APG Bukan Hajatan Biasa

Di balik aksi gigih dan gagah para atlet disabilitas berkompetisi untuk menjadi yang terbaik (baca: juara) di 14 cabang olahraga yang digelar, terdapat berbagai nilai-nilai besar yang akan diresonansikan ke masyarakat lokal, nasional, regional, maupun global. Nilai-nilai humanis dan aneka pesan moral berenergi dengan paradigma development of sport, sekaligus development trough sport. Hal itulah yang menjadi alasan utama mengapa APG bukan sebuah hajatan biasa.

 Agus Kristiyanto (Solopos/Istimewa)

SOLOPOS.COM - Agus Kristiyanto (Solopos/Istimewa)

ASEAN Para Games (APG) XI dibuka oleh Wapres K.H. Ma’ruf Amin pada Sabtu (30/07/2022) malam dan tengah berlangsung. Digelar di Stadion Manahan Solo, acara pembukaan pesta olahraga disabilitas se-kawasan Asia Tenggara tersebut berlangsung sangat meriah. Stadion Manahan yang merupakan venuekebanggaan masyarakat Solo pada khususnya, dan masyarakat Jawa Tengah pada umumnya, menjadi tempat yang bersejarah bagi penyampaian pesan humanis global melalui hajatan akbar olahraga berskala internasional. Stadion Manahan, bahkan serasa menjadi stadion milik seluruh bangsa-bangsa di Asia Tenggara.

Tahun ini, Solo menjadi tuan rumah APG untuk kali kedua, setelah mencatat kesuksesan penyelenggaraan yang pertama pada APG VI pada 2011. APG kali ini adalah APG yang pertama digelar setelah selama lima tahun vakum karena pandemi Covid-19 serta pesoalan-persoalan lain yang mengikutinya. Kesiapan Solo sebagai tuan rumah (apalagi dalam rentang waktu yang relatif pendek dengan penyelenggaraan yang pertama), tentu memiliki arti penting yang menyejarah dan bersejarah dalam penyelenggaraan APG.

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Pekan olahraga yang diikuti kontingen dari 11 negara yang pembukaannya disaksikan secara luring kurang lebih 15.000 orang tersebut mengusung tema besar Striving for Equality, yakni Perjuangan untuk mewujudkan kesetaraan. Di balik aksi gigih dan gagah para atlet disabilitas berkompetisi untuk menjadi yang terbaik (baca: juara) di 14 cabang olahraga yang digelar, terdapat berbagai nilai-nilai besar yang akan diresonansikan ke masyarakat lokal, nasional, regional, maupun global. Nilai-nilai humanis dan aneka pesan moral berenergi dengan paradigma development of sport, sekaligus development trough sport. Hal itulah yang menjadi alasan utama mengapa APG bukan sebuah hajatan biasa. Terdapat setidaknya 6 argumentasi APG XI bukan sebuah hajatan yang biasa.

 

Bukan Hajatan Biasa

Pertama,APG 2022 adalah fakta extraordinary karena diselenggarakan pada kurun masa endemi dunia, di mana masyarakat lokal, nasional, regional, dan global mutlak membutuhkan revitalisasi dengan membangun semangat baru untuk bangkit. Dengan kata lain APG menjadi sebuah mesin pemantik yang diharapkan“bergulir”untuk menumbuhkan resiliensi global melalui olahraga disabilitas. Semua perhelatan multi-event memang selalu diarahkan seperti itu, tetapi ada banyak yang secara khusus hanya bisa ditempuh dengan penyelenggaraan APG yang berhasil. Berhasil bukan sekadar dari sisi normatif penyelenggaraan, pencapaian prestasi terbaik, serta kesuksesan dalam menggerakkan sport tourism. Energi pemantik resiliensi sosial secara global adalah hal yang sangat urgen.

Kedua, terselenggara setelah pemerintah mulai mengimplementasikan Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2021 tentang Desain Besar Olahraga Nasional (DBON). DBON bahkan kini diposisikan sebagai ‘Pabrik Prestasi Olahraga Berkelas Dunia”. Berbagai cabang olahraga (cabor) prioritas telah ditentukan, di antaranya yang terpenting adalah penetapan lima prioritasCabor Paralimpic, yakni: para-badminton, para-tenis meja, para-angkat besi, para-atletik, dan para-renang.Iklim kompetisi di APG kali ini menjadi sebuah tahap capaian tujuan antara yang menjadi bagian integral dari komponen mesin produksi menuju prestasi olahraga disabilitas tingkat dunia (baca: prestasi paralimpic).

Ketiga,terselenggara pada era pemberlakuan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang  Keolahragaan. Amanah kuat keberpihakan untuk memberikan apresisasi yang berprinsip kesetaraan (equality) sudah sangat kuat diatur pada pasal-pasal baruuntuk diejawantahkan secara konkret. APG sungguh menjadi sebuah hajatan untuk memberikan bukti pengejawantahan tentang kesetaraan dalam olahraga. Tidak boleh ada lagi terminologi olahraga cacat: “Tuhan Yang Maha Sempurna tidak mungkin menciptakan manusia cacat”. Para atlet di APG adalah atlet yang memiliki kemampuan unik dan berbeda dibandingkan atlet yang nondisabilitas.

Keempat, APG menjadi sebuah “instrumen kolektif-spesifik” yang berkontribusi untuk program Sustainable Development Goals (SDG’s). Sebagai sebuah instrumen kolektif multi-dimensional, APG menjadi pilihan optimistikdalam mewujudkan capaian deklarasi global SDG’s. Keberlangsungan capaian SDG’s 2030 sempat dihantui oleh kekhawatiran dunia karena terkoreksi olehpandemi Covid-19. Diperlukan mesin pembangkit untuk menciptakan resiliensi (baca: bangkit dari keterpurukan). SDG’s memang dipersyarati oleh keberlangsungan dimensi lingkungan hidup yang lestari terjaga, ekonomi yang tumbuh, namun dimensi sosial juga menjadi bagian yang penting. APG 2022 tidak biasa, karena hadir untuk menyambut tantangan dan peluang tersebut, terutama pelajaran sosial tentangequalitydalam perspektif gender serta disabilitas-nondisabilitas.

Kelima, APG yang diselenggarakan efektif hanya sepekan (30 Juli – 6 Agustus 2022) memiliki arti penting sebagai pekan pemodelan tata akses lingkungan ramah disabilitas. Setidaknya ada 1.243 atlet disabilitas yang berlaga di 14 cabang olahraga selama sepekan. Kehadiran mereka di venue tentu saja akan memberikan nilai evaluasi tersendiri dalam hal kelayakan dan kesesuaian venue. Akses disabilitas di sebuah venue olahraga, acapkali dipenuhi secara tidak permanen. Kegiatan mereka di venue akan memolakan secara riil tentang kebutuhan akses permanen yang mestinya tersedia di sebuah venue tertentu. Pola kebutuhan akses mereka juga akan terbentuk ketika beraktivitas di ruang publik. Jejak akses mereka memberikan informasi penting untuk memaksimalkan nilai kecukupan dalam sebuah standar pelayanan minimal infrastruktur untuk sebuah tata kotaatau wilayah yang ramah disabilitas.

Keenam, APG menjadi sebuah “etalase besar” promosi budaya dan turisme. Fungsi etalase tersebut sudah mulai diberlakukan jauh-jauh sebelum acara pembukaan event. Saluran promosi akan terus berlangsung selama sepekan penyelenggaraan dan dampakanya akan terus berlangsung secara multiplier effect jangka panjang ke depan. Etalase promosi budaya dan turismemelalui sebuah multievent olahraga, memiliki daya magnetik yang kuat. Jika pusat perhatian publik berkorelasi dengan jumlah negara yang berpartisipasi dan keunikan multievent, maka APG yang “unik” tersebut tentu berpotensi besar sebagai saluran promosisport tourism and culture. Semakin kuat karena konten kegiatan APG bisa digandakan dalam jejak-jejak digital yg kini dapat diakses secara cepat, lengkap, dan luas melalui koneksi jaringan internet.

Hajatan besar APG tentu saja bukan sekadar sebuah pesta biasa,yang identik dengan suasana an sichsuka cita dalam keriuhan laga para atlet disabilitas. Lebih dari itu, para duta atlet tersebut sebenarnya sedang berproses menunjukkan perjuangan menggapai kemenangan dan kesetaraan (equality). Untuk sebuah kemenangan, mereka disamping harus “mengalahkan rival”, mereka juga harus sanggup “mengatasi” dirinya sendiri. Artinya, untuk berjuang menggapai kesetaraan, mereka semestinya tidak dibiarkan melakukannya sendiri.

Dibutuhkan mindset yang lurus dari masyarakat luas yang teredukasi secara baik dalam membanguniklim apresiasi. Para atlet disabilitas adalah para atlet luar biasa yang mengajarkan kepada semua orang tentang arti kegigihan dan perjuangan. Mereka adalah para atlet luar biasa yang berpeluang besar untuk menciptakan sebuab kebanggaan melalui prestasi terbaik yang bisa ditoreh. “Striving for Equality”semoga bukan sebatas slogan.
Artikel ini ditulis oleh Agus Kristiyanto, Profesor Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga  FKOR Universitas Sebelas Maret Solo, telah dimuat di Solopos edisi 4 Agustus 2022.

Daftar dan berlangganan Espos Plus sekarang. Cukup dengan Rp99.000/tahun, Anda bisa menikmati berita yang lebih mendalam dan bebas dari iklan dan berkesempatan mendapatkan hadiah utama mobil Daihatsu Rocky, sepeda motor NMax, dan hadiah menarik lainnya. Daftar Espos Plus di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Solopos.com - Panduan Informasi dan Inspirasi

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Espos Plus

      Ujung Tanduk Nasib Piala Dunia U-20 setelah Tragedi Kanjuruhan

      Ujung Tanduk Nasib Piala Dunia U-20 setelah Tragedi Kanjuruhan

      Nasib sepak bola Indonesia berada di ujung tanduk. Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 153 orang berpotensi mengganjal Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 pada 2023. Indonesia pun terancam mendapat sanksi berat lainnya dari FIFA.

      Berita Terkini

      Ambivalensi KKN

      Program unggulan mengenai pengabdian kepada masyarakat—kuliah kerja nyata (KKN)—yang pada masa pandemi diselenggarakan secara daring kini kembali ke konsep semula: mahasiswa hidup bersama masyarakat.

      Kebohongan demi Uang Pasti Kedaluwarsa

      Kebohongan itu memang menghadirkan uang bagi kreator konten. Semakin viral konten yang mengumbar kebohongan itu, makin banyak uang yang didapat dari Google Adsense.

      Perceraian dan Fenomena di Baliknya

      Berbagai kasus perceraian seharusnya memancing keprihatinan bersama, baik pemerintah maupun masyarakat secara luas.

      Panggung Energi

      Presiden Joko Widodo telah menandatangani Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2022. Ini menjadi landasan pengembangan kendaraan bernotor listrik di Indonesia

      Persaudaraan di Warung Madura 24 Jam

      Sejumlah kota besar di Pulau Jawa menjadi basis warung Madura 24 jam. Warung ini muncul di kawasan padat penduduk hingga menjadi pesaing minimarket waralaba.

      Petani Era Society 5.0

      Salah satu yang mencolok adalah penggunaan teknologi informasi dalam pemasaran komoditas pertanian dan pemanfaatan big data bagi kesejahteraan petani era kehidupan society 5.0.

      Media Kooperasi dan Kepercayaan Publik

      Tergerusnya independensi media bukanlah hal yang bisa dipandang sebelah mata. Kepercayaan publik taruhannya.

      Memaknai Perkemahan

      Ketika Lord Robert Baden Powell berkemah bersama 22 anak laki-laki pada 25 Juli 1907 di Pulau Brownsea, Inggris, ia punya maksud dan tujuan tersendiri.

      Relevansi Pemimpin Kerajaan sebagai Pemersatu

      Sebagai salah satu negara pelopor sistem monarki konstitusional, kedudukan penguasa kerajaan di Inggris hanya sebagai kepala negara yang tak punya hak politik untuk mencampuri urusan pemerintahan.

      Krisis Petani di Negeri Agraris

      Sektor pertanian masih memegang peranan penting dalam pembangunan nasional

      Kepergian Ratu Elizabeth, Negara Persemakmuran, dan Bahasa Indonesia

      Elizabeth Alexandra Mary, Ratu Inggris Raya kelahiran 21 April 1926, mangkat pada 8 September 2022 di Kastil Balmoral.

      Karut-Marut Subsidi BBM

      Keluhan Presiden Joko Widodo ini salah besar karena lebih dari separuh anggaran subsidi bahan bakar dan energi merupakan subsidi LPG tabung tiga kilogram.

      Wrexham

      Sepak bola ternyata bisa menjadi opsi investasi yang seksi. Jadi mengapa para pengusaha tidak turun ke lapangan dan membangun klub sepak bola?

      Dilema antara Penerimaan Negara dan Kesehatan Masyarakat

      Dari perspektif kesehatan, kalangan medis menyebut ada segudang bahaya merokok, baik perokok aktif maupun bukan perokok yang turut menghirup asap pembakaran rokok (perokok pasif).

      Tidak Oleng Menghadapi Dampak Kenaikan Harga BBM

      Mengurangi jajan di luar rumah dan membiasakan memasak sendiri bisa menghemat uang dengan nilai lumayan.

      Menjadi Senior Bersama Teknologi Digital

      Bahagia rasanya mengenal teknologi dan budaya digital pada masa senior seperti yang saya alami kini.