Pramusaji menata makanan di angkringan Sopo Ngiro, Jl. Srigunting 3 No. 7, Giritirto, Wonogiri, Sukorejo, Giritirto, Wonogiri, Senin (28/1/2019). (Solopos-Cahyadi Kurniawan)

Solopos.com, WONOGIRI -- Merasa prihatin atas tingginya konsumsi plastik dalam bisnis makanan, sebuah angkringan di Wonogiri, Jawa Tengah, membuat gerakan unik. Angkringan itu menyediakan bonus satu gorengan atau satu bungkus rambak kepada pelanggannya yang tidak menggunakan sedotan untuk jenis minuman es atau dingin.

Angkringan itu bernama Sopo Ngiro yang  berada di tengah Kota Wonogiri, Jl. Srigunting 3 No. 7, Giritirto, Wonogiri, Sukorejo, Giritirto, Wonogiri. Solopos.com bertandang ke angkringan itu pada Senin (28/1/2019) siang.

Dari luar, angkringan itu tampak sepi. Masuk ke dalam, solopos.com disambut tiga gerobak berisi aneka kudapan mulai dari gorengan, nasi lengkap dengan sayur, hingga kerupuk. Tak jauh dari sana, ada kursi-kursi bergaya klasik dalam bangunan menyerupai joglo. Ada dua blok tempat makan disiapkan di sana baik berupa kursi maupun lesehan.

“Minumnya mau pakai sedotan atau tidak? Kalau tidak memakai sedotan, kami menyediakan bonus satu gorengan atau satu bungkus rambak gratis,” kata salah satu pramusaji seusai solopos.com menyerahkan jadah dalam piring seng untuk dibakar.

“Tanpa sedotan kalau gitu,” sahut solopos.com. Pramusaji itu lalu memberikan satu gorengan kepada solopos.com dengan piring berbeda. Solopos.com mendapatkan segelas es teh dalam wadah gelas seng warna hijau khas gelas lawas lengkap dengan tutup.

Salah satu pramusaji Angkringan Sopo Ngiro, Pradana Nur Hidayat, 21, menceritakan gerakan satu gorengan atau rambak jika pembeli tak memakai sedotan dimulai sekitar enam bulan lalu. Gerakan itu digagas oleh pemilik angkringan, dr. Dewi Nurfiasari. Konsepnya sederhana, angkringan hanya ingin mengurangi konsumsi plastik mulai dari segelas minuman.

“Penggunaan plastik ini kan cukup tinggi di Indonesia. Kami berusaha menguranginya dari sini sekaligus mengajak pembeli untuk ikut mengurangi pengguaan lewat sebuah sedotan. Meski hanya sedotan, kalau sehari ada 50 gelas, artinya ada 50 batang sedotan terbuang,” kata dia, saat berbincang dengan solopos.com di sela-sela kerjanya.

Tak hanya sedotan, bagi pembeli yang ingin membungkus makanan, angkringan menyediakan daun sebagai wadah. Khusus jenis sayuran—khususnya yang berkuah—pengelola meminta pembeli membawa wadah dari rumah.

Saat pergi berbelanja ke pasar, pengelola angkringan juga membawa tas khusus agar semua barang belanjaan tidak lagi diwadahi plastik. “Kami setiap hari berbelanja ke pasar. Sebab, semua makanan di sini rata-rata bikinan sendiri. Hanya beberapa saja yang titipan dari orang lain,” terang Pradana.

Menurut Pradana, gerakan itu mulai terasa menjadi kebiasaan pelanggannya. Setiap siang hingga sore, banyak pelajar di sekitar angkringan mampir ke kedai. Mereka memesan es teh tanpa sedotan. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan sebuah gorengan.

“Mungkin uang jajan pelajar enggak banyak. Tapi yang utama, mereka mulai memahami untuk mengurangi konsumsi sedotan mulai dari es teh yang diminumnya,” imbuh dia. 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten