ASAL USUL : Asale Tradisi Wahyu Kliyu Jatipuro Karanganyar
Ribuan warga Dusun Kendal, Desa Jatipuro, Kecamatan Jatipuro, melempar apem dalam upacara Wahyu Kliyu di salah satu rumah warga setempat, Kamis (23/12/2010) dini hari. (Dok/JIBI/Solopos)

Asal usul kali ini mengenai upacara tradisi.

Solopos.com, KARANGANYAR -- "Wahyu Kliyu-Wahyu Kliyu!" Mantan Kepala Desa Jatipuro, Rakino, 57, menirukan kalimat yang harus diucapkan warga saat mengikuti upacara adat lempar apam atau Wahyu Kliyu. Upacara adat itu dilaksanakan dengan melempar 344 apam.

Hanya warga Dusun Kendal, Desa Jatipuro, Kecamatan Jatipuro, Karanganyar yang merayakan setiap Bulan Sura tanggal 15 atau bulan purnama.

"Hanya warga Dusun Kendal. Biasanya dilaksanakan di halaman rumah saya. Tetapi, pernah pada 2012 itu pindah ke rumah orang lain. Enggak apa-apa yang penting setiap Sura dilaksanakan," kata Rakino saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (7/5/2016).

Upacara adat itu sudah dilaksanakan turun temurun. Menurut cerita orangtuanya, upacara adat itu sudah dilaksanakan sejak zaman Ki Renggo Wijoyo menjabat kepala desa. Menurut perhitungannya itu sudah delapan generasi hingga sekarang.

"Sebaran atau kondangan apam sudah turun temurun. Sampai sekarang enggak ada yang berani menghentikan upacara adat ini," tutur dia.

Sejumlah warga Dukuh Kendal mempercayai apabila menghentikan upacara adat itu maka akan menyebabkan malapetaka. Dahulu, warga pernah menghentikan upacara adat Wahyu Kliyu. Rakino mengungkapkan tanah warga kering karena kemarau panjang, banyak warga sakit, dan bencana alam lindu.

"Lalu lurah saat itu bermimpi tanah di Dusun Kendal itu berlubang besar. Dia mengumpulkan tokoh masyarakat dan menceritakan mimpi. Salah satunya abdi dalem Keraton Solo, Rondo Menang. Keesokan hari, tanah di Dusun Kendal bengkah," cerita dia.

Sejumlah warga berinisiatif mengukur kedalaman retakan tanah menggunakan genter atau bambu yang disambung-sambung. Tetapi tidak pernah sampai dasar. Anehnya, saat warga menarik bambu itu, ujung bambu terselip gobang. Rondo Menang menyarankan kepala desa saat itu menghadap Raja Keraton Solo untuk melaporkan kejadian itu.

"Keraton memerintahkan warga melaksanakan Wahyu Kliyu lagi dengan 344 apam. Maknanya gotong-royong. Warga bawa apam setenggok dan daun pisang," tutur dia.

Setiap keluarga wajib menyumbangkan apam. Upacara adat dilakukan dengan melemparkan apam satu demi satu ke tempat yang sudah disediakan panitia upacara adat. Upacara dimulai dengan membaca Bismillah lalu mengucapkan Wahyu Kliyu sembari melempar apam satu demi satu.

"Sebetulnya Wahyu Kliyu itu dari kalimat ya hayyu ya qayyum. Maknanya meminta kehidupan dan kekuatan kepada Allah. Memohon kesejahteraan dan berkah melimpah. Ini sekaligus melestarikan budaya," tutur dia.

Makam Rondo Menang ada di tengah-tengah Dusun Kendal. Masih sering didatangi orang yang percaya dan melakukan ritual. Terutama saat pemilihan umum. Makam masih dirawat warga."

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya








Kolom