Arief Puyuono: Airlangga - Ganjar Capres Top Versi Ramalan Jayabaya

Arief Puyuono menyebut sosok Ganjar Pranowo dan Airlangga Hartarto adalah figur yang cocok menjadi presiden berdasarkan Ramalan Jayabaya.

 Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, menanggapi video viral Bupati Banyumas yang takut kena OTT KPK. (Humas Pemprov Jateng)

SOLOPOS.COM - Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, menanggapi video viral Bupati Banyumas yang takut kena OTT KPK. (Humas Pemprov Jateng)

Solopos.com, JAKARTA — Mantan Wakil Ketua Umum DPP Gerindra, Arief Puyuono, memakai ramalan Jayabaya sebagai patokan untuk melihat siapa sosok pengganti Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memimpin Indonesia. Menurutnya, ramalan tersebut memberikan petunjuk yang dikaitkan dengan sosok Airlangga Hartarto dan Ganjar Pranowo.

Sampai saat ini Arief mengaku masih mempercayai ramalan dari Raja Kediri tersebut. Dalam ramalan yang tertulis di Serat Jangka Jayabaya, sang raja memberikan petunjuk bahwa seorang pemimpin yang adil memiliki nama dengan akhiran yang jika diakronimkan menjadi Notonegoro.

PromosiPerempuan dalam Pusaran Terorisme

“Kalau masih bingung, ya namanya Notonegoro bisa jadi presiden di akhirannya (namanya)” kata Arif Poyuono dalam diskusi “Mungkinkah Capres Teratas Versi Survei Berubah?” yang diselenggarakan oleh Total Politik di Warung Upnormal, Jl. Raden Saleh Raya No, 47, Jakarta, Minggu (5/12/2021), seperti dikutip dari Liputan6.com, Rabu (8/12/2021).

Baca juga: Hasil Survei Pilpres Terbaru: Anies Teratas, Ganjar & Puan Turun

Ramalan Jayabaya

Dalam ramalan Jayabaya atau biasa disebut Jongko Joyoboyo disebutkan pemimpin Indonesia adalah mereka yang mempunyai nama dengan akhiran Notonegoro. Dalam serat Jongko Jayabaya yang ditulis oleh Prabu Jayabaya tersebut, terdapat perhitungan atau ramalan mengenai pemimpin di Indonesia yang terkandung dalam kata ‘Notonegoro’. Noto bermakna menata sementara negoro berarti negara.

Seperti diketahui, selama ini ramalan Jayabaya hidup dalam kosmologi politik Jawa seiring dengan kepercayaan tentang Ratu Adil alias Satria Piningit. Menurut Arief, ramalan itu cocok dengan sosok presiden Indonesia sejak Sukarno hingga Joko Widodo. Semua presiden itu memiliki nama akhiran no.

Sementara sosok BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Sukarnoputri tidak termasuk kategori Notonegoro karena mereka tidak memimpin Indonesia dalam waktu genap jabatan seorang presiden, yakni lima tahun.

“Kita lihat negara kita tahun 99-2004, apa yang terjadi? Maluku Utara bergetar, Poso bergetar, bom di mana-mana, ya karena pemimpin itu tidak ada di dalam Jongko Joyoboyo.” lanjut Arief.

Baca juga: Ini Makna Ratu Adil & Satria Piningit di Ramalan Jayabaya

Sosok yang kemudian masuk ramalan kembali kepada NO karena yang menjadi presiden setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah Jokowi yang punya nama kecil Mulyono.

“Jokowi saat lahir nama aslinya Mulyono. Namun ibunya lalu mengganti nama jadi Joko Widodo. Jadi Jokowi masuknya di No, Mulyono,” kata Arief

Berdasarkan urutan Notonegoro dari Jangka Jayabaya tersebut, setidaknya kata Arief ada tiga nama Ganjar, Airlangga atau Gatot Numantyo. Dari tiga nama, ada dua yang masuk radar calon presiden potensial menurut survei.

“Hanya dua tokoh yang masuk Jongko Joyoboyo, Notonogoro sebagai penerus Jokowi. Yaitu Airlangga Hartarto dan Ganjar Pranowo,” kata Arief.

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

10 Prajurit TNI Membantu Local Strongman Mengelola Kerangkeng Manusia

+ PLUS 10 Prajurit TNI Membantu Local Strongman Mengelola Kerangkeng Manusia

Sepuluh orang prajurit TNI ditetapkan menjadi tersangka kasus penganiayaan dan penyiksaan penghuni kerangkeng manusia di rumah Bupai Langkat nonaktif, Provinsi Sumatra Utara, Terbit Rencana Peranginangin.

Berita Terkini

Panglima TNI Temui Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bahas Apa?

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa mengunjungi Muhammadiyah untuk membicarakan masalah-masalah kebangsaan.

Cuaca Arab Saudi Mulai Ekstrem, Saat Musim Haji 50 Derajat Celcius

Saat pelaksanaan ibadah hingga puncak haji diperkirakan bisa mencapai 50 derajat Celcius.

Aturan Baru Nama Minimal 2 Kata, Ini Penjelasan Dirjen Dukcapil

Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, Zudan A Fakrulloh, mengatakan aturan nama minimal dua kata di dokumen kependudukan hanya bersifat imbauan.

Pelat Nomor Kendaraan Warna Putih Berlaku Juni 2022, Ini Teknisnya

Proses pergantian pelat nomor dari warna hitam ke warna putih ini akan diberlakukan secara bertahap.

10 Prajurit TNI Membantu Local Strongman Mengelola Kerangkeng Manusia

Sepuluh orang prajurit TNI ditetapkan menjadi tersangka kasus penganiayaan dan penyiksaan penghuni kerangkeng manusia di rumah Bupai Langkat nonaktif, Provinsi Sumatra Utara, Terbit Rencana Peranginangin.

Mataram Geger, Pengguna Jalan Dipanah Orang Misterius

Seorang pengendara sepeda motor, ARH, dipanah orang misterius tanpa alasan, Sabtu (21/5/2022) malam.

Kapan Libur Panjang Kenaikan Sekolah? Simak Kalender Pendidikan 2022

Sedangkan bagi masyarakat, kalender pendidikan sekaligus untuk melihat kapan liburan sekolah tiba.

Tiga Pelaku Skimming ATM Dibekuk, Salah Satunya Berotot Bak Rambo

Salah satu pelaku skimming di Kepulauan Riau bertubuh berotot bak Rambo.

Biasa Sidangkan Kasus Narkoba, 2 Hakim Ditangkap karena Sabu-Sabu

Kedua hakim PN Rangkasbitung ditangkap beberapa hari lalu dengan barang bukti yang disita sabu-sabu seberat 20,634 gram.

Prasasti Talang dan Candi Borobudur Ungkap Makanan Pokok Asli Indonesia

Makanan pokok khas nenek moyang Indonesia bukanlah nasi. Hal itu terungkap dalam Prasasti Talang Tuwo dan relief Candi Borobudur yang masing-masing dibuat pada abad ke-7 dan ke-8.

Profil Fahmi Idris, Spesialis Menakertrans di Era Habibie dan SBY

Fahmi Idris pernah menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) pada era B.J. Habibie dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Baru! Ini Aturan Lengkap Penulisan Nama di KTP

Kemendagri mengeluarkan tiga larangan terkait pencatatan nama pada dokumen kependudukan, seperti di KTP.

Pemerintah Larang Penggunaan Nama Hanya 1 Kata, Begini Penjelasannya

Dokumen kependudukan yang dimaksud meliputi biodata penduduk, keluarga, kartu identitas anak, kartu tanda penduduk elektronik, surat keterangan kependudukan, dan akta pencatatan sipil.

Fakta Tak Sehijau Kata-Kata, Greenwashing Jadi Arus Besar Perbankan

Lembaga keuangan nasional dan global masih berdiri dua kaki. Membiayai sektor energi kotor dan perusak lingkungan sekaligus membiayai sektor energi bersih. Komitmen green financing belum optimal, justru greenwashing yang menguat.

Nasib Harimau & Macan Tutul Jawa Terancam Punah Akibat Pembangunan

Tahukah Anda bahwa harimau dan macan tutul jawa terancam punah akibat pembangunan yang masif di Pulau Jawa?