ASEM-ASEM Kikil Bikin Merem Melek
Asem-asem Kikil Bu Kumba (JIBI/SOLOPOS/Nadhiroh)
Asem-asem Kikil Dapur Solo (istimewa)

Bagi masyarakat Solo dan sekitarnya, masakan asem-asem sudah tak asing lagi. Jenis asem-asem yang biasa dijumpai yaitu asem-asem kikil sapi. Di beberapa tempat makan di Kota Bengawan, bisa ditemui asem-asem kikil berkuah dan tanpa kuah.

Saat Solopos.com berkunjung ke Dapur Solo di Jl Slamet Riyadi dekat palang kereta api Purwosari, Solo, Selasa (5/3), asem-asem kikil menjadi salah satu lauk yang diminati dari berbagai varian lauk masakan Jawa lainnya.

Di Dapur Solo, asem-asem kikil disajikan tanpa kuah. Meski tanpa kuah, rasa asem-asem kikil Dapur Solo benar-benar terasa bumbunya dan kikilnya pun empuk.

“Sensasi asem-asem kikil Dapur Solo adalah kenyal kikilnya tapi empuk saat digigit. Rasa asam, sedikit manis dan sedikit pedas terpadu nikmat ketika telah sampai di lidah,” ujar pemilik Dapur Solo, Suripto.

Banyak orang belum tahu bagaimana menikmati kikil. Kikil adalah bagian dari kulit yang tebal dari sapi.  Kulit sapi itu berasal dari bagian kepala, kaki atau bagian lain yang berkulit tebal dibersihkan dan direbus. Kikil yang sudah bersih dipotong kecil-kecil dengan ukuran 1,5 cm–2 cm  dimasak dengan bumbu bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai hijau, tomat hijau, daun salam, laos, kecap manis serta saus tomat.

Di Dapur Solo, pembeli dapat mengambil sendiri asem-asem kikil karena resto itu melayani secara prasmanan. Harga asem-asem kikil dihitung per biji yaitu kurang lebih Rp1.000.

“Asem-asem kikil akan semakin nikmat sebagai lauk makan bila dipadukan dengan sayur cah atau tumisan dan sambal bawang,” tambah Suripto.

Asem-asem Kikil Bu Warni (JIBI/SOLOPOS/Nadhiroh)

Asem-asem kikil yang hadir tanpa kuah juga bisa ditemui di Warung Warni di Jl Depok, Manahan, Banjarsari, Solo, dekat simpang empat Gondang. Asem-asem kikil di warung ini kondang dengan sebutan kikil bledheg.

Sebenarnya, sensasi rasa pedas dalam kikil bledheg ini disebabkan sambal yang dibuat secara terpisah. Jika Anda tidak begitu suka pedas, bisa minta tanpa sambal. Apabila sudah telanjur diberi sambal, tinggal disisihkan saja di pinggir piring.

“Bumbu yang dipakai di tempat kami sama dengan asem-asem. Ada cabai, tomat dan rahasia dapur lainnya. Kami tidak memakai buncis, murni kikil. Kikil di tempat ini bikin merem melek, tidak lengket dan tidak bau perengus. Untuk membuat sambal, kami butuh 2 kg lombok,” ujar Warni saat ditemui Solopos.com, Rabu (6/3).

Satu porsi nasi, asem-asem kikil, daun pepaya dan tempe tahu dibanderol Rp10.000. Apabila hanya ingin membeli asem-asem kikil, Warni bersedia melayani mulai harga Rp10.000.

Apabila Anda berminat dengan asem-asem kikil yang berkuah, Warung Bu Kumba di Jl Parangkusumo, Tegalrejo, Laweyan, Solo bisa jadi sasaran. Satu porsi asem-asem kikil di Warung Bu Kumba dipatok Rp5.000. Jika ditambah sepiring nasi menjadi Rp7.000.

Pengelola Warung Bu Kumba, Kustinah, 41, menuturkan asem-asem kikil di tempatnya merupakan asem-asem kikil spesial tanpa irisan buncis.

Asem-asem Kikil Bu Kumba (JIBI/SOLOPOS/Nadhiroh)

“Rasanya pedas, manis, asem, asin. Nano-Nano dan tetap enak. Biasanya pelanggan menyebutnya gokil [sega kikil]. Kalau yang suka pedas biasanya memesan gokil karena pedasnya sensasi sekali. Kalau tidak suka pedas, memilih sup ndesa,” terang Kustinah.

Menurut Kustinah, warungnya sering disambangi pengunjung dari luar kota. Pelanggannya itu menyempatkan mampir untuk menikmati asem-asem kikil. “Kami berjualan asem-asem kikil 20 tahun lebih. Pelayanan yang kami berikan di warung seperti di rumah kedua sehingga makan pun santai,” imbuhnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom