Bara Yudhistira/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (18/6/2019). Esai ini karya Bara Yudhistira, dosen Ilmu dan Teknologi Pangan di Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah barayudhistira@staff.uns.ac.id.

Solopos.com, SOLO -- Warung angkringan merupakan istilah yang tidak asing kita dengar, khususnya di daerah Solo maupun Jogja, bahkan bisa jadi di antara kita merupakan konsumen setia angkringan.

Angkringan merupakan salah satu bentuk konsep penjualan makanan maupun minuman yang biasanya berupa warung bergerobak dengan tenda sederhana dan waktu oprasional sore hingga malam hari, bahkan sampai dini hari.

Konsep angkringan memiliki beberapa nama yang berbeda di setiap daerah. Di Jogja jamak disebut angkringan, kucingan kita kenal di Kota Semarang, dan di daerah Soloraya dikenal dengan nama warung hik.  

Pada era kiwari, warung hik ditelaah lebih modern sebagai hidangan istimewa kampung atau HIK dan di Klaten disebut hidangan istimewa Klaten yang juga disebut HIK.

Terlepas penamaan yang berbeda, secara umum konsep angkringan mempunyai kesamaan. Persamaan konsep ini pada tempat dan hidangan atau menu yang disajikan. Warung angkringan biasanya berupa gerobak yang dimodifikasi dengan tenda.

Gerobak tersebut sebagai tempat display, untuk menyajikan makanan dan minuman, sehingga konsumen dapat mengambil langsung, bahkan gerobak tersebut sekaligus digunakan sebagai meja untuk konsumen menikmati makanan atau minuman.

Suasana Santai

Dalam bahasa Jawa ”angkring” berarti duduk santai dengan melipat satu kaki di kursi. Warung angkringan identik dengan kesan santai. Warung angkringan mempunyai ciri khas pada gerobak yang digunakan.

Pada bagian kanan atau sebelah gerobak biasanya terdapat kompor arang (anglo) untuk memanaskan air dengan tiga cerek besar. Cerek ini berisi air panas, wedang jahe, dan wedang teh.

Menu yang dijual pada umumnya nasi kucing (sega kucing), gorengan, sundukan berupa satai telur puyuh, satai usus, satai jamur serta aneka gorengan, tahu dan tempe bacem, serta makanan tradisional lainnya.

Minuman yang disediakan berupa wedang jahe, teh, susu jahe, es teh, es jeruk, kopi, dan lain sebagainya. Penjualan kuliner dengan konsep angkringan pada saat ini diterima oleh masyarakat, hal ini ditandai menjamurnya warung angkringan di banyak daerah.

Hal ini tidak terlepas dengan aspek kemudah akses dan harga makanan serta minuiman yang dijajakan serta aspek kepraktisan warung angkringan. Kemudahan akses merupakan salah satu alasan kenapa warung angkringan diminati masyarakat.

Warung angkringan dapat dijumpai hampir di setiap tempat, khususnya di Kota Solo. Waktu operasional yang panjang dari sore sampai malam bahkan menjelang dini hari menjadikan warung angkringan sebagai alternatif pilihan tempat makan pada saat tempat makan lain sudah tutup.

Suasana yang santai memberikan sensasi tersendiri bagi konsumen sehingga betah berlama-lama. Aspek yang tidak kalah penting bagi konsumen memilih warung angkringan yaitu terkait harga makanan yang cukup murah.

Daya Tarik Paling Kuat

Harga murah ini menjadi daya tarik yang cukup kuat yang ditawarkan warung angkringan sehingga tidak salah warung angkringan memiliki keunikan sebagai tempat romantisme bagi wong cilik. Warung angkringan dapat menjadi tempat hiburan malam hari serta tempat bercengkrama warga kelas menengah ke bawah.

Aspek kepraktisan membuat konsumen dapat langsung mengambil menu yang disajikan. Menu yang disajikan pada umumnya dihidangkan dalam waktu yang relatif singkat karena semua makanan dan minuman telah tersedia dalam keadaan matang dan dengan menu yang relatif sederhana pula.

Konsep inilah yang sesuai dengan konsep restoran fast food. Dapat dikatakan warung angkringan merupakan fast food asli Indonesia karena sejarah eksistensi maupun menu yang dihidangkan merupakan asli Indonesia.

Sejarah kemunculan angkringan sendiri di Jogja. Mbah Pairo yang merupakan warga Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, adalah salah sseorang pionir penjual makanan dan minuman pada 1950-an. Pada awalnya makanan dan minuman dijual dengan cara dipikul dan memangkal di suatu tempat.

Hal demikian ini dilakukan oleh banyak orang Cawas pada musim kemarau. Pada musim ini mereka tidak dapat bercocok tanam. Demi  menyambung hidup mereka berjualan angkringan di Jogja sembari menunggu masa tanam tiba.

Ketika tanam tiba, mereka akan kembali ke sawah dan meliburkan warung angkringan. Pada masa tersebut, para penjual angkringan dikenal dengan sebutan thing-thing hik (baca: hek) karena penjualnya berteriak ”hiiik…iyeek” ketika berjualan untuk menarik perhatian warga.

Peningkatan Kualitas

Dengan sejarah panjang dan citra angkringan yang semakin populer tentu harus menjadi perhatian kita semua. Hal ini tidak lepas dari semakin berkembangnya dunia kuliner. Pada saat ini kuliner telah menjadi daya tarik sendiri dalam bidang pariwisata.

Para wisatawan yang berkunjung di suatu daerah selain menikmati tempat wisata mereka akan berusaha menikmati kuliner yang khas dari daerah tersebut, kita kenal sebagai wisata kuliner. Melihat potensi kuliner yang menjanjikan tersebut perlu upaya untuk meningkatkan kualitas angkringan di Kota Solo.

Upaya tersebut dapat dilakukan dengan beberapa oleh Pemerintah Kota Solo maupun para penjual angkringan. Pertama, yaitu terkait dengan aspek kebersihan atau higienis. Kebersihan perlu ditingkatkan mengingat sebagian besar warung angkringan tersebar di beberapa daerah dengan fasilitas sanitasi yang kurang baik.

Pada umumnya warung angkringan berlokasi di pinggir jalan dengan fasilitas seadanya, kondisi kebersihan seadanya, seperti tempat mencuci peralatan yang hanya berupa ember dengan air yang tidak mengalir dan lain sebagainya.

Pemerintah Kota Solo dapat memberikan fasilitas yang memadai terkait hal tersebut. Kedua, terkait aspek kerapian dan ketertiban, meskipun angkringan beroperasi pada sore sampai malam hari. Aspek tersebut perlu diperhatikan untuk mendapatkan suasana yang rapi dan tertib.

Pada umumnya warung angkringan berlokasi di tepi jalan umum atau di trotoar jalan. Perlu diperhatikan tampilan tempat agar tetap rapi sehingga tidak merusak pemandangan kota. Tidak sedikit warung angkringan dengan penampilan seadanya sehingga terkesan kumuh.

Beberapa warung angkringan biasanya berlokasi di tempat ramai sehingga perlu menjaga ketertiban untuk menciptakan kenyamanan bagi konsumen maupun masyarakat umum. Ketiga, perlu kerja sama yang baik antara Pemerintah Kota Solo dengan para penjual angkringan.

Kerja sama ini untuk memberikan layanan terbaik bagi konsumen mengingat warung angkringan merupakan salah satu daya tarik Kota Solo yang tentu dapat meningkatkan perekonomian dan pariwisata Kota Solo.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten