Asale Desa Genting Boyolali: Namanya Berkaitan dengan Peristiwa G 30 S PKI
Pengguna kendaraan melintas di tikungan Irung Petruk, Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali belum lama ini. Lokasi tersebut menjadi salah satu ikon di Desa Genting. (Bayu Jatmiko Adi/Solopos)

Solopos.com, BOYOLALI -- Setiap akhir September, sebagian warga Indonesia mungkin teringat peristiwa yang sering disebut dengan pemberontakan PKI. Di Boyolali ada satu desa bernama Genting yang punya keterkaitan dengan peristiwa berdarah tersebut.

Asale Desa Singodutan Wonogiri, Simbol Perlawanan Pribumi kepada Penjajah

Desa Genting adalah nama salah satu desa di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Genting memang bisa berarti tutup atap rumah, namun bisa juga berarti suasana yang menegangkan. Untuk asal mula nama Desa Genting, tampaknya mengacu pada makna genting sebagai suasana yang menegangkan.

Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, dulunya wilayah yang saat ini bernama Genting, disebut sebagai Kampung Rejo. Suatu ketika daerah Rejo digunakan sebagai tempat persembunyian oleh salah satu pejabat pemerintah yang terlibat gerakan PKI. Tidak diketahui pasti identitas pejabat itu. Namun saat itu dia menjadi buronan.

Asale Jalan Ciu Sukoharjo, Populer Berkat Sopir Truk Sejak 1950-an

Kampung Rejo kemudian menjadi sasaran operasi penencarian buronan yang dimaksud. Akhirnya buronan tersebut bisa diamankan berkat kerja sama dengan warga setempat. "Warga tidak menutupi keberadaan orang yang dicari itu, akhirnya warga menyerahkan orang yang dicari itu kepada petugas keamanan," kata Kepala Desa Genting, Komedi, kepada Solopos.com, Sabtu (10/10).

Dari suasana yang sempat mencekam itu wilayah tersebut akhirnya dinamakan Genting. Di Desa Genting saat ini terbagi menjadi beberapa dusun, di antaranya Genting Rejo, Genting dan Genting Sari. Meski begitu Genting yang saat ini, tidak segenting namanya.

Asale Desa Tanjung di Nguter Sukoharjo: Dulu Hutan Belantara Banyak Pohon Tanjung

Sesuai data BPS, wilayah Desa Genting memiliki luas sekitar 2.321 meter persegi dengan jumlah penduduk pada 2019 lalu sebanyak 6.869 jiwa. Berada di lereng gunung Merbabu, desa tersebut memiliki potensi di bidang pertanian terutama sayur-sayuran. Mulai dari bawang merah, kobis, wortel, sawi, cabai, tomat dan sebagainya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom