Sejumlah aktivis peduli perempuan dan anak menggelar aksi dengan membentangkan poster berisi dukungan moril kepada Z, siswi SMAN 1 Gemolong, di komplek Rumdin Bupati Sragen, Kamis (16/1/2020). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN — Seluruh keluarga besar SMAN 1 Gemolong akan berikrar untuk mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan menjunjung tinggi toleransi dalam keberagaman di lingkungan sekolah pada Jumat (17/1/2020).

Hal itu mengemuka dalam audiensi yang digelar Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, di Ruang Citrayasa, kompleks Rumah Dinas (Rumdin) Bupati Sragen, Kamis (16/1/2020). Audiensi itu diikuti orang tua Z, korban intoleransi di lingkungan sekolah karena tidak berjilbab, pengurus Kerohanian Islam (Rohis), pimpinan SMAN 1 Gemolong, perwakilan Cabang Disdikbud Wilayah Jateng VI, Dandim 0725/Sragen, Letkol Kav. Luluk Setyanto, dan lain-lain.

Bisa Stres, Jangan Langsung Cek Smartphone Pas Bangun Tidur!

Dalam pertemuan yang berlangsung lebih dari satu jam itu, Bupati berharap polemik terkait intimidasi siswi karena tidak berjilbab itu harus diakhiri. Bupati meminta masing-masing pihak bisa menahan diri, menghargai keberagaman dan senantiasa menjaga kondusifitas di lingkungan masing-masing.

“Kondusivitas di Sragen merupakan representasi dari kondusifitas nasional. Itu yang harus dijaga bersama,” ujar Bupati pada kesempatan itu.

Dalam mediasi itu, semua pihak bersepakat untuk mengakhiri polemik menyangkut intimidasi siswi tak berjilbab oleh oknum pengurus Rohis SMAN 1 Gemolong. Pihak sekolah sudah berkomitmen untuk memperbaiki diri guna menanggulangi permasalahan serupa tidak terulang.

Pada Jumat pagi, selepas upacara bendera, digelar ikrar bersama yang diikuti semua guru, siswa dan karyawan di SMAN 1 Gemolong. Dalam ikrar itu, mereka berjanji untuk mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, menjunjung tinggi toleransi dan menghargai perbedaan di lingkungan sekolah.

Rencananya, pembacaan ikrar itu akan disaksikan Bupati Sragen dan jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). “Pihak sekolah sudah berkomitmen untuk menjadikan ini sebagai pelajaran berharga. Intinya, pihak sekolah mau berubah jadi lebih baik,” ujar AP, ayah dari Z saat ditemui Solopos.com seusai mediasi.

Jadwal Siaran Langsung Liga Inggris Pekan Ke-23: Bentrok Liverpool Vs MU!

Hingga Kamis, Z belum berangkat ke sekolah. Z juga tidak mengikuti audiensi karena mengalami diare. Z sebetulnya masih berkeinginan melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Gemolong kendati masih menyimpan ketakutan jika intimidasi atau sindiran karena pilihannya tidak memakai jilbab itu masih terjadi.

“Keputusan saya serahkan kepada anak saya. Kalau mau tetap belajar di SMAN 1 Gemolong, saya dukung. Sekolah juga sudah berkomitmen berubah. Tapi kalau mau pindah ke sekolah lain juga tidak apa-apa. Ada beberapa sekolah swasta yang bisa menerima dia,” ucap AP.

Saat berlangsungnya mediasi, sejumlah aktivis peduli perempuan dan anak berkumpul di kompleks Rumdin Bupati Sragen. Mereka membentangkan poster berisi kampanye perlindungan terhadap perempuan dan anak. “Kami tidak punya motivasi lain. Kami hanya ingin Z bisa bersekolah kembali di SMAN 1 Gemolong dengan nyaman tanpa ada paksaan atau gangguan dari pihak lain,” ucap Ketua Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS), Sugiarsi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten