ilustrasi longsor. (Solopos-Dok)

Solopos.com, BOYOLALI -- Desa Lemahireng, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, membutuhkan talut bronjong sepanjang 3 kilometer (km) untuk mengantisipasi longsor seperti yang terjadi di Dusun Kedungaron, awal April lalu.

Saat itu, longsor mengakibatkan 11 rumah warga hilang terbawa material. Pemerintah desa setempat berencana membangun talut bronjong sebagai solusi atas bencana tanah longsor yang kerap melanda desa tersebut.

Pemdes kini telah melayangkan proposal kepada Pemerintah Kabupaten Boyolali untuk dananya. Sebagai informasi, Desa Lemahireng berada di sisi utara aliran anak Sungai Serang yang melintasi wilayah Boyolali utara. Sepanjang 3 km aliran sungai melintasi wilayah ini.

Sejumlah dusun di antaranya berada di dekat anak Sungai Serang seperti dusun Tegalsari, Dusun Kedungsolo, Dusun Kedungaron, dan Dusun Beran. Sementara dari 7.000-an penduduk, 40% di antaranya tinggal di kawasan daerah aliran sungai dan rawan bencana tanah longsor.

Kepala Desa Lemahireng, Agus Sunaryo, mengatakan idealnya talut bronjong dibangun sepanjang 3 km untuk menutup semua kawasan DAS. Namun tahun ini proposal diajukan untuk pembangunan talut sepanjang 300 meter.

Talut tersebut melewati Dusun Kedungaron yang pekan lalu diterjang bencana tanah longsor. “Proposal sudah kami kirimkan ke Pemkab,” tutur dia kepada Solopos.com, Kamis (11/4/2019) pagi.

Talut bronjong tersebut berukuran lebar 3 meter dan setinggi 1,5 meter dari permukaan air. Sebelumnya talut bronjong sepanjang kira-kira 300 meter telah dibangun sejak dua tahun lalu. Namun, talut tak bisa menyentuh semua daerah aliran sungai.

“Jadi masih banyak potensi bencana alam,” kata dia. Ditambah lagi DAS yang berbelok ke wilayah permukiman warga membuat posisi talut perlu dikaji ulang.

Lebih jauh, Agus menjelaskan pembuatan talut bronjong telah diusulkan dalam lokakarya dusun setempat. Namun, Agus mengakui dana desa (DD) tidak dapat mengkaver kebutuhan talut tersebut. Tahun ini gelontoran dana desa di Lemahireng sekitar Rp700 juta.

Namun dana itu lebih banyak dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur lain seperti jalan perkampungan dan rehab RTLH. “Sementara untuk talut membutuhkan biaya miliaran jika harus dibangun sepanjang itu,” imbuhnya.

Sementara itu, Koordinator Assesment Taruna Siaga Bencana (Tagana) Boyolali, Moh. Irawan, menambahkan pembangunan talut bronjong merupakan kebutuhan mendesak. Tanah di daerah aliran sungai gampang bergeser dan mudah retak berpotensi menimbulkan longsor susulan.

“Pembangunan talut bisa menjadi solusi untuk keamanan warga,” kata dia.



Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten