Automasi dan Skill Shift Pekerja Masa Depan (Bagian 1)

Artikel ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

 Astrid Widayani (Istimewa)

SOLOPOS.COM - Astrid Widayani (Istimewa)

Solopos.com, SOLO — Seiring gema transformasi digital di seluruh penjuru dunia, istilah automasi dan artificial intelligence (AI) sering kali digunakan sebagai penanda hadirnya teknologi digital yang akan menggantikan peran manusia dalam proses bisnis maupun manufaktur.

PromosiMemberi Uang Tanda Terima Kasih kepada Aparat, Wajar atau Tidak?

Kehadiran teknologi digital yang diciptakan sebagai inovasi untuk tujuan efektivitas dan efisiensi justru berubah menjadi ancaman tersendiri bagi para pekerja masa depan. Lalu, bagaimana pekerja masa depan dapat menjawab fenomena ini?

Automasi diartikan sebagai pemanfaatan teknologi, sistem, dan teknologi informasi untuk optimalisasi produksi, sedangkan artificial intelligence (AI) dikembangkan teknologi yang memungkinkan sistem komputer, perangkat lunak, program dan robot yang sengaja dirancang untuk dapat berpikir setara dengan kecerdasan manusia.

astrid widayani
Astrid Widayani. (Istimewa)

Teknologi ini memudahkan manusia untuk menyelesaikan pekerjaan lebih efektif dan efisien, bahkan dalam skala makro dapat mengoptimalkan kinerja perusahaan sehingga roda perekonomian juga akan meningkat. Oleh karena itu, perkembangan teknologi yang muncul sebagai tools akan merubah juga keterampilan kerja yang dibutuhkan oleh para pekerja masa depan.

Pergeseran keterampilan (skill shift) sudah ada sejak berubahnya industry di revolusi industri yang pertama hingga saat ini kita menginjak revolusi industri 4.0. Hanya ada dua pilihan yaitu reskill atau meningkatkan skill sesuai dengan kebutuhan angkatan kerja work 4.0 atau siap untuk bersaing dengan kemajuan teknologi digital yang akan digantikan oleh mesin atau robot.

The World Economic Forum telah meneliti apa saja softskill yang dibutuhkan pada tahun 2025. Berikut 5 Top Skills yang harus dimiliki para pekerja masa depan dalam rangka menghadapi automasi saat ini:

1. Analytical Thinking and Innovation

Sebuah inovasi baru muncul dari skill yang mengedepankan pemikiran terstruktur atau sering disebut dengan analytical thinking. Analytical thinking adalah kemampuan dan mengolah informasi, dimana informasi tersebut menjadi dasar untuk menentukan solusi yang tepat dan kreatif. Solusi inilah yang diwujudkan menjadi sebuah tindakan maupun karya yang inovatif.

Inovasi tidak berhenti pada hasil namun juga perlu dikembangkan keterampilannya. Innovation skill sebagai bagian dari berpikir analitis dimulai dengan terus menerus mencari peluang yang ada dan meningkatkan empati dari sisi kebutuhan customer maupun upaya mencari jawaban dari permasalahan.

2. Active Learning and Learning Strategies

Proses belajar mengajar secara konvensional lebih cenderung satu arah dari guru ke siswa. Saat ini metode pengajaran tersebut memerlukan sebuah penyesuaian skill baru yang disebut dengan Active Learning. Pembelajaran aktif adalah bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran dengan metode yang interaktif, baik antar siswa maupun siswa dengan pengajar.

Active learning akan mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh siswa sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang maksimal sesuai dengan karakteristik pribadi yang dimiliki. Partisipasi aktif siswa diharapkan memiliki keterlibatan langsung dalam pembelajaran baik secara emosional dan intelektual. (bersambung)

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Membangun Persepsi Positif di Tengah Omicron

Opini ini ditulis Suryopratomo, Duta Besar Indonesia untuk Singapura.

Kebingungan Pemerintah dalam Kebijakan Natal dan Tahun Baru

Opini ini ditulis Eni Lestari, pengurus BPC Perhumas Solo, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Era Post-truth dan Model Pemberitaan Pemerintah

Opini ini ditulis Joko Priyono S.Sos M.Si, Kepala Seksi Komunikasi dan Desiminasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Klaten.

Perempuan Muda, Tangguh, dan Berdaya Saing dalam Memimpin Perubahan

Opini ini ditulis Teradijah Febriani, karyawan BUMN, mahasiswa Pascasarja Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Generasi Milenial Jadi Bos, Kompetenkah?

Opini ini ditulis Fina Sunardiyah, pegawai Dirjen Bea Dan Cukai Kementerian Keuangan, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Automasi dan Skill Shift Pekerja Masa Depan (Bagian 2)

Artikel ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

+ PLUS #Bangkit Bersama: Dari Solo untuk Indonesia

Beda dengan tahun lalu, saat perjalanan bisnisnya gelagepan. Seperti terkena virus corona bergejala berat. Kesulitan bernapas, seperti orang berenang mau tenggelam. Tapi tahun ini ceritanya lain.

Automasi dan Skill Shift Pekerja Masa Depan (Bagian 1)

Artikel ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

+ PLUS Tidak Main-Main

Essai ini telah terbit di Koran Solopos edisi 17 November 2021, ditulis oleh Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.

+ PLUS Banjir Brand di Solo

Essai ini telah terbit di Koran Solopos edisi 10 November 2021, ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia.

Komunikasi Publik Pemerintah di Masa Krisis

Opini ini ditulis Joko Priyono S.Sos M.Si, Kepala Seksi Komunikasi dan Desiminasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Klaten.

+ PLUS Jagal…

Essai ini telah diterbitkan di Koran Solopos edisi 3 November 2021, ditulis oleh jurnalis Solopos Sholahuddin.

+ PLUS Daya Mahadata

Essai ini telah diterbitkan di Koran Solopos edisi 27 Oktober 2021, ditulis oleh jurnalis Solopos Ichwan Prasetyo.

+ PLUS Toleran dan Bahagia

Essai ini telah diterbitkan di Koran Solopos edisi 20 Oktober 2021, ditulis oleh jurnalis senior Solopos Syifaul Arifin.

+ PLUS Ketidakpastian adalah Kepastian

Esai ini ditulis oleh Pemimpin Redaksi Solopos, Rini Yustiningsih, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 13 Oktober 2021.