Suwarmin/Dokumen Solopos

Solopos.com, SOLO -- Politik itu cair. Seperti air, bisa menyusup ke mana saja, masuk ke mana saja. Bisa dingin, bahkan beku. Bisa hangat, bahkan panas bak bara api.

Siapa sangka Prabowo Subianto yang April lalu menjadi seteru politik Joko Widodo, kini duduk sebarisan dengan Pak Presiden asal Solo itu. Ini bukan prank. Ini asli, bukan guyonan. Memang aneh bin ajaib. Ini nyata.

Guyonan santri pada salah satu kunjungan Joko Widodo pada masa jabatan presiden periode pertama, yang menyebut salah satu menteri adalah Prabowo kini menjadi benar adanya.

Rasanya memang aneh sekarang mereka duduk sebarisan. Prabowo menjadi pembantu Joko Widodo. Tentu masuknya Prabowo ke dalam kabinet Joko Widodo memunculkan beberapa kemungkinan baru sekaligus peta politik baru.

Ketua Umum DPP DPIP Megawati Soekarnoputri lebih suka bersekutu dengan Prabowo (dan Partai Gerindra) daripada dengan Susilo Bambang Yudhoyono (dan Partai Demokrat). Bisa jadi keakraban Megawati dengan Prabowo merupakan jalan alternatif bagi peta politik pada 2024 mendatang. Politik itu cair, segalanya serbamungkin.

Pemilihan presiden lima tahun mendatang harus dimulai sekarang kalau tidak mau kehilangan momentum. Megawati, juga Prabowo, berada di titik persimpangan yang menentukan itu. Mereka mau berlanjut di kontestasi elite atau menarik diri ke belakang panggung.

Sudah ada barisan calon pemimpin nasional yang menunggu momentum. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan, atau Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Bisa saja nanti tiba-tiba muncul nama-nama baru.

Cara Pandang Baru

AHY sekarang harus pintar-pintar membangun panggung sendiri jika tidak ingin tersingkir dari zona ingatan masyarakat. Dulu orang menduga AHY akan mendapat tempat di kabinet Joko Widodo. Nyatanya malah Prabowo yang masuk kabinet.

Begitu juga dengan Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Joko Widodo. Ada yang menyayangkan keinginan Gibran maju dalam pemilihan wali Kota Solo. Gibran dianggap pakai aji mumpung. Mumpung ayahandanya masih menjabat sebagai presiden, dia hendak mengambil boarding pass kursi wali Kota Solo, nunggak semi ayahnya yang dulu memulai karier politik dari jabatan wali Kota Solo.

Ada yang menuduh Gibran serakah. Joko Widodo dan Gibran menjalankan politik dinasti. Seolah-olah tanah dan wilayah ini seperti barang warisan. Ada yang bilang, sebaiknya Gibran menunda keinginan untuk menjadi wali kota. Menunggu sampai bapaknya lengser dari kursi kepresidenan.

Ada pula yang mendukung Gibran. Ia dianggap layak diusung sebagai calon wali kota. Visi sebagai pengusaha muda, keberanian dalam membangun usaha, dan keseriusan layak mendapat kesempatan untuk menjadi ”manajer” Kota Solo. Bukankah saat ini diperlukan cara pandang baru dalam mengelola sebuah kota?

Dunia berubah sangat cepat. Teknologi menggelindingkan dunia ke dalam putaran yang jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan. Bukan hanya dunia bisnis yang dilanda disrupsi, dunai pemerintahan pun terdisrupsi.

Cara mengelola kota dan negara menghadapi perubahan besar. Diperlukan pemimpin muda yang visioner. Dalam hegemoni politik lokal di Solo saat ini, sosok muda yang mungkin diusung adalah Gibran. Begitulah logika politik yang sedang bergulir di forum-forum perbincangan. Masih banyak lagi alasan pembenar lainnya.

Politik memang cair. Kita bisa membahas satu titik isu dari segala macam perspektif. Baik atau buruk. Benar atau salah. Tergantung dari mana kita melihatnya. Kembali ke soal Prabowo sebagai figur paling dramatis di dunia politik tahun ini: Prabowo bisa dianggap cerdas dengan menumpang kapal Joko Widodo karena akan lebih mudah mengintip peluang pada 2024.

Prabowo bisa dianggap tidak tahu diri karena tiba-tiba menduduki jabatan menteri tanpa meneteskan keringat sama sekali. Ada pula yang berpendapat Prabowo berjiwa negarawan karena meski kalah kontestasi pemilihan presiden bersedia mendarmabaktikan tenaga dan keahlian untuk membangun negara dalam jabatan Menteri Perhananan.

Momentum

Ada pula yang mengatakan Prabowo tak tahu malu karena menjadi bawahan orang yang dulu sering dikritik habis-habisan oleh dirinya dan pendukungnya. Begitulah politik, setiap orang boleh punya pendapatnya masing-masing.

Mungkin Prabowo dan Gibran dipertemukan dalam satu perspektif: momentum. Inilah momentum Prabowo agar tidak terlalu lama menekuri kekalahan dan bersiap di panggung politik untuk berhadapan dengan ekspektasi masyarakat. Kalau tidak sekarang kapan lagi. Toh dia disodori karpet merah.

”Daripada diambil Cikeas, mending Hambalang saja yang ambil. Toh pihak Hambalang yang seolah-olah mendapat penawaran,” begitu kata seorang pengamat politik mencoba menerka jalan pikiran Prabowo. Cikeas adalah daerah kediaman SBY, sementara Hambalang adalah ”istana” Prabowo.

Ada pula yang mengatakan karena Prabowo merasa ditinggalkan para sekutu dekatnya, begitu ada gelagat dia benar-benar kehilangan kesempatan menjadi presiden maka Prabowo yang duluan merapat ke istana. Bisa jadi rumor ini sedikit banyak ada benarnya.

Gibran pun demikian. Inilah momentum. Jika dia maju sebagai calon wali Kota Solo pada 2024, situasinya pasti jauh berbeda. Ayahnya tidak lagi menjabat. Dukungan politik dan ambience-nya berbeda. Seperti AHY yang keteteran di pemilihan gubernur DKI Jakarta.

Barangkali situasinya akan berbeda jika saat itu SBY masih menjabat sebagai presiden. Toh, soal baik  atau buruk tergantung dari mana orang melihatnya. Begitulah. Dalam politik benar atau salah adalah relatif, walaupun kata orang bijak kebenaran selalu hakiki. Yang benar adalah benar, yang salah adalah salah.

Konon jabatan bukan sekadar kursi. Ada ungkapan dalam kebudayaan Jawa bahwa  jabatan atau kalungguhan ora bisa diangsa atau jabatan tidak bisa dipaksakan. Jika memang menjadi jatah seseorang, jabatan itu akan ”pulang” ke pemiliknya. Marilah kita nikmati permainan ini dengan tenang….


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten