ANGIN KENCANG BOYOLALI : Puting Beliung Sapu Banyudono, 6 Rumah Rusak

Bencana Boyolali, puting beliung melanda kawasan Banyudono dan merusak sekitar 6 rumah.

Solopos.com, BOYOLALI -- Setelah memorak-porandakan puluhan rumah di Dukuh Ngawen, Banyusri, Wonosegoro, puting beliung kembali melanda Desa Kuwiran, Banyudono, Selasa (20/12/2016) malam. Sedikitnya enam rumah rusak pada bagian atap karena genting beterbangan.

Beberapa pohon juga tumbang. Kepala Desa Kuwiran, Herie Sarwo Edie, menyampaikan puting beliung melanda beberapa dukuh di antaranya Dukuh Citran, Dukuh Jajar, dan Dukuh Beran Kulon. “Hanya kerusakan ringan, sedikit genting rumah warga runtuh dan beberapa pohon tumbang,” kata Herie kepada Solopos.com, Rabu (21/12/2016).

Dampak kerusakan akibat puting beliung juga langsung bisa diatasi. Selain di wilayah Banyudono, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga meminta masyarakat di lereng Merapi dan Merbabu seperti Musuk, Selo, dan Cepogo, bahkan di wilayah Boyolali Kota, waspada bencana angin kencang.

“Banyak laporan dari warga adanya angin kencang disertai hujan deras di wilayah tersebut. Semoga semua aman terkendali,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Boyolali, Purwanto.

Dalam Rapat Koordinasi Siaga Darurat Bencana Angin Kencang, Tanah Longsor, dan Banjir di BPBD Boyolali,  pagi tadi, disebutkan berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) curah hujan tinggi disertai puting beliung masih berpotensi terjadi hingga Februari 2017. “Puncak hujan masih akan terjadi sampai Februari,” ujar dia.

Selain puting beliung, warga juga diminta waspadai longsor. “Sekarang tanah-tanah kedap di lereng gunung mulai penuh air. Jika terjadi hujan dengan intensitas waktu yang cukup lama, kami minta warga ekstra hati-hati.”
Kawasan lereng Merapi-Merbabu masuk kategori rawan longsor karena tebing-tebingnya banyak mengandung batu dan pasir. Di satu sisi, banyak rumah warga di pinggiran tebing. BPBD meminta seluruh kecamatan mengaktifkan posko bencana dan memublikasikan nomor seluler posko bencana di tiap kecamatan hingga posko induk BPBD Boyolali.

“Jadi di masing-masing kecamatan sudah ada posko lapangan yang setiap waktu ada tiga orang petugas piket,” ujar Purwanto.

Tanggung jawab petugas posko lapangan adalah berkoordinasi dengan desa-desa terutama yang rawan bencana. Bila ada kejadian, petugas segera menginput data, merekap jumlah kerusakan dan  korban sekaligus mengklasifikasi kategori kerusakan.

Mereka juga harus melaporkan setiap kejadian bencana kepada Bupati melalui pemerintah kecamatan masing-masing dengan tembusan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), Bagian Kesra, atau kepada Dinas Pekerjaan Umum dan ESDM jika terjadi kerusakan infrastruktur seperti jalan dan jembatan.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya


Kolom