Rumpun bambu tumbang di jalur jalan penghubung Ngablak-Magelang akibat angin kencang di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (20/10/2019) sore. (Antara-Istimewa)

Solopos.com, SEMARANG — Sejumlah wilayah di Jawa Tengah (Jateng) beberapa hari terakhir dilanda angin kencang. Bencana angin kencang itu bahkan sempat memporakporandakan sejumlah rumah di Kabupaten Karanganyar dan Boyolali, Minggu-Senin (19-20/10/2019).

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ahmad Yani Semarang, Achadi Subarkah Raharjo, mengaku ada beberapa faktor yang menyebabkan fenomena alam berupa angin kencang di Jateng.

“Dari tinjauan meteorologis, secara umum angin di Indonesia saat ini didominasi dari arah timur sampai tenggara. Hal ini dikarenakan di Benua Australia memiliki tekanan udara yang lebih tinggi daripada daerah di belahan bumi utara. Munculnya tekanan rendah ini memicu angina timur pada lapisan atas bergerak lebih kencang dibanding hari-hari sebelumnya,” jelas Achadi dalam keterangan resmi.

Achadi menambahkan berdasarkan pengamatan udara atas pada lapisan 5.000 kaki atau 1.500 meter yang dilakukan beberapa stasiun meteorologi di Jateng menyebutkan jika kecepatan angina di sejumlah daerah mengalami peningkatan yang cukup tajam.

Stasiun Meteorologi Semarang mencatat kecepatan angin mencapai 74 km per jam. Sementara Stasiun Meteorologi Tegal mencatat kecepatan angin 63 km per jam, dan Stasiun Meteorologi Cilacap mencatat 45 km per jam.

“Dengan kecepatan seperti ini, angin dapat menerbangkan material ringan apabila melintasi daerah berpasir atau tanah kering,” imbuh Achadi.

Selain faktor angin dari Benua Australia, fenomena angin kencang di sejumlah daerah di Jateng juga dipengaruhi pergerakan matahari ke arah selatan wilayah Jawa. Pergerakan itu pun memberikan perubahan pada suhu udara dan kerapatan udara rendah.

“Sedangkan faktor non meteorologisnya, yaitu adanya kebakaran lahan di daerah pegunungan,” ujarnya.

Dari beberapa faktor itu, BMKG Ahmad Yani Semarang pun menilai faktor cuaca local memainkan peranan signifikan sebagai respons atas peningkatan kecepatan angin di lapisan atas. Pada lokasi tertentu di pegunungan, angina troposfer bawah yang kuat bisa menguatkan respons sirkulasi lokal berupa angin lembah dan angina gunung.

“Sehingga, masyarakat yang berada di daerah pegunungan beberapa hari ini merasakan terjadinya angin kencang dengan membawa material debu atau asap kebakaran lahan,” ujar Achadi.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten