Para warga praktik membuat sumur resapan bantuan dari PT Indaco Warna Dunia di lingkungan RT 021, Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah (Jateng), Selasa (17/9/2019). (Istimewa-Albertin Yesica)

Solopos.com, SRAGEN — PT Indaco Warna Dunia bersama Yayasan Harmoni menggelar penyuluhan pembuatan sumur resapan dan biopori untuk konservasi air dan tanah di daerah zona merah krisis air bersih Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah (Jateng), Selasa (17/9/2019).

Kegiatan tersebut sebagai tindak lanjut dari Program Keanekaragaman Hayati yang digelar PT Indaco dengan Pemerintah Desa Dawung, Kecamatan Jenar.

Kegiatan pembuatan sumur resapan difokuskan di lingkungan Dukuh Winong RT 021 yang menjadi zona merah krisis air bersih di Desa Dawung. Penyuluhan tersebut diikuti belasan warga setempat dan dilanjutkan dengan praktik pembuatan sumur resapan di dua lokasi.

Dalam kesempatan itu, PT Indaco menghadirkan Ketua Program Kampung Iklim (Proklim) Ngadirejo, Kecamatan Kartasura, Kebupaten Sukoharjo, Suryono Arief Wijaya, Kepala Desa Dawung Aris Sudaryanto, pejabat dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), perwakilan Kelompok Tani Hutan (KTH), dan petugas penyuluh kehutanan Kecamatan Jenar.

Ketua Proklim Ngadirejo, Kartasura, Sukoharjo, Suryono Arief Wijaya, dalam paparannya menekankan edukasi masyarakat untuk bersama-sama mengonservasi air dan tanah menjadi kunci. Untuk mengatasi kekeringan atau krisis air bersih itu, ujar dia, sumbernya hanya satu, yakni dari air hujan.

Dia mengedukasi warga di wilayah desanya agar air hujan pada musim penghujan tidak habis lari ke sungai tetapi bisa bertahan di tanah dengan cara konservasi air dan tanah. Dia berharap Dukuh Winong bisa menjadi percontohan bagi desa-desa lainnya dalam konservasi air dan tanah.

"Konservasi air dan tanah itu butuh waktu lama. Bisa 2-4 tahun baru bisa memanen air hujan. Caranya dengan gerakan menanam pohon di daerah hulu. Ada 15 jenis pohon yang bisa digunakan untuk konservasi air, seperti beringin, bambu, gayam, trembesi, aren, kedawung, elo, preh, bulu, benda, kepuh, randu, jambu air, dan jambu alas," ujar Arief, sapaan akrabnya.

Selain gerakan penanaman pohon, Arief juga menyarankan untuk pembuatan biopori, yakni membuat lubang-lubang kecil agar air bisa terserap ke dalam tanah. Dia mencontohkan tayangan video tentang manfaat biopori untuk antisipasi banjir dan kekeringan.

Selain itu, Arief juga menunjukkan teknik pembuatan sumur resapan dengan menggunakan bus beton. Dia menerangkan sumur resapan bisa menampung air hujan lebih banyak sehingga air bisa bertahan di dalam tanah.

"Jarak sumur resapan dengan fondasi rumah itu paling hanya 1 m. Kedalamannya bervariasi, yakni bisa sampai 5 m. Bila tanahnya gembur maka air mudah meresap tetapi bila tanahnya berupa tanah liat maka bisa ditambahi pasir dan koral serta ijuk untuk menyaring air agar bersih," ujar Arief.

Kepala Desa Dawung, Aris Sudaryanto, menyampaikan apresiasi kepada PT Indaco yang merespons kondisi warga yang mengalami krisis air bersih. Dia menyampaikan Dukuh Winong yang terdiri atas RT 021, 022, dan 023 merupakan daerah zona merah krisis air bersih saat musim kemarau seperti ini.

Dia menyampaikan Pemerintah Kabupaten Sragen sudah memberi bantuan tandon dan air bersih secara berkala tetapi hal itu bukan menjadi solusi permanen.

"PT Indaco mau berpikir jauh untuk membantu warga agar terentaskan dari zona merah kekeringan dengan cara pembuatan sumur resapan. Ada dua sumur yang dibuat dengan bantuan dari PT Indaco dengan biaya Rp2,5 juta-Rp3 juta per sumur. Program PT Indaco ini selaras dengan program Pemdes Dawung yang rencana mau membangun lima unit sumur resapan dengan menggunakan dana desa (DD)," ujarnya.

Namun program tersebut masih menunggu petunjuk regulasi penggunaan DD dari Pemkab Sragen. Pada 2020, Aris mengatakan Pemdes Dawung akan mengalokasikan DD senilai Rp50 juta untuk pembuatan sumur resapan itu.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten