Arus Balik Sepi Gegara SIMK, Agen Tiket Bus Klaten Menjerit
Suasana di salah satu agen tiket bus malam di Terminal Ir Soekarno Klaten terlihat sepi, Senin (1/6/2020). (Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN — Sejumlah agen tiket bus malam di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah mengeluhkan penyertaan surat izin masuk keluar (SIMK) bagi pemudik yang ingin kembali ke Jakarta dan sekitarnya. Pemberlakuan SIMK di kawasan zona merah Covid-19 itu dinilai sebagai penyebab utama minimnya penumpang selama arus balik Lebaran 2020 dari Klaten.

Berdasarkan data yang dihimpun Solopos.com, puluhan agen bus malam di Terminal Ir Soekarno Klaten memilih tiarap selama pandemi Covid-19. Situasi tersebut masih berlangsung hingga pasca-Lebaran 2020.

Meski di Klaten dan berbagai daerah lainnya di Tanah Air sudah menerapkan new normal atau kenormalan baru, hal itu belum cukup membantu para agen tiket bus malam dalam mengais rezeki.

Warga Wonogiri Punya KKS Tapi Tak Pernah Terima Bantuan, Begini Penjelasan Dinsos

"Agen tiket bus saat ini kondisinya mengerikan. Hidup segan mati pun tak mau. Gambarannya seperti itu. Soalnya memang sepi sekali. Penumpang di saat seperti ini hanya 1-2 orang," kata salah satu agen tiket PO Gunung Harta, Petrus, saat ditemui Solopos.com, di kompleks Terminal Tipe A Ir. Soekarno Klaten, Senin (1/6/2020).

Petrus mengatakan jumlah penumpang bus pasca-Lebaran 2020 atau di masa arus balik dari Klaten masih sepi. Selain masih khawatir dengan persebaran virus corona, di daerah zona merah seperti Jakarta, menerapkan persyaratan SIKM bagi pemudik yang ingin balik ke tanah perantauan. Persyarayan SIKM dapat diakses secara online.

"Meskipun dapat diakses online, mengurusnya sangat ribet. Terkadang ada calon penumpang saya yang sudah memenuhi persyaratan itu. Tapi saat mengurus SIKM sulit. Akhirnya tidak disetujui. Ini juga merugikan kami. Soalnya calon penumpang saya tadi, membatalkan pemesanan tiket," katanya.

SIMK Bikin Sulit Cari Penumpang

Hal senada dijelaskan agen tiket bus PO Putera Mulyo, Danang. Persyaratan bagi penumpang dengan tujuan Jakarta dan sekitarnya dengan mengantongi SIMK dinilai menyulitkan para agen bus mencari penumpang.

Belajar di Rumah Berlanjut, Kenali 6 Cara Menumbuhkan Minat Baca Anak

"Di tengah pandemi Cocid-19 ini, kami juga menerapkan jaga jarak. Bus yang sebenarnya isi 50 penumpang, maksimal diisi separuhnya. Sayangnya, target itu juga tak pernah terpenuhi. Saat ini mencari delapan penumpang sangat sulit. Penyebabnya, para penumpang harus mengantongi SIMK itu," katanya.

Penerapan pembatasan sosial beeskala besar (PSBB) di Jakarta dan sekitarnya telah mengakibatkan seorang kru bus Putera Mulya, Albertus Sakad, terkatung-katung di Cibitung selama tiga hari terakhir.

"Awalnya saya mengantar beberapa penumpang ke Cibitung. Setelah di sana, saya tertahan selama tiga hari terakhir. Soalnya memang tak ada penumpang," katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho