Adib Baroya Al Fahmi/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (9/7/2019). Esai ini karya Adib Baroya Al Fahmi, mahasiswa Jurusan Tadris Bahasa Indonesia Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah adib.baroya@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Pada awal 2007, kali pertama keluarga besar saya menyelenggarakan pertemuan bertajuk arisan. Seluruh anggota keluarga besar berkumpul di bawah satu atap rumah guna mengikuti arisan.

Pertemuan arisan keluarga ini secara rutin dilakukan setiap empat bulan sekali. Arisan menjadi mengakar di keluarga besar saya. Kegiatan arisan bertahan dan dilakukan terus-menerus sampai sekarang.

Arisan ampuh menpertemukan pelbagai sanak saudara dari yang muda sampai yang tua, dari yang dekat sampai yang jauh. Selama kurun waktu tidak diadakan arisan, jarang terjadi pertemuan-pertemuan formal yang mengatasnamakan keluarga besar.

Arisan menjadi wadah untuk memfasilitasi silaturahmi antarsanak saudara secara resmi dan terstruktur. Kocok nama menjadi wajib dalam arisan. Peristiwa inilah yang  dinanti-nanti  para anggota arisan. Animo keluarga besar tergerak untuk mengetahui nama siapa yang keluar dari dalam kocokan.

Peristiwa mengocok nama itu utama atau malah hanya itu yang dirasa penting daripada sesi acara yang lain. Detak jantung berpacu lebih cepat saat nama gulungan kertas bertuliskan nama seluruh anggota keluarag besar mulai dikocok-kocok.

Begitu salah satu nama keluar lalu dibacakan, sirna sudah semua rasa penasaran sekaligus misteri. Ketimbang sekadar bertemu, arisan lebih baik dilakukan supaya pertemuan tak sia-sia. Kini arisan menjadi tren dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Rata-rata keluarga besar di Indonesia punya forum arisan. Arisan marak diselenggarakan berdalih ikatan persaudaraan dan mengisi waktu bersama keluarga besar.        Problem mulai menjangkiti arisan apabila kesempatan itu tidak digunakan untuk menjalin keakraban antarsesama saudara.

Arisan terkesan lebih merujuk pada arena pamer dan gengsi. Baju terbaik, sarana transportasi mewah, dan perhiasan termahal sering kali dimunculkan waktu arisan.         Seluk-beluk dan kemelut dunia arisan terekam dalam film layar lebar berjudul Arisan! (2003).

Masalah Pribadi yang Ditutup-Tutupi

Film drama satire garapan Nia Dinata itu menyajikan lakon sosialita yang suka berkumpul lalu memperlihatkan kemapanan hidup, padahal masing-masing tokoh mempunyai masalah pribadi yang saling ditutup-tutupi.

Di film tersebut arisan menjadi gaya hidup. Mewah dan ekslusif adalah hal yang dikehendaki. Suasana hedonis terkesan menonjol dalam adegan Arisan! Arisan tak lagi soal bercengkerama dan bersua bersama.

Arisan bukan juga sebagai sarana sosialisai atau upaya untuk saling melengkapi, namun menjadi ajang unjuk eksistensi keglamoran hidup. Barang-barang mewah hadir menjadi peramai arisan. Barang itu ada di antara barang-barang mashyur lainnya.

Anggota arisan malah membicarakan barang. Barang mentereng seakan-akan perlu dibawa dan dipertontonkan tatkala arisan. Kejadian dalam arisan juga tak boleh dilewatkan tanpa berfoto.

Anggapan di kalangan generasi muda zaman sekarang foto adalah hal sepele tapi wajib. Foto penting dengan siasat mengabadikan peristiwa. Keasyikan berfoto berakhir dengan fokus di gawai masing-masing. Peristiwa sekitar dianggap hal yang lalu apabila sudah berfoto.

Meminjam termoniologi Yasraf Amir Piliang (2017), generasi masa kini adalah me generation. Generasi yang hidup pada era informasi digital dengan dilengkapi aneka gawai. Teknologi cyberspace telah mengubah generasi ini menjadi generasi yang sendiri dalam keramaian (soliter).

Mereka lebih merayakan individualisme ketimbang komunalisme. Budaya narsis dengan selfie menjadi makanan sehari-hari bahkan setiap waktu. Generasi mutakhir seolah-olah tercabut dari lingkungan sosial meskipun sedang berkumpul bersama.

Hal inilah yang terjadi dan saya khawatirkan di pertemuan arisan keluarga saya yang baru saja bergulir kemarin. Chatting atau game lebih dituruti daripada percakapan di dunia fisik secara tatap muka. Lahiriah berkumpul tapi pikiran melayang entah ke mana. Mereka lebih asyik dengan dunia mereka sendiri-sendiri.

Rukun dan Hormat

Tepa selira adalah adab orang Jawa saat bertemu orang lain. Di buku Etika Jawa (1984) karya Franz Magnis Suseno diuraikan laku sosial orang Jawa ditentukan oleh prinsip rukun dan hormat. Kedua prinsip itu menjadi acuan sekaligus pedoman dalam tingkah laku bersosial.

Perasaan memiliki begitu kentara dalam atmosfer sosial budaya Jawa. Seiring berubahnya zaman, batas-batas itu seakan-akanmulai rapuh dan lenyap. Perasaan memiliki satu sama lain semakin memudar. Orang-orang (Jawa) kini lupa adab dan etika Jawa.

Pedoman laku hidup itu ditinggalkan begitu saja. Ada peribahasa ”tak kenal maka tak sayang”. Kesempatan bertemu semestinya digunakan untuk saling mengenal satu sama lain. Saling bertukar kabar dan cerita. Meluapkan rindu yang tumbuh tatkala sebelumnya jarang bertemu.

Perkenalan tak melulu soal nama dan karier. Rasa kekeluargaan dan saling memiliki harus tumbuh seusai perkenalan. Pada 29 Juni 2019, bangsa Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional (Haganas) yang ke-26.

Tema peringatan kali ini adalah Hari Keluarga, Hari Kita Semua. Momentum hari keluarga tentu harus digunakan dalam rangka menghidupkan kembali kesadaran kolektif akan arti penting keluarga dalam tatanan sosial.

Di pusaran revolusi industri 4.0 kini, tanpa upaya mitigasi maka keluarga Indonesia akan mengalami dehumanisasi dan disfungsi. Pelbagai laku keluarga harus didasari dengan nilai-nilai luhur supaya keluarga sebagai pilar dasar bangsa tak kehilangan fungsi sebenarnya.

Pertemuan keluarga bertema arisan selayaknya menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan. Ikatan kekeluargaan niscaya kian terjalin kukuh. Arisan harus dimaknai bukan sebatas hubungan ekonomis dan politis. Bukan uang saja yang harus berputar, namun juga rasa cinta kasih dan perhatian.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten