Artikel Asia Sentinel Soal Century & SBY, Demokrat Mengadu ke Dewan Pers
Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan memberikan keterangan kepada media mengenai pertemuan yang kembali dilakukan Prabowo Subianto dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di rumah SBY, Jakarta, Kamis (9/8/2018). (Antara - Muhammad Adimaja)

Solopos.com, JAKARTA -- DPP Partai Demokrat mengadukan pemberitaan laman berita asing Asia Sentinel yang dikutip sejumlah media lokal, ke Dewan Pers. Tulisan berjudul Indonesia\'s SBY Government: Vast Criminal Conspiracy yang diterbitkan pada 11 September 2019 itu menyebutkan keterkaitan Ketua Umum Demokrat SBY dengan kasus Bank Century.

"Kami telah menyampaikan pengaduan resmi kami ke Dewan Pers untuk ditindaklanjuti. Media yang kami adukan adalah Asia Sentinel, sebuah media online dengan laman yang memiliki IP address Hong Kong," kata Sekjen Demokrat Hinca Panjaitan di Dewan Pers, Jakarta, Senin (17/9/2018).

Hinca menjelaskan alasan pihaknya mengadukan pemberitaan oleh media asing ke Dewan Pers di Indonesia. Menurut Hinca, isi pemberitaan Asia Sentinel tanpa konfirmasi dan beropini menyudutkan Demokrat dan Ketua Umumnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Lalu, konten tersebyt dikutip begitu saja oleh media arus utama di Indonesia.

"Di Indonesia yang memuat besar Rakyat Merdeka, tapi memang mereka merujuk ke media Asia Sentinel tadi. Lalu begitu juga JPNN mengutip begitu saja termasuk media televisi Metro TV," kata Hinca.

Dia mengatakan sejauh ini pihaknya telah mengajukan hak jawab ke media cetak yang mengutip pemberitaan Asia Sentinel. Kini, persoalan pemberitaan oleh sejumlah media nasional tersebut telah selesai.

Namun, pihaknya akan meminta arahan dan nasihat kepada Dewan Pers untuk pengutipan berita Asia Sentinel oleh media lainnya yang tanpa melakukan konfirmasi. Hinca menegaskan apa yang diberitakan Asia Sentinel merujuk kepada persidangan di sebuah pengadilan di negara Mauritus. Padahal, katanya, perkara pengadilan itu merupakan perkara perdata yang tidak bisa dikonfirmasi apakah teregister atau tidak.

Kemudian dalam pemberitaan itu penulis berita Asia Sentinel memasukkan opini pribadi dengan menyebut Bank Century sebagai "bank SBY" dan ada aliran dana Century kepada Partai Demokrat. Isi berita yang mengandung opini itu kemudian dikutip boleh media besar Tanah Air.

"Tuduhan, fitnah, opini tanpa konfirmasi dan seterusnya sangat merugikan kami. Sebagai partai politik tentu jadi kewajiban sekaligus hak kami meluruskan ini. Dewan pers jadi tempat kami mengadu," jelas Hinca.

Hinca mengatakan pihaknya telah berupaya menelusuri alamat dan nomor kontak laman berita Asia Sentinel. Namun dalam lamannya, media itu hanya mencantumkan sebuah alamat email. Bagi Demokrat, kredibilitas Asia Sentinel sangat patut dipertanyakan.

Wakil Ketua Dewan Pers Ahmad Jauhar mengatakan akan segera mempelajari persoalan itu. "Ini akan menjadi salah satu agenda yang dibahas di komisi pengaduan Dewan Pers. Kami juga akan mencoba menghubungi Dewan Pers Hong Kong," jelas Jauhar.

Dalam laporannya laman berita Asia Sentinel menyebutkan adanya konspirasi pencurian uang negara sebesar US$12 miliar yang melibatkan 30 pejabat negara dan mencucinya melalui perbankan internasional.

Laporan itu ditulis John Berthelsen sebagai editor Asia Sentinel.  Namun kini judul artikel itu telah berubah menjadi Asia Sentinel Story on Indonesia Corruption Goes Viral. Intinya, John menceritakan bahwa tulisannya tersebut menjadi viral di Indonesia dan mendapatkan respons politik yang luar biasa. Dia juga menyebutkan respons petinggi Demokrat yang mendiskusikan rencana gugatan hukum kepada Asia Sentinel.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom