Kategori: Sragen

Asale Cikal Bakal Turi dan Makam Majapahit di Sragen


Solopos.com/Tri Rahayu

Solopos.com, SRAGEN--Ratusan akar sulur beringin tumbuh pada batang yang melintang antara dua pohon, beringin dan trembesi.

Dua pohon berukuran besar itu seperti sebuah gapura masuk yang menyambut setiap pengunjung yang memasuki kompleks sendang yang berada di pinggiran Kampung Turi, Kelurahan Sine, Kecamatan Sragen Kota. Sendang itu dikenal warga setempat bernama Sendang Turi tetapi nama sebenarnya Sendang Joko Mulyo Pitutur.

Sendang tersebut diyakini sebagai cikal bakal Kampung Turi yang ada di wilayah Sine, Sragen Kota, dan Dukuh Turi, Desa Guworejo, Kecamatan Karangmalang, Sragen. Air sendang itu tak pernah kering sepanjang tahun. Bahkan airnya merembes di empat lokasi dan dimanfaatkan untuk mengairi lahan padi milik warga setempat.

“Kadang airnya seperti ada minyaknya. Kadang juga jernih. Jadi ada perubahan warna airnya,” ujar tokoh masyarakat Turi, Sine, Hari Supriyanto, saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (9/1/2021).

Bencana Longsor Di Sumedang, 11 Korban Meninggal 8 Orang Hilang

Sekitar 100 meter sebelah barat daya dari sendang itu terdapat tanah lapang yang tidak bisa ditanami jenis tanaman apa pun. Hanya rumput yang tumbuh di tanah seluas 3.750 m2 milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen itu.

Lokasi itu dikenal warga sebagai oro-oro bunder karena bentuknya yang menyerupai lingkaran (bunder dalam bahasa Jawa). Tempat itu masih dianggap angker. Di tempat itu sering ditemukan emas, tembikar, bahan logam, dan seterusnya pada tahun 1980-an. Sekarang menjadi lahan menganggur.

“Tempat itu dipercaya sebagai semacam pesanggarahannya Brawijaya, Raja Majapahit. Sendang itu menjadi sumber air bagi keluarga Brawijaya saat beristirahat setelah berziarah ke makam leluhurnya yang ada di wilayah Kampung Wonowoso, Sine. Makam itu berjarak 500 meter dari sendang. Makam itu dikenal sebagai Makam Majapahit oleh warga sekitar,” ujar Hari.

Sendang yang pertama sekitar 100 meter arah timur dari sendang sekarang memiliki sumber air yang besar. Pada zaman kolonial Belanda, sendang itu ditutup dengan ijuk dan dandang karena dikhawatirkan sumber air itu bisa menenggelamkan wilayah Turi yang sebelumnya merupakan rawa. Di lokasi sumber air itu kemudian diberi tanda pohon ploso.

“Karena sumber yang besar akhirnya membentuk sumber baru di lokasi yang sekarang disebut Sendang Turi,"imbuhnya.

Ada 7 Anak-Anak Dan 3 Bayi Dari 62 Manifes Sriwijaya Air Yang Jatuh

Makam Seorang Putri

Seorang tokoh masyarakat yang dituakan, Suraji, 65, saat berbincang dengan Solopos.com, menyampaikan Sendang Turi itu berkaitan dengan lima sendang lainnya, yakni Sendang Plosorejo, Sendang Wonowoso, Sendang Tawang, Sendang Sine, dan Sendang Senden (dekat Pasar Gonggang, Karangudi, Ngrampal).

Suraji menjelaskan nama Turi diambil dari nama sedang, yakni kata pitutur atau mituturi menjadi Turi. Sendang itu memang masih berhubungan dengan Raja Mapajapahit karena sendang yang ada di Wonowoso itu dikenal dengan nama Sendang Majapahit.

“Makam Majapahit itu merupakan kerajaan gaib yang tamannya barangkali sampai di Sendang Turi itu. Di tanah oro-oro bunder itu dulu sering terdengar suara gamelan ramai. Kalau dicari semakin mejauh dan akhirnya suaranya tetap berasal dari tanah kosong itu. Tanah itu masih angker,” ujarnya.

Juru kunci Makam Majapahit Sumadi saat berbincang dengan Solopos.com juga membenarkan bila Makam Majapahit merupakan kerajaan dan ada sendangnya juga bernama Sendang Majapahit. Dia menerangkan makam ini awalnya merupakan makam tunggal seorang putri cantik yang namanya Nyi Sri Rahayu.

“Kalau yang ada di Sendang Majapahit seorang laki-laki, Ki Sendang Majapahit, karena tidak diketahui namanya. Dulu ada pohon trembesi berukuran besar. Pohon itu ditebang dan dijual. Yang membeli dan menjual pohon itu akhirnya meninggal,” ujarnya.

Share
Dipublikasikan oleh
Anik Sulistyawati