Anjay dan Netralitas Kata
Rini Yustiningsih (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Pada 19 Agustus 2020 saluran Youtube Lutfi Agizal yang memiliki 3.370 pengikut mengunggah video berjudul Ngomong Anj*y Bisa Merusak Moral Bangsa!!! #edukasiLihatAjaDulu #StopAnj*y Part 1.  Video tersebut hingga Selasa (1/9) disaksikan 698.705 kali oleh pemirsa.

Itu adalah seri pertama dari lima  seri video ”edukasi” anjay yang rencananya diunggah Lutfi. Dua video yang sudah tayang. Seri 1, anjay dalam sudut pandang ahli bahasa Tommi Yuniawaan. Seri 2, anjay menurut psikolog Aullya Grashinta (tayang 26 Agustus 2020).

Tiga seri yang lain, yakni anjay dari sudut pandang pengacara, ustaz,  dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM). Tiga seri lain urung diunggah Lutfi karena muncul kontroversi dan anjay kian viral.

Pada Senin (31/8), lewat akun Youtube, Lutfi mengunggah video mengakhiri kotroversi anjay berjudul Akhir Kontroversi Anj*y Bahasa Menunjukkan Bangsa. Dalam video terakhir itu Lutfi meminta maaf karena konten Youtube dia telah membuat gaduh.

Edukasi anjay yang dikemas Lutfi dilatarbelakangi keprihatinan atas makin banyaknya penggunaan kata anjay. Anjay merupakan pelesetan kata umpatan ”anjing”. Menurut Lutfi, anjay tak patut diucapkan karena bisa menjadi kebiasaan dan merusak generasi bangsa.

Lutfi pernah mengirim surat ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengadukan pemakaian kata anjay.  Kontroversi makin riuh ketika anggota Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) nimbrung bicara soal anjay.

Ketua Komnas PA, Arist Merdeka, Sabtu (30/8), mengirim rilis yang isinya menyerukan penghentian pemakaian kata anjay. Kata pelesetan ini bahkan bisa berpotensi pidana jika konteksnya untuk merisak, merundung, atau bullying secara verbal kepada seseorang.

Konteks pernyataan Ketua Komnas PA ini ditafsirkan lepas dari konteks oleh masyarakat (baca warganet). Mereka berpersepsi penggunaan anjay secara umum berpotensi pidana. Broadcast di grup Whatsapp, unggahan di Facebook, unggahan di Instagram, hingga meme lebih banyak menyebut ”anjay bisa dipenjara” daripada menjelaskan konteks perundungan menggunakan kata anjay.

Cukup banyak nyinyiran warganet yang salah alamat dengan menganggap kesimpulan ”anjay berpotensi pidana” merupakan pernyataan KPAI, padahal pernyataan itu dari Komnas PA. KPAI dan Komnas PA merupakan dua institusi yang berbeda.

Maklumlah beberapa waktu terakhir KPAI yang merupakan lembaga negara ini tak lepas dari kritik karena pernyataan anggota lembaga itu yang menyebut berenang di kolam renang yang berisi laki-laki dan perempuan dewasa bisa bikin hamil. Warganet yang tak membaca utuh berita langsung mengira kontroversi anjay buah dari pernyataan anggota KPAI lagi.

Bahasa Gaul

Terlepas dari kontroversi itu, anjay sebagai bahasa gaul memang tergolong unik. Anjay ini merupakan kata turunan dari kata-kata pelesetan sebelumnya. Anjay boleh dibilang generasi keempat setelah anjrot, jrit, anjir.

Sebelum anjay sudah ada kata sejenis yang merupakan pelesetan dari umpatan ”anjing” yakni kata jrit, anjir, anjrot, hingga jing. Tidak jelas siapa yang memopulerkan kali pertama kata-kata gaul itu. Apabila Anda mencari di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijamin tidak menemukan kata-kata unik itu.

Jauh sebelum anjay jadi kontroversi sebenarnya masyarakat sudah merasa lumrah dengan kata umpatan atau pisuhan. Setiap daerah punya kata-kata umpatan yang khas menggunakan bahasa daerah. Seiring waktu, bahasa gaul, bahasa alay, bahasa slang mengalami perubahan dan perkembangan seiring perkembangan teknologi komunikasi dan informasi.

Pada awal 2000-an para anak baru gede (ABG) jamak menggunakan bahasa gaul yang memadukan angka dan abjad untuk menulis kata tertentu. Teknologi yang digunakan adalah pesan singkat atau short message service (SMS).

Menulis kata “maaf” cukup ditulis ”5af”, ”siapa” ditulis ”514p4”, dan lainnya. Kemudian masuk era BlackBerry Messenger (BBM), sekitar tahun 2008/2009, dan muncul bahasa gaul BBM, seperti delcon untuk mengartikan delete contact (menghapus kontak), TC/test contact biasa digunakan untuk kali pertama mengirim pesan BBM, dan lainnya.

Pendek kata, teknologi yang ngehits digunakan saat itu punya andil besar dalam perubahan dan perkembangan bahasa gaul yang digunakan. Bahasa gaul atau bahasa slang itu awalnya dipakai sebagai bahasa atau kode rahasia yang hanya digunakan antaranggota kelompok atau komunitas tertentu.

Penggunaannya kemudian semakin meluas. Bahasa ini juga sebagai wujud eksistensi. Mereka yang menggunakan bahasa ini dinilai lebih gaul, lebih kekinian, dan mengikuti perkembangan zaman. Bagi mereka, bahasa gaul, bahasa slang, juga kerap dipakai untuk mengeksperesikan sesuatu yang menurut mereka tidak terdapat di bahasa formal (bahasa Indonesia yang baik dan benar).

Pencipta Kamus Gaul tahun 1999, Debby Sahertian, di media voi.id menyebut bahasa gaul merupakan bahasa alternatif atau bahasa informal. Bermula dari bahasa rahasia yang digunakan antaranggota kelompok lalu disukai masyarakat terutama kaum muda karena bahasa ini dianggap lebih bisa mencairkan suasana dalam pergaulan mereka.

Makna yang terkandung dalam bahasa gaul tidak hanya tunggal. Tergantung kepada siapa diucapkan, intonasi, dan ekspresi. Memang benar pernyataan pencinta bahasa Indonesa, Ivan Lanin, sebagaimana dimuat Solopos edisi Minggu  (30/8), bahwa pada hakikatnya semua kata itu netral karena kata hanya menggambarkan suatu konsep.

Persepsi manusial yang didasari lingkungan budaya membuat kata menjadi tidak netral. Dalam penggunaan kata anjay bisa bermakna pujian menggantikan kata ”wow” atau ”keren”. Bisa juga bermakna umpatan merendahkan martabat seseorang.

KBBI dalam perkembangannya tidak tabu mengakomodasi bahasa gaul. Sudah ada sedikitnya 12 kata yang diadopsi dari bahasa gaul, antara lain alay, lebay, kepo, jomlo, kepo, kece, kicep, bokek, bokep, nyokap, doi, songong, dan agan.

Jadi bukan tidak mungkin kata-kata seperti anjay beberapa tahun mendatang bisa jadi akan masuk dalam KBBI juga. Bukankah setiap kata itu pada hakikatnya bersifat menjelaskan sesuatu? Tentang makna sebuah kata kembali ke persepsi pengguna. Bahasa bersifat sangat dinamis  seiring dinamika masyarakat penggunanya.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom