Kategori: Nasional

ANTRE BELI ELPIJI : Dibatasi, Warga Solo Mulai Kesulitan Beli Elpiji


Solopos.com/Asiska Riviyastuti/JIBI/SOLOPOS
Seorang warga membeli elpiji tiga kilogram di salah satu agen di Kota Solo, Senin (6/5/2013). Saat ini pembelian mulai dibatasi. (JIBI/SOLOPOS/Agoes Rudianto)

SOLO — Antrean warga yang ingin membeli elpiji tiga kilogram mulai terjadi sekitar satu bulan terakhir. Selain harus mengantre, pembelian elpiji pun dibatasi.

Dari pantauan Solopos.com di pangkalan LPG Restu Aji, Nusukan, antrean pembeli tampak mengular. Beberapa warga membariskan tabung mereka, namun ada pula yang tetap meletakkan tabung di kendaraan yang mereka kendarai. Bahkan beberapa dari mereka mengaku sudah mengantre sejak pukul 07.00 WIB.

Salah satu warga, Bambang Karsono, 29, mengungkapkan pembatasan pembelian elpiji mulai dibatasi sekitar dua pekan terakhir. “Dulu saya masih bisa membeli empat tabung gas tapi sekarang dibatasi hanya dua tabung gas,” ungkap Bambang kepada wartawan di Pangkalan Gas Restu Aji, Nusukan, Senin (6/5/2013).

Sedangkan untuk mendapatkan gas, Bambang mengaku minimal harus menunggu minimal dua jam. Saat mengantre, dia juga mendapat nomor antrian. Sementara itu, Kepala Bidang Elpiji Tiga Kilogram Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hismawa Migas), Budi Prasetyo, membantah antrean tersebut dikarenakan kelangkaan.

“Bulan ini [Mei] kami menambah 50% pasokan karena banyak hari libur. April kami menyetok 19.503 tabung per hari dan bulan ini naik menjadi 19.545 tabung per hari. Oleh karena itu tidak mungkin ada kelangkaan,” ungkap Budi.

Sedangkan mengenai pembatasan, Budi mengaku pihaknya tidak mengeluarkan kebijakan tersebut. Kalaupun ada pembatasan hal itu merupakan kebijakan agen atau pangkalan LPG. Budi juga menuturkan banyaknya antrean tersebut kemungkinan karena produksi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang membutuhkan bahan bakar gas meningkat.

Oleh karena itu, Budi menilai antrean tersebut masih wajar karena antrean hanya terjadi beberapa jam.

Share
Dipublikasikan oleh
Ahmad Mufid Aryono