Awan panas meluncur dari puncak Gunung Merapi, Senin (14/10/2019) sore. (Istimewa/BPPTKG)

Solopos.com, JOGJA -- Angin kencang yang melanda kawasan Gunung Merapi sejak Minggu (20/10/2019) malam memiliki mencapai 80 km/jam. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menduga kondisi Merapi saat ini ikut memicu terjadinya angin kencang di lereng Merapi.

Sejumlah bangunan dilaporkan mengalami kerusakan akibat peristiwa tersebut. Kepala Unit Analisa dan Prakiraan Cuaca BMKG Stasiun Klimatologi Jogja, Sigit Hadi Prakosa, mengatakan angin kencang melanda di Kawasan Merapi baik di Kabupaten Magelang, Boyolali, maupun Sleman pada Minggu hingga Senin (21/10/2019).

Angin yang terjadi, kata Sigit, bersifat sangat lokal. Hal ini selain mengacu kepada konsentrasi wilayah kerusakan, kecepatan anginnya pun berbeda dengan dataran rendah lainnya. Kecepatan angin di lereng Merapi, katanya, mencapai 80 km/jam (skala fujita) sedangkan pengukuran di Stasiun Klimatologi Mlati Jogja hanya 16 km/jam.

"Kejadian di lereng Merapi di mana angin berhembus cukup kencang secara lokal. Angin berhembus lebih kencang di malam hari," katanya saat dihubungi Harian Jogja, Senin (21/10/2019).

Erupsi

Sigit menjelaskan, ada dugaan peningkatan aktivitas Merapi memicu angin kencang ini. Peningkatan aktivitas Merapi berupa awan panas pada 14 Oktober lalu diikuti guguran lava pada 15 Oktober 2019 menyebabkan peningkatan suhu permukaan puncak Merapi. Akibatnya tekanan udara menjadi rendah.

"Dalam skala tertentu, tekanan udara permukaan berbanding terbalik dengan suhu udara permukaan. Suhu yang lebih panas akibat erupsi Merapi dan guguran lava yang terjadi dalam waktu yang cukup lama, kata Sigit, akan menurunkan tekanan udara permukaan sehingga udara mengalir ke wilayah dengan suhu lebih panas tersebut.

"Kejadian hujan intensitas sedang-lebat disertai angin kencang pada Minggu malam 20 Oktober 2019 dipicu oleh anomali aliran angin lembah [angin mengalir dari lembah ke arah gunung] yang membawa udara dingin dan lembab sehingga terjadi kondensasi dan terbentuk awan Cumulonimbus (Cb) di lereng pegunungan," paparnya.

Video Angin Kencang Sapu Kawasan Merapi & Merbabu, Bangunan pun Roboh

Angin lembah, lanjut Sigit, biasanya terjadi pada siang hari saat bagian dataran mendapat pemanasan matahari yang cukup. Kondisi berbeda terjadi di pegunungan di mana secara umum puncak gunung suhu udara permukaan biasanya lebih dingin di bandingkan daerah di lereng. "Dampaknya, sirkulasi udara lokal cenderung bergerak turun [angin gunung]," katanya.

Saat kondisi di bagian atas gunung lebih panas, maka sirkulasi lokal itu dapat berbalik sehingga menyebabkan angin lembah (dari atas ke bawah) menjadi lebih kuat dari biasanya. Pada topografi tertentu, dipengaruhi bentuk lereng dan permukaan pegunungan, angin lembah dapat membentuk pusaran-pusaran angin pada area dan skala yang lebih kecil.

"Kondisi ini seperti yang terjadi di Kecamatan Selo Boyolali pada Senin [21/10/2019] pagi," katanya.

Laporan BPBD Magelang menyebutkan angin kencang disertai hujan berskala sedang hingga lebat melanda Gunung Merapi terjadi Minggu malam pukul 19.30 WIB. Angin melanda Pakis, Sawangan, Ngablak, dan Kajoran, Kabupaten Magelang. Dampaknya, sejumlah atap rumah berterbangan dan pohon tumbang.

BPPTKG: Letusan Awan Panas Lebih Besar, Merapi Masih Hidup

Angin kencang terjadi lagi pada Senin pukul 10.00 WIB di Kecamatan Selo, Boyolali; Kecamatan Dukun, Magelang; dan di lereng sebelah barat daya dan tenggara Merapi. Kondisi ini menyebabkan debu tebal yang menutupi pandangan mata.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten