Ilustrasi produk bahan baku industri farmasi, pangan fungsional, serta produk nutrisi dan kesehatan yang dipamerkan di Jakarta. (Bisnis-Dwi Prasetya)

Semarangpos.com, SEMARANG — DPD Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai pemerintah perlu mengembangkan industri bahan baku atau penolong demi mengatasi defisit neraca perdagangan yang terjadi di Jawa Tengah.

Ketua DPD Apindo Jateng Frans Kongi menuturkan industri bahan baku di Jawa Tengah perlu dibangun agar industri yang ada tidak tergantung pada bahan baku atau penolong dari luar negeri.  “Sudah saatnya sekarang pemerintah memikirkan secara serius pengadaan bahan baku dalam negeri. Sudah barang tentu harus membangun industri bahan baku seperti pengolahan bijih besi jadi bahan baku, industri bahan baku tekstil, farmasi, dan lain-lain sehingga tidak tergantung pada impor,” kata Frans kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Minggu (7/4/2019).

Dalam membangun industri bahan baku atau penolong di dalam negeri, Frans menjelaskan pemerintah perlu melibatkan badan usaha milik negara (BUMN) mengingat biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun industri semacam itu relatif besar.  Pemerintah juga perlu memberikan insentif khusus agar swasta bisa membangun industri bahan baku atau penolong di Jawa Tengah. Insentif yang diberikan bisa dengan bunga bank, libur pajak atau tax holiday, dan sebagainya.  “[Perlu insentif] yang menarik [bagi swasta] karena investasinya terlalu besar,” kata Frans. 

Frans menambahkan pihaknya saat ini melihat industri bahan baku di Jawa Tengah masih sangat kurang. Untuk industri tekstil, contohnya, baru satu industri rayon. Di Jawa tengah, tambahnya, industri bahan baku atau penolong baru ada untuk industri kayu. 

Frans meyakini industri bahan baku di dalam negeri dapat bersaing dengan industri bahan baku dari negara lain dari sisi harga yang ditawarkan.  Industri bahan baku yang akan terbangun juga dapat meningkatkan daya saing, dan diekspor ke negara lain. 

“Saya yakin dapat sekali [bersaing dari sisi harga] dan dapat meningkatkan daya saing kita. Di samping itu, kita bisa ekspor ke negara lain juga,” kata Frans. 

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat kontribusi impor bahan baku atau penolong Jawa Tengah pada Januari-Februari 2019 masih yang terbesar, yakni 74,10%. Kemudian diikuti barang modal 19,37 persen, dan barang konsumsi 6,53%.

Masih berdasarkan data BPS, nilai impor bahan baku/penolong dan barang modal pada dua bulan pertama tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni masing-masing naik sebesar US$536,33 juta atau 57,18% dan US$298,17 juta (341,49%). Sementara impor barang konsumsi mengalami penurunan sebesar US$1,47 juta atau sekitar 1,11% pada Januari-Februari 2019 dibandingkan dengan nilai impor barang konsumsi pada periode yang sama tahun lalu. 

Neraca perdagangan Jawa Tengah pada Januari – Februari 2019 tercatat defisit US$579,84 juta mengingat nilai total impor sebanyak US$1.989,71 juta dan total nilai ekspor hanya sebesar US$1.409,87 juta. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten