ASAL USUL : Inilah Mitos Sumber Air Asin Ngaglik Boyolali
Sekretaris Desa Ngaglik, Mukimin, menunjukkan lokasi sumber mata air asin di Desa Ngaglik, Sambi, Boyolali, Jumat (8/5/2015). (Kharisma Dhita Retnosari/JIBI/Solopos)

Asal usul ini seputar kisah sumber air asin di Ngagli, Sambi, Boyolali.

Solopos.com, BOYOLALI - Desa Ngaglik, Sambi, Boyolali, memiliki sumber air asin yang berada di tengah areal persawahan. Sumur air asin itu berada dekat jembatan kecil yang dikenal dengan jembatan Kalionto.

Kepala Desa Ngaglik, Daryanto, mengatakan sumber air asin di Desa Ngaglik sudah ada jauh sejak zaman kolonial Belanda. Sumber utama mata air asin tersebut terpusat pada satu buah sumur utama berdinding batu sedalam belasan meter.

Tak jauh di sekitar sumur utama tersebut, puluhan belik atau subsumur asin banyak terdapat di sekitarnya. Menurut Daryanto, karena sudah tidak aktif lagi, saat ini sebagian besar sub sumur tersebut banyak yang telah tertimbun rata dengan tanah.

Diduduk [digali] setengah meter saja itu sudah keluar air asinnya. Orang-orang jaman sekarang mau melanjutkan usaha [memproduksi garam] itu juga pikir-pikir karena hasilnya enggak cucuk dan sudah kalah dengan garam olahan pabrik yang produksinya lebih masif,” kata dia saat dijumpai di rumahnya, beberapa waktu lalu.

Tak hanya warga Desa Ngaglik, sebagian warga desa tetangga, yakni Desa Trosobo dulu juga ikut memanfaatkan sumber asin untuk memproduksi garam secara tradisional. Aktivitas produksi garam tersebut sukses menghidupi warga di dua desa tersebut.

Produksi garam tradisional kala itu memanfaatkan potongan bilah-bilah bambu yang disusun berderet. Deratan bilah-bilah bambu tersebut kemudian ditumpuk lagi beberapa lapis ke atas dan terakhir di tutupi semak-semak di bagian atasnya.

Malam hari, warga beraktivitas mengangsu air asin dari dalam sumur untuk dibawa ke lokasi penggaraman yang juga berada di dekatnya. Aktivitas dilakukan malam hari karena pada pagi-sore digunakan warga untuk bertani. Setelah 3-5 hari, garam baru dapat dipanen. Garam hasil panenan dipasarkan hingga ke luar wilayah Boyolali.

Ditemui terpisah, Sekretaris Desa Ngaglik, Mukimin, mengatakan dulu area sekitar sumber air asin tak pernah sepi, selalu ramai dengan aktivitas selama hampir 24 jam.

Pagi-siang ramai dengan aktivitas pasar tradisional yang ada di dekat jembatan kecil Desa Ngaglik. Pasar tersebut selalu ramai, belum lagi dengan adanya pedagang-pedagang kain etnis Tionghoa dari Semarang yang sengaja datang berdagang di sana.

Kini aktivitas tersebut tak lagi ditemui. Lokasi sumber air asin terbengkalai. Sumber air asin tak lagi dimanfaatkan karena kalah bersaing dengan pabrik-pabrik garam modern.

Pada pembuatan garam tradisional, harus menunggu 3-5 hari untuk memproduksi sekitar 20 kilogram garam. Selain itu warga masih trauma dengan kejadian meninggalnya seorang ibu yang diduga bunuh diri bersama dua orang anak kembarnya di dalam sumur asin tersebut pada sekitar 1992 silam.

Penelitian dari sejumlah kalangan sudah berkali-kali dilakukan di sumber air asin tersebut. Mulai dari institusi pendidikan seperti Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, hingga pemerintah pernah mengadakan penelitian di sumber air tersebut.

Menurutnya, pernah ada pihak swasta yang berniat membeli kawasan sumber air asin tersebut untuk penelitian. Namun masyarakat setempat menolak dengan alasan khawatir jika nanti tempat tersebut disalahgunakan.

“Sempat mendengar dari penelitian terakhir, sumber air asin tersebut juga ada kandungan minyak tanahnya. Tapi tidak jadi dieksplorasi karena areanya kurang luas,” kata dia saat dijumpai solopos.com di rumahnya, Jumat (8/5/2015) siang.

Bibit, 52, warga yang lokasi rumahnya bersebelahan dengan area lokasi sumber air asin mengatakan tak seorang pun mengetahui riwayat pasti keberadaan sumber mata air asin tersebut.

Sejauh yang diketahui warga, sumber air asin tersebut sudah ada sejak zaman kolonial. Namun dibalik itu berkembang juga mitos yang menyebutkan daratan Desa Ngaglik dulu nyaris menjadi laut akibat luapan air asin yang menyembur dari bawah tanah.

“Beruntung para wali berhasil menyumbat titik pusat luapan tersebut. Sumur mata air asin yang berada di tengah areal persawahan Desa Ngaglik itulah yang dipercaya sebagian warga sebagai sumbatan luapan air asin yang dulu hampir menenggelamkan Desa Ngaglik,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho