APD Corona dari China Made In Indonesia? Ini Jawaban BNPB
Bantuan 40.000 disposable protective coverall atau setelan baju dan celana pelindung untuk tenaga medis, diterima Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Senin (23/3/2020) pagi. [Suara.com/Dok Pemprov DKI Jakarta]

Solopos.com, SOLO — Beberpa waktu lalu, publik dihebohkan dengan datangnya alat pelindung diri (APD) dari china untuk tenaga medis yang menangani pasien virus corona (Covid-19) ternyata made in Indonesia.

Pada kardus pembungkusnya, terdapat tulisan made in Indonesia yang berarti dibuat di Indonesia. Hal itu membuat publik heran termasuk Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo.

Menjawab keheranan itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memiliki penjelasan. BNPB menyebut APD itu memang dibikin di Indonesia, namun pemilik produknya tetap pihak luar negeri.

"Jadi jangan heran jika APD bantuan China atau beli di China tapi made in Indonesia," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Agus Wibowo lewat Twitter, Agus mempersilakan detikcom untuk mengutip penjelasan tersebut, Kamis (26/3/2020).

Seperti Sepatu

Agus menganalogikan APD itu dengan sepatu merek Onitsuka yang dia beli di Jepang. Sepatu itu ternyata juga punya keterangan made in Indonesia.

Dikutip dari Detik.com, Jumat (27/3/2020), cara offshoring seperti ini bukan hal baru di dunia industri, begitu juga dengan industri pembuatan APD. "Pabrik APD memang banyak berada di Indonesia. Bahkan tidak hanya APD banyak produk terkenal seperti pakaian, sepatu, tas, dan lain-lain yang pabriknya juga berada di Indonesia," kata Agus.

Seperti APD, lanjut Agus, semua bahan bakunya dikirim dari negara asal seperti China, Korea, dan lain-lain. "Sedangkan Indonesia hanya diminta untuk menjahit dan merapikannya agar jadi APD yang siap pakai," kata Agus.

Karena pada dasarnya APD yang dijahit oleh tangan-tangan buruh Indonesia itu adalah milik orang di mancanegara sana, maka tentu saja APD yang sudah jadi harus dikirim ke pemiliknya di negara asal. Bisa saja pemilik APD di luar negeri itu menjual kembali APD ke Indonesia, bisa pula ke negara lain.

Namun dalam kondisi darurat COVID-19 ini, Indonesia sedang membutuhkan APD. Maka pemerintah Indonesia membuat perjanjian dengan negara (perusahaan di luar negeri) pemilik APD agar sebagian APD yang sudah selesai diproduksi bisa dipakai di Indonesia.

Perjanjiannya, setengah APD yang selesai diproduksi dikembalikan ke negara pemilik, setengah APD sisanya dipakai Indonesia. Perjanjian semacam ini disepakati antara Indonesia (Bea Cukai dan Kementerian Keuangan) dengan Korea Selatan untuk kondisi saat ini.

"Setelah negosiasi dengan Kedubes Korea maka disepakati setengah ekspor ke Korea dan setengah untuk kita. Itulah kenapa APD yang dipakai made in Indonesia," kata Agus.

Sumber: Detik.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho