AS Pertimbangkan Aksi Militer ke Venezuela untuk Lengserkan Maduro
Pendukung Presiden Venezuela Nicolas Maduro turun ke jalan mendukung pemerintahnya dan serta untuk memperingati Hari Buruh (May Day) di Caracas, Venezuela, Rabu (1/5/2019)./Reuters/Carlos Eduardo Ramirez

Solopos.com, WASHINGTON DC-Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo menyatakan aksi militer di Venezuela “mungkin” dilancarkan oleh AS untuk menuntaskan krisis berkelanjutan terutama setelah ada upaya kudeta. Tujuannya mendongkel Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Sebagaimana dikutip dari Detik.com, Pompeo menegaskan pemerintahan Presiden Donald Trump bersiap mengambil langkah tersebut. "Presiden [Trump] sudah sangat jelas dan luar biasa konsisten. Aksi militer mungkin dilakukan. Jika itu yang diperlukan, maka itulah yang akan dilakukan Amerika Serikat," kata Pompeo dalam pernyataan kepada media AS Fox Business Network seperti dilansir AFP, Kamis (2/5).

Saat upaya kudeta untuk melengserkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro berlangsung, Selasa (30/4) lalu, AS terang-terangan mendukung pemimpin oposisi Juan Guaido yang memimpin kudeta tersebut. AS mengklaim pihaknya peduli kepada rakyat Venezuela dan kebebasan mereka dari rezim Maduro yang dianggap membawa Venezuela ke dalam krisis ekonomi dan kemanusiaan.

Dalam pernyataan terbaru, Pompeo menyatakan bahwa AS lebih memilih terjadinya transisi kekuasaan secara damai dengan Maduro mengundurkan diri dan pemilu baru digelar untuk memilih pemimpin yang baru.

Dalam pernyataan terpisah kepada CNN, Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton menyebut Pompeo akan membahas situasi Venezuela dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov yang mendukung Maduro.

Baik Bolton dan Pompeo menuduh Rusia dan Kuba sengaja menghalangi perubahan rezim di Venezuela. Bolton bahkan menyebut Rusia selalu memprovokasi pihak lain.

Rusia bereaksi keras dengan menuduh AS sengaja menyebarkan informasi palsu. "Washington berupaya sebaik mungkin untuk merusak semangat tentara Venezuela dan menggunakan informasi palsu sebagai bagian dari perang informasi," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova.

Sementara Maduro menyebut klaim Pompeo itu “sinting” dan menyebutnya sebagai “kebohongan dan manipulasi”. "Tolong, Tuan Pompeo, Anda tidak serius," ucapnya.

Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland menyerukan Maduro mundur.

"Rakyat Venezuela berada di jalan-jalan hari ini untuk menunjukkan keinginan mereka untuk kembali ke demokrasi, bahkan dalam menghadapi penindasan dengan kekerasan," kata Freeland pada konferensi pers seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis.

Pemimpin oposisi Juan Guaido menyerukan serangkaian aksi demonstrasi sebagai bagian dari kampanye untuk memaksa Presiden Maduro melepaskan kekuasaan. Dia mengatakan akan ada aksi protes setiap hari sampai Venezuela bebas. Guaido berbicara kepada ribuan pengunjuk rasa yang kembali ke jalan-jalan sehari setelah upaya kudeta gagal.

Di Ibu Kota Caracas, bentrokan terjadi dengan polisi menggunakan gas air mata dan peluru karet, sementara pengunjuk rasa menyerang kendaraan lapis baja dengan batu dan bom molotov. Berbicara kepada para pendukungnya di Caracas, Guaido berjanji melanjutkan demonstrasi setiap hari untuk mencapai kebebasan. "Kita berada di jalur yang benar, tidak ada jalan untuk kembali," katanya.

Dia juga mengatakan akan ada serangkaian aksi mulai Kamis dan memuncak dalam aksi demonstrasi besar-besaran.

Avatar
Editor:
Syifaul


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom