Antisipasi Corona, Kegiatan Sadranan di Boyolali Dibatasi
Warga memanjatkan doa bersama pada tradisi sadranan di kompleks permakaman Gunung Kalong, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jateng, Jumat (6/10/2017). (JIBI/Solopos/Antara/Aji Styawan)

Solopos.com, BOYOLALI – Pelaksanaan sadranan yang rutin digelar setiap tahun di wilayah Cepogo, Boyolali, akan berbeda di tahun ini. Berkaitan dengan antisipasi persebaran virus corona, Grebeg Nyadran dan open house sadranan akan ditiadakan.

Camat Cepogo, Tubinu, mengatakan pada Sabtu (21/3/2020), pihaknya telah berkoordinasi dengan tokoh masyarakat dan kepala desa di semua desa di wilayah Cepogo. Hasilnya, disepakati untuk kegiatan Grebeg Nyadran tahun ini ditiadakan.

“Grebeg Nyadran awalnya direncanakan 4 April. Tapi karena kondisi seperti ini, kami tidak berani,” kata dia kepada Solopos.com, Sabtu (21/3/2020).

Ingin Bantu Tugimin, Korban Kecelakaan Berkostum Persis Solo? Begini Caranya

Dia mengatakan pada Sabtu, pihaknya bersama TNI Polri dan Puskesmas telah mendatangi masing-masing desa. Hasil dari komunikasi tersebut, pemerintah desa dan tokoh masyarakat di 15 desa sepakat untuk meniadakan Grebeg Nyadran.

Sementara itu, Kepala Desa Genting yang juga ketua Paguyuban Kepala Desa Kecamatan Cepogo, Komedi, mengatakan sebenarnya kegiatan sadranan di Cepogo Boyolali ada dua macam. Pertama adalah Grebeg Nyadran yang dilakukan di tingkat kecamatan dan sadranan di tingkat desa atau ruwahan.

Wabah Corona, Satpol PP Karanganyar Bagi-Bagi Jamu Jokowi

“Kemarin dalam menyikapi Surat Edaran Bupati Boyolali tentang pencegahan persebaran virus corona, yang pertama untuk Grebek Nyadran dihilangkan dulu, sebab dimungkinkan banyak pengunjung dari berbagai daerah yang hadir. Rencana awal, kegiatan itu dilakukan tanggal 4 April. Tapi sudah disepakati bersama untuk ditiadakan,” kata dia kepada Solopos.com, Sabtu.

Kemudian di masing-masing desa juga menindaklanjuti Surat Edaran Bupati tersebut. “Ini sudah dimusyawarahkan di masing-masing desa, ada RT, RW, DPD dan tokoh masyarakat. Intinya untuk menjaga kesehatan masyarakat jangan sampai terjadi yang tidak dihadapkan,” lanjut dia.

Cek Fakta: Heboh Berita Warga Jl. Panda Sukoharjo Meninggal Karena Corona Dipastikan Hoaks

Cuma di Makam

Menurutnya beberapa desa sudah memutuskan bahwa sadranan hanya diadakan di makam. Untuk kegiatannya hanya berdoa di makam, kemudian pulang. “Tidak open house seperti tahun-tahun yang dulu. Itu untuk membatasi kontak langsung antar orang. Sebab yang bawa virus itu siapa kan juga tidak tahu,” jelasnya.

“Tujuh desa sudah melakukan rapat. Sudah ada tujuh desa yang memberitahukan soal keputisan itu. Di antaranya Desa Genting, Cepogo, Mliwis, Sukabumi, Sumbung, Jelok dan Gubug,” imbuh Komedi. Untuk sadranan di tingkat desa direncanakan dimulai pada 10 April 2020 nanti.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho