Ilustrasi warga mengantre untuk mendapatkan air bersih saat musim kemarau. (Istimewa-BPBD Karanganyar)

Semarangpos.com, SEMARANG — Musim kemarau memang baru saja tiba. Meski demikian, sudah ada 10 kabupaten/kota di Jawa Tengah (Jateng) yang sudah mengalami bencana kekeringan.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Sudaryanto, mengatakan ada 10 kabupaten/kota di wilayahnya yang sudah mengalami kekeringan. Warga di ke-10 daerah itu bahkan sudah meminta pasokan air karena kesulitan mendapatkan air bersih.

“Ke-10 daerah itu, yakni Cilacap, Purbalingga, Banyumas, Purworejo, Klaten, Grobogan, Temanggung, Pemalang, Tegal, dan Semarang. Warga di daerah itu bahkan sudah minta pasokan air bersih karena sumber mata air sudah mengering,"  ujar Sudaryanto saat dijumpai Semarangpos.com di ruang kerjanya, Kamis (27/6/2019).

Sudaryanto mengatakan dari 10 daerah itu, kekeringan terparah ada di wilayah Klaten. Bahkan, Klaten paling banyak meminta pasokan air bersih, yakni sekitar 60 tangki.

Sementara wilayah kedua yang meminta pasokan air paling banyak ada di Kabupaten Cilacap dengan 28 tangki, Purworejo, Banyumas, dan Grobogan masing-masing 16 tangki, Semarang 6 tangki, Purbalingga 2 tangki, serta Temanggung, Pemalang, dan Tegal masing-masing 1 tangki.

Sudaryanto mengaku untuk mengantisipasi bencana kekeringan, Pemprov Jateng menyediakan anggaran sekitar Rp320 juta dan pasokan air bersih sebanyak 1.000 tangki. Namun, anggaran maupun pasokan air bersih itu akan disalurkan jika masing-masing daerah membutuhkan.

“Sifatnya kita hanya melakukan back up. Kan masing-masing daerah sudah ada alokasi dana untuk mengatasi kekeringan. Oleh karena itu, saya minta keseriusan dari kepala daerah untuk mengantisipasi kekeringan ini. Bencana itu tak bisa diprediksi, tapi bisa diatasi asal ada perhatian dari seluruh stakeholder,” ujarnya.

Menurut Sudaryanto bencana kekeringan di Jateng masih akan berlangsung cukup lama. Apalagi, berdasar perkiraan Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau akan mulai berlangsung secara merata pada Juni dan berakhir pada akhir November atau awal Desember nanti.

 “Prediksi kami, ada 1.256 desa di 360 kecamatan yang ada di 31 kabupaten/kota di Jateng yang berpotensi mengalami kekeringan selama musim kemarau ini. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada September,” ungkap mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispermadesdukcapil) Jateng itu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten