” kata Adaninggar.

Share