Anyaman Tradisional Ini Bakal Tinggal Kenangan
ilustrasi (JIBI/dok)

Tikar mendong tergeser tikar plastik.

Solopos.com, BANTUL-- Istilah gulung tikar benar-benar dirasakan oleh para perajin anyaman tikar berbahan mendong di Dusun Kayuhan, Triwidadi, Pajangan pada 1990-an. Padahal para pengrajin tersebut sudah puluhan tahun dan turun temurun menjadi produsen. Pasalnya, tikar berbahan baku dari alam tersebut tergeser oleh tikar plastik yang mulai merajai pasar kala itu.

Salah satu perajin yang masih bertahan, Legiyem mengaku telah menekuni kerajinan tikar mendong sejak 1970-an. Ia mengenang dahulu hampir semua rumah di Dusun Kayuhan memproduksi tikar mendong tersebut sampai dikenal sebagai produsen utama yang memasok ke berbagai pasar tradisional di DIY.

Tetapi menurutnya semenjak awal 1990-an ketika tikar plastik marak dipasarkan, permintaan tikar berbahan baku mendong turun drastis. Penyebabnya daya tahan tikar mendong tak sekuat tikar yang dibuat dari plastik. Selain itu, perawatan tikar mendong juga lebih susah karena pantang diletakkan di udara yang terlalu lembab karena bakal mudah terpapar jamur.

Semakin turunnya permintaan pasar akan tikar mendong akhirnya membuat banyak perajin berlaih profesi. Menyisakan 20 perajin tikar mendong yang masih bertahan hingga kini. "Kini membuat tikar mendong hanya dilakukan untuk mengisi waktu senggang saja, untuk menambah pendapatan keluarga," katanya, Rabu (18/10/2017).

Lebih lanjut Legiyem menjelaskan untuk membuat tikar ukuran 125 cm x 2 m dibutuhkan waktu dua hari dan laku dijual sekitar Rp50 ribu dengan kualitas baik. Menurutnya, satu orang perajin rata-rata dapat membuat 30 lembar tikar setiap bulan. Namun kini pemasaran kerajinan tikar mendong tersebut hanya di pasar-pasar tradisional Bantul saja. "Tapi tetap produksi karena pasar jelas dan permintaan stabil," pungkasnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom