Kategori: Lifestyle

AUTIS: Terapi 24 Jam oleh Orangtua


Solopos.com/Ahmad Hartanto/JIBI/SOLOPOS
Ardi Santoso (FOTO/aha)

Sekolah khusus memegang peranan penting dalam kemajuan perkembangan anak autis. Namun, hal terpenting adalah peran orangtua dalam proses pengasuhan anak. “Seberapa keren dokternya, seberapa mahal sekolahnya, tanpa peran orangtua, anak autis tak akan pernah maju,” kata dokter spesialis anak RS Kasih Ibu Solo, Ardi Susanto, saat ditemui Espos, di ruang kerjanya, Senin (2/4).

Yang terjadi sekarang ini adalah orangtua ingin serba praktis dan instan. Ardi yang pernah meneliti tentang pengaruh perkembangan bahasa anak autis melalui pengasuhan orangtua, menyimpulkan kemampuan bahasa orangtua yang baik berdampak baik pula terhadap anaknya. “Orangtua adalah guru terbaik bagi anak, mereka digugu dan ditiru, itu untuk anak normal apalagi untuk autis, tentunya harus lebih dapat perhatian lagi,” ujar dia.

Untuk itulah, orangtua yang memiliki anak autis harus rela mencurahkan waktu untuk anak.

Perlu diingat, setiap anak yang lahir tidak bisa memilih kondisi lahir seperti apa. Bersama dengan orangtualah, anak autis bisa maju dan berkembang. “Stigma sudah kuat, saya tidak menghakimi semua orangtua begitu tapi bahwa mayoritas seperti itu (malu memiliki anak autis).”

Untuk itulah, ia lebih banyak memberikan dorongan dan nasihat kepada orangtua agar menjadi motor penggerak dalam proses pengasuhan anak. “Di sini saya hanya membantu tapi yang menentukan adalah di rumah.”

Lingkungan terapi yang paling baik adalah lingkungan keluarga. Orangtua harus memosisikan sebagai terapis dibantu bersama dokter dan guru. Orangtua yang memiliki anak autis harus bersedia belajar. “Maka saya bercita-cita membuat parenting class dengan orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Mereka harus dikasih bimbingan, cara mendidik yang benar seperti apa karena sekali lagi, orangtualah kunci sukses anak, bukan saya atau guru, kami hanya membantu.”

Antara anak dan orangtua memiliki hubungan psikis dan emosional yang kuat sehingga meski autis, mereka juga memiliki perasaan yang juga ingin dipahami dan mendapat perhatian dari orangtua. “Mereka juga punya perasaan, ingin dimengerti dan diperhatikan,” lanjut dia.

Dengan orangtua sebagai pengasuh utama, perhatian tercurah penuh dan berlangsung selama 24 jam. Salah satunya proses mengenalkan suatu kata.

“Misal kata ‘susu”. ‘Ayo dik, membuat susu yuk, ini susunya, ini botol susunya. Bantu ayah yuk, membuat susu, ini air dituangkan ke botol susu ya, susunya diaduk. Eh, susunya sudah rata, adik minum susunya ya’. Sudah berapa kali saya mengulang kata ‘susu’. Jika itu dilakukan setiap kali membuat susu, sudah berapa kata yang didengarkan,” kata ardi.

Ini adalah terapi paling bagus, selama 24 jam. Terapi tidak hanya dilakukan sebagaimana terapis, datang lalu pulang. “Terapi itu bisa dilakukan orangtua.”

Share