Warga Mojorejo, Sukoharjo, menunjukkan kompor yang memakai gas metana hasil pengolahan sampah TPA Mojorejo, Jumat (8/3/2019). (Solopos-Indah Septiyaning W.)

Solopos.com, SUKOHARJO-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo akan meningkatkan produksi gas metana hasil pengolahan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mojorejo, Bendosari, hingga 60 sambungan baru.

Saat ini sambungan gas metana mengkaver 40 pengguna di kawasan TPA Mojorejo. Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo Agus Suprapto mengatakan pemanfaatan gas metana dari hasil pengolahan sampah TPA sudah berjalan sejak tiga tahun lalu. "Sampai sekarang baru ada 40 sambungan ke pengguna. Nanti akan kami tingkatkan menjadi 100 sambungan," kata dia kepada wartawan, Rabu (6/3/2019).

Pemanfaatan gas metana oleh masyarakat di sekitar TPA Mojorejo diberikan secara gratis. Pemanfaatan gas metana ini terus dimaksimalkan sehingga sampah tidak terbuang sia-sia dan bisa dimanfaatkan untuk warga. Namun demikian penambahan 60 sambungan baru ditargetkan terealisasi hingga dua tahun ke depan. Hal ini mengingat anggaran yang dibutuhkan untuk penyambungan gas metana tersebut cukup tinggi.

"Warga yang mendampatkan sambungan gas metan sangat diuntungkan. Karena gas dapat digunakan secara gratis," katanya.

Dia mengatakan sementara ini sambungan gas metan masih diprioritaskan untuk warga yang tinggal di sekitar TPA Mojorejo, Bendosari. Hal itu untuk mempermudah proses pembuatan pipa sambungan. Sebab jarak yang terlalu jauh maka resiko dan biayanya juga semakin besar. Saat ini volume sampah buangan masyarakat Sukoharjo ke TPA Mojorejo mencapai 130 ton per hari. Jumlah tersebut akan ditekan menjadi 100 ton per hari. Pengurangan dilakukan dengan memaksimalkan pengelolaan sampah di tingkat RT/RW dan desa.

"Nah sampah yang terlanjur dibuang di TPA Mojorejo inilah yang dimanfaatkan untuk diambil gas metana," katanya.

DLH Sukoharjo mencatat volume sampah meningkat dari tahun ke tahun. DLH berusaha keras menekan volume sampah buangan masyarakat ke TPA Mojorejo. Sebab 167 desa dan kelurahan mereka sebagian besar sudah memiliki tenaga dan tempat pengolahan sampah sendiri.

"Sampah ke depan bisa dikelola desa dan kelurahan sehingga buangan ke TPA Mojorejo tidak banyak. Dengan pengelolaan itu desa dan kelurahan juga bisa memiliki pendapatan sendiri dan tidak menimbulkan masalah pencemaran lingkungan," katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten