Tutup Iklan
Warga membikin kue apam di rumahnya di Jatinom, Klaten, Selasa (15/10/2019). (Solopos-Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN -- Sejak Kamis (10/10/2019), ruang dapur di sebagian besar rumah milik warga RT 004/RW 002, Kecamatan Jatinom, Klaten, ngebul mulai pagi hingga sore hari.

Warga disibukkan membikin kue apam setiap harinya. Aktivitas ini terkait dengan semakin dekatnya jadwal Yaa Qawiyyu, yakni perayaan dan tradisi penyebaran kue apam di Sendang Klampeyan, Jatinom, Jumat (18/10/2019) bakda Salat Jumat.

Sebagaimana terjadi di rumah salah seorang warga Jatinom, Ny. Suti, 47. Selama satu dekade terakhir, Suti selalu membikin kue apam sebagai makanan khas Yaa Qawiyyu.

Ny. Suti memindahkan ruang dapurnya dari belakang rumah ke depan rumah. Lahan seluas 6 meter X 2,5 meter yang biasanya dijadikan sebagai warung mi ayam disulap menjadi rumah produksi pembuatan apam khas Jatinom.

Dua kompor gas milik Ny. Suti diletakkan tepat di pinggir jalan di desa setempat. Beberapa anak buah Ny. Suti sibuk menyiapkan pembuatan kue apam, mulai dari menyiapkan adonan hingga memasak.

Berbagai bahan yang disiapkan, seperti tepung beras, gula pasir, mentega, kelapa, susu, telur, bahan sebagai fermentasi. Setelah bahan itu dicampur menjadi adonan, bahan apam siap dimasak di alat pencetak yang sudah dipanasi api kompor.

“Apam di sini biasanya di-sangan atau mirip di-garang. Apam Jatinom memiliki rasa khas, yakni legit dan gurih. Saat dimakan, langsung makpyur. Apam di sini tanpa bahan pengawet. Biasanya tahan 3-4 hari. Jika dimasukkan ke dalam kulkas, bisa tahan satu bulan,” kata Ny. Suti, saat berbincang dengan solopos.com, di rumahnya di Jatinom, Klaten, Selasa (15/10/2019).

Ny. Suti mengatakan kesibukan membuat apam di rumahnya dimulai H-10 hingga H+10 Yaa Qawiyyu. Pembuatan apam setiap harinya menghabiskan tepung beras berkisar 20 kg hingga 100 kg.

Biasanya, apam dijual dalam model paket, yakni berisi delapan butir per pak. Harga per pak senilai Rp10.000. Pelanggan apam Ny. Suti berasal dari berbagai daerah di Tanah Air, seperti Temanggung, Magelang, Kendal, dan lainnya.

Di era modern ini, apam pun juga harus mengikuti perkembangan zaman. Banyak pelanggan yang menginginkan apam rasa cokelat, keju, nangka, durian, nanas, dan lainnya.

“Meski ada aneka rasa, apam orisinal tetap paling banyak peminatnya. Saat Yaa Qawiyyu seperti ini, banyak yang datang ke tempat saya. Para pembeli di sini saya anggap sebagai tamu. Mereka bebas mencicipi apam di sini secara gratis. Hitung-hitung, berjualan sambil beramal. Tapi saat membeli, tak boleh menawar,” katanya.

Warga Jatinom lainnya, Ny. Iin, mengatakan selain membuat apam, warga di Jatinom juga rutin bersedekah apam saat Yaa Qawiyyu.

“Apam yang disebarkan saat Ya Qawiyyu itu di antaranya hasil sedekah dari warga di sini dan warga lain di luar Jatinom,” katanya.

Tokoh masyarakat di Jatinom, Ny. Tri Ali, mengatakan jumlah kepala keluarga (KK) di Jatinom yang berdekatan dengan Sendang Klampeyan Jatinom mencapai 50-an KK.

Dari jumlah tersebut, sebagian besar ibu rumah tangga di daerahnya dapat membikin kue apam.

“Sedekah apam itu dilakukan masing-masing warga. Yang penting ikhlas,” kata Ny. Tri Ali yang juga dikenal sebagai ibu RT 004 tersebut.

Ketua Pengelola Pelestari Peninggalan Kyahi Ageng Gribig (P3KAG) Jatinom, Ebta Tri Cahya, mengatakan apam sudah menjadi makanan khas Jatinom. Apam Jatinom memiliki cita rasa khas karena diolah tanpa bahan pengawet.

“Saat Yaa Qawiyyu nanti, kami juga sudah menyediakan stan. Stan itu berada di depan Masjid Gedhe Jatinom atau arah masuk Sendang Klampeyan [lokasi sebaran kue apam saat Yaa Qawiyyu]. Kue yang dijual para pedagang itu asli bikinan warga Jatinom, rasanya manis dan gurih. Kami menjamin kualitasnya karena kami juga menyiapkan tester. Jika ada yang membuat apam dengan bahan tak standar akan disemprit. Soalnya akan memengaruhi cita rasa apam Jatinom,” katanya.

Sebagaimana diketahui,Yaa Qawiyyu merupakan tradisi turun-temurun di Jatinom. Tradisi ini diyakini sudah berjalan sehak 1688 Masehi. Penggagas tradisi Yaa Qawiyyu, yakni Ki Ageng Gribig yang dikenal sebagai keturunan Raja Brawijaya V Majapahit dan juru dakwah Walisongo.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten