Art Edu Care, Transformasi Seni Merespons Pandemi
Diskusi bareng Tell Company dalam serangkaian acara pameran Art Edu Care yang diadakanMahasiswa Pendidikan Seni Rupa FKIP UNS via Instagram @Arteducare pekan lalu. (Istimewa/Dok.Pribadi)

Solopos.com, SOLO — Art Edu Care edisi 11 bisa dibilang sebagai acara terpanjang mereka sejak kali pertama digelar. Betapa tidak, dimulai sejak awal 2020, rangkaian agenda bergengsi mahasiswa Pendidikan Seni Rupa FKIP UNS ini baru akan ditutup akhir Januari 2021. Penutupan ditandai dengan launching film dan CD berisi jingle lagu di laman Instagram @Arteducare.

Sebelumnya, pada awal Januari 2020 acara dimulai dengan sejumlah kegiatan pengabdian masyarakat berupa workshop di Wedi, Klaten. Militansi para mahasiswa penyelenggara semakin meninggi disusul promosi gencar di media sosial maupun secara langsung. Memasuki pertengahan Maret mereka mulai gusar karena pandemi Covid-19 menerpa. Semua agenda dihentikan terpaksa. Termasuk pameran luring yang biasanya jadi puncak acara Art Edu Care di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT).

Sempat ada opsi pameran daring namun ditunda hingga sejumlah karya peserta terpaksa dikembalikan. Kemudian jelang akhir tahun, tepatnya November 2020 panitia aktif kembali. Mereka membuka ajakan pameran virtual dengan garapan dan sub tema yakni A New Relation. Apresiasi positif sambut gerakan anyar Art Edu Care #11, disusul banyaknya peserta yang turut mengirim karya.

Deretan Drama Korea Bakal Tayang di 2021, Termasuk Hospital Playlist 2

Peserta Art Edu Care datang dari berbagai usia dan kota. Mulai pelajar, hingga mahasiswa dari Jawa, hingga Pulau Dewata. “Benar, kami sempat menunda lama sampai akhirnya diputuskan digelar Desember via daring. Pameran daring ini yang paling memungkinkan bagi kami,” salah satu tim Panitia, Guntur Cahyo Priyambodo, saat diwawancara Solopos.com, Jumat (8/1/2021).

Pameran A New Relation resmi dibuka, Senin (28/12/2020) hingga Jumat (1/1/2021). Pada masa itu penontonnya dibatasi hanya bagi follower Instagram @Arteducare. Lalu dilanjutkan sampai hari ini untuk masyarakat luas yang ingin mengapresiasi atau turut memberi masukan di laman komentar.

Kata Gisel Soal Video Syur: Itu Masa Lalu, Saya Minta Maaf

Transformasi

Bagi Guntur cs, A New Relation pada Art Edu Care, bukanlah sembarang tema. Bahkan sebagai pegiat seni berbasis dunia pendidikan, mereka ingin memberikan gambaran atau edukasi soal bagaimana sikap seniman merespons pandemi. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi di zaman kiwari.

Semua peserta pameran diminta mengirim karya yang dibuat dari aplilkasi seni digital. Mereka ingin menampilkan seberapa jauh eksplorasi yang bisa dilakukan seniman dalam membuat karya berbasis media digital. Mengingat ini merupakan hal baru yang nantinya bakal menjadi bagian dari masa depan seni rupa modern.

“Responsnya positif. Ada 30 pengirim karya dari target kami 21 peserta. Kami kurasi sesuai tema. Temanya memang seperti itu sebagai tantangan bagi para perupa merespons pandemi. Bagaimana mereka merespons media baru. Yang awalnya manual dengan hasil bisa dilihat lewat teksture dan warna. Sekarang pindah ke digital artwork. Banyak platform yang bisa dimanfaatkan teman teman semua,” terang Guntur lagi.

Lirik Lagu Wes Tatas – Happy Asmara

Salah satunya digital art karya Satria Yuwan berjudul Long Distance Virtualationship. Satria menggunakan telepon kabel sebagai obyek utama. Kemudian disusul gambar bayangan dua tangan di dua jendela berbeda yang saling berjauhan. Barang-barang terlihat berantakan dan berjamur, ikan hampir mati, sayuran terberai tiada arti. Satria ingin menggambarkan betapa jarak di masa pandemi membuat kehidupan seolah hampir mati. Tak ada harapan lagi meski beberapa hal bisa dijangkau via virtual.

Kesendirian, jarak, dan pandemi juga menjadi andalan beberapa perupa lain. Termasuk Zaed dari Tell Company. Salah satu narasumber diskusi Art Edu Care ini membuat kolase beberapa obyek dengan judul Do Stupid Thinks With More Energy. Dia mengeksekusi ide tersebut dengan gaya sketsa digital layaknya perupa yang membuat sketsa dengan tinta. “Karya ini dibuat untuk mengejawantahkan hal hal sederhana yang telah terkonsumsi, dan hadir sebagai refleksi. Tentang apa saja yang bisa dilakukan di masa pandemi,” terannya lewat tulisan.

Karya Peserta

 

View this post on Instagram

 

A post shared by ?Arteducare Official? (@arteducare)



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom