Kepadatan arus lalu lintas di simpang empat Pilangsari, Ngrampal, Sragen, terlihat dari monitor di ruang pengendali ATCS Dishub Sragen, Sabtu (8/6/2019). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Jalanan di dalam kota Sragen dipadati kendaraan dari arah timur (Ngawi) pada puncak arus balik https://soloraya.solopos.com/read/20190607/491/997125/museum-sangiran-targetkan-12.000-pengunjung" title="Museum Sangiran Targetkan 12.000 Pengunjung">Lebaran 2019, Sabtu (8/6/2019). Kepadatan arus lalu lintas membuat kendaraan tak bisa melaju cepat.

Pantauan Solopos.com, arus kendaraan roda empat dari arah Ngawi, Jawa Timur, padat dan masuk kota lewat simpang empat Pilangsari. Jalur alternatif ring road selatan relatif landai karena pengguna jalan menumpuk di Jl. Raya Sukowati dalam Kota Bumi Sukowati.

Koordinator Posko Lebaran Dinas Perhubungan (Dishub) Sragen, Teguh Ristanto, saat berbincang dengan Solopos.com di ruang pengendali area traffic control system (ATCS) Dishub Sragen, Sabtu siang, menunjukkan arus kendaraan roda empat dari arah Ngawi di simpang empat Pilangsari, Ngrampal, Sragen, padat merayap. 

Antrean kendaraan pribadi dalam durasi 38 detik mencapai 25 unit mobil pribadi. Sementara pada waktu yang sama pengaturan lampu lalu lintas (traffic light) hanya bisa meloloskan 15 unit mobil.

Mestinya, kata Teguh, mulai dari Pilangsari, https://soloraya.solopos.com/read/20190606/491/996995/kasus-lakalantas-di-sragen-naik-4-kali-lipat-pada-lebaran-2019" title="Kasus Lakalantas di Sragen Naik 4 Kali Lipat Pada Lebaran 2019">Sragen, mobil dialihkan ke jalur alternatif ring road selatan sehingga tidak terjadi kepadatan di dalam kota. Dampak dari padatnya arus dari Jawa Timur itu menumpuk di sejumlah persimpangan dalam kota, seperti persimpangan Terminal Lama, persimpangan Alun-alun, persimpangan Pos Lantas, persimpangan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK), persimpangan Harmoni, hingga Beloran, dan Gambiran. 

"Walaupun padat kendaraan tidak sampai terjadi kemacetan yang parah,” ujarnya.

Teguh mengatakan jalur yang diwaspadai yakni simpang tiga Gambiran yang merupakan pertemuan arus dari Jawa Timur dengan arus dari objek wisata Dayu Park. Dia melanjutkan sekitar 100 meter arah barat dari persimpangan itu juga terdapat bottleneck sehingga potensi kemacetan sangat tinggi di persimpangan itu.

“Tadi pukul 09.00 WIB-10.00 WIB sempat terjadi antrean cukup panjang. Satlantas https://soloraya.solopos.com/read/20190607/491/997151/padat-kendaraan-jalur-gambiran-pungkruk-sragen-diubah-jadi-satu-arah" title="Padat Kendaraan, Jalur Gambiran-Pungkruk Sragen Diubah Jadi Satu Arah">Sragen kembali memberlakukan jalur satu arah untuk mengurai kepadatan mobil di jalur Gambiran-Pungkruk. Selama 10 menit diberlakukan satu arah, arus lalu lintas bisa dikendalikan. Pada pukul 14.00 WIB, lonjakan arus lalu lintas mulai terasa dan nanti puncaknya pada menjelang Magrib,” ujarnya.

Teguh mengungkapkan lalu lintas pada puncak arus balik ini didominasi mobil pribadi dengan pelat nomor luar daerah, misalnya D, B, AB, A, dan seterusnya. Dia menginformasikan sempat terjadi permasalahan pada traffic light di pintu keluar jalan tol Pungkruk. 

Dia menyebut selama satu jam polisi harus mengatur lalu lintas secara manual di pertemuan arus lalu lintas jalan tol dengan arus lalu lintas Pungkruk-Gabungan maupun sebaliknya. 

“Kami mengirim teknisi untuk memperbaiki traffic light itu ada arus lalu lintas kembali aman,” ujarnya.

Teknisi yang juga operator ATCS Dishub Sragen, Exzan Triyono, menyampaikan kerusakan pada traffic light exit tol Pungkruk itu disebabkan arus listrik yang tidak stabil. Hal itu terjadi karena adanya perubahan setting durasi lampu. 

“Awalnya diatur kurang dari 24 jam. Sejak 30 Mei lalu, baru mulai diatur durasi waktu lampu lalu lintas itu selama 24 jam,” tambahnya.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten