Peta prakiraan awal musim hujan tahun 2019-2020 di wilayah Jawa Tengah. (Antara-BMKG)

Solopos.com, CILACAP — Awal musim penghujan di sebagian besar wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah dipastikan mundur dari prakiraan sebelumnya. Kepala Kelompok Teknisi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo memaparkan sederet analisis baru.

"Berdasarkan prakiraan awal musim hujan yang dikeluarkan BMKG Stasiun Klimatologi Semarang, awal musim hujan di sekitar Gunung Slamet diprakirakan berlangsung pada dasarian [10 harian] pertama bulan Oktober 2019," paparnya di Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (15/10/2019).

Awal musim penghujan di sebagian besar wilayah Banyumas  diprakirakan terjadi pada dasarian kedua bulan Oktober. Sementara di wilayah barat daya Banyumas yang meliputi Kecamatan Lumbir dan wilayah tenggara Banyumas seperti Kecamatan Sumpiuh hingga Tambak, musim penghujan diprakirakan mulai turun pada dasarian ketiga Oktober.

Jika dilihat dari perbandingan prakiraan awal musim penghujan di Kabupaten Banyumas tahun 2019-2020 dengan rata-rata awal musim hujan pada periode 1981-2010, terangnya, awal musim penghujan di sekitar Gunung Slamet diprakirakan mundur satu dasarian.

Di sebagian besar wilayah Banyumas, awal musim penghujan diprakirakan sama dengan rata-rata pada periode 1981-2010. Di wilayah barat daya Banyumas, awal musim penghujan mundur dua dasarian. Sedangkan di wilayah tenggara Banyumas, awal musim penghujan mundur tiga dasarian.

"Akan tetapi, dari pantauan kami dan informasi dari masyarakat, hingga memasuki pertengahan dasarian kedua atau pertengahan bulan Oktober, hujan masih jarang turun di wilayah Banyumas," aku Teguh.

Bahkan, lanjut dia, wilayah di sekitar Gunung Slamet yang sebelumnya diprakirakan akan memasuki musim penghujan pada dasarian pertama bulan Oktober hingga pertengahan dasarian kedua, masih jarang mendapat hujan.

"Dari informasi yang kami terima, wilayah Baturraden yang berada di kaki Gunung Slamet sempat ada hujan pada Kamis [10/10/2019] pagi dan pada Senin [14/10/2019] sempat gerimis namun sebentar. Dengan demikian, awal musim hujan di sekitar Gunung Slamet dipastikan mundur dari yang diprakirakan sebelumnya," katanya.

BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap masih memantau perkembangan cuaca di wilayah Banyumas. "Masih ada lima hari menuju dasarian ketiga. Jika curah hujan pada dasarian kedua bulan Oktober bisa mencapai 50 mm, kemudian dua dasarian berikutnya secara berturut-turut bisa mencapai 50 mm/dasarian, dapat dikatakan bahwa dasarian kedua bulan Oktober merupakan awal musim hujan di sebagian besar wilayah Banyumas," Teguh menjelaskan.

Ia menjelaskan pula bahwa suatu wilayah dikatakan telah memasuki musim penghujan jika curah hujannya selama tiga dasarian berturut-turut telah mencapai minimal 50 mm/dasarian. Jika curah hujan pada dasarian kedua bulan Oktober sudah mencapai 50 mm, dasarian ketiga bulan Oktober kurang dari 50 mm, dan dasarian pertama bulan November mencapai 50 mm, maka dasarian kedua bulan Oktober belum bisa dikatakan sebagai awal musim penghujan.

"Jika curah hujan dalam tiga dasarian berturut-turut mencapai minimal 50 mm/dasarian, dasarian yang pertama mencapai 50 mm itu yang disebut sebagai awal musim hujan," kata Teguh. Sementara awal musim hujan di sebagian besar wilayah Kabupaten Cilacap, menurut dia diprakirakan masih sesuai dengan prakiraan sebelumnya, yakni pada dasarian ketiga bulan Oktober 2019.

Untuk analisis wilayah lain, publik bisa mencermati peta prakiraan awal kemarau yang semula dipublikasikan BMKG Stasiun Klimatologi Semarang.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten